drh. Chaidir, MM | PETUAH RAMADAN | 

Saatnya Dialog Batin
Oleh drh Chaidir
 
SEMUA hari dan bulan hakikatnya baik, karena semua hari dan bulan itu memberikan rezeki kehidupan bagi manusia, sekurang-kurangnya menghirup oksigen yang ada di udara. Tapi ada satu bulan dalam satu tahun mendapat predikat sebagai bulan istimewa, yakni
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

PETUAH RAMADAN

Oleh : drh.chaidir, MM



Saatnya Dialog Batin
Oleh drh Chaidir

SEMUA hari dan bulan hakikatnya baik, karena semua hari dan bulan itu memberikan rezeki kehidupan bagi manusia, sekurang-kurangnya menghirup oksigen yang ada di udara. Tapi ada satu bulan dalam satu tahun mendapat predikat sebagai bulan istimewa, yakni bulan Ramadan dalam kalender kamariyah. Otomatis, hari-hari selama bulan Ramadan itu pun menjadi hari-hari istimewa. Disebut istimewa karena banyak sekali keistimewaannya.

Keistimewaan itu, antara lain, yang secara kasatmata bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, muslim atau non muslim, adalah banyaknya orang-orang berjualan tajil dan kue-mue (kata teman saya dari Papua yang sedang berlibur di Jakarta, kue-mue itu hanya satu yang enak, yang lainnya enak sekali). Banyak juga dermawan menyediakan makanan gratis di tempat-tempat umum yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Hal-hal seperti ini tidak ditemukan di luar bulan Ramadan.

Yang juga terlihat istimewa, masjid-mesjid pada malam hari penuh sesak orang-orang yang menunaikan sholat tarawih; demikian istimewanya, mesjid raya di Pekanbaru sampai mendatangkan imam besar dari Madinah Arab Saudi untuk memimpin sholat tarawih tersebut. Orang-orang pun umumnya tampil dengan menggunakan kain sarung, baju koko, kopiah, dan mukena terbaik. Semua ingin tampil istimewa lebih dari hari-hari biasanya.

Dalam perilaku sehari-hari misalnya, seseorang yang biasanya suka bicara nyablak (bermulut ember alias mulut tak pernah sekolah), pada bulan Ramadan agak membatasi obrolan. Sopan santun dalam pergaulan lebih dijaga. Semua ingin tampil dan berkomunikasi secara lebih baik. Organ tangan yang biasanya rajin pegang, colek dan jamah sana-sini, di bulan Ramadan lebih aman terkendali. Mata pun yang suka nakal memandang lekat-lekat lawan jenis yang diciptakan penuh keindahan oleh Sang Khalik (sering membuat gagal fokus), bulan ini penglihatan itu cepat-cepat dialihkan ke objek lain. Kalau ada yang berjual kacamata kuda bendi untuk kaum laki-laki, tentu kacamata kuda bendi tersebut laris manis.

Media sosial yang pada hari-hari di luar Ramadan dipenuhi berita-berita hoax, fitnah, dan foto-foto seronok (pornografi dan pornoaksi), pada bulan Ramadan jauh berkurang, bahkan terkesan, semua netizen menahan diri, malu pada teman dan malu pada diri sendiri. Yang menonjol justru, semua terkesan ingin tampil bak seorang ustad, sehingga rajin sekali nge-share (menyebarkan) tausyiah agama. Bahkan kadang-kadang tanpa disadari mem-broadcase kegiatan-kegiatan sholat malam atau kegiatan tadarusnya (maafkan hamba). Menurut ustad Abdul Somad, bila ada terselip kesan pamer, maka nilai ibadahnya hangus.

Dalam kegiatan sehari-hari juga, orang-orang terlihat menjadi lebih atraktif dalam berbuat kebajikan, lebih pemurah, lebih peramah, lebih suka memberi sedekah, lebih rajin menyapa sanak famili dan saudara-saudara. Hampir semua masjid pun, tak seperti hari-hari biasa, di bulan ini umumnya menyelenggarakan kegiatan dari hati ke hati.

Dan, last but not least, pada bulan ini para petinggi negeri turun dari singgasana melakukan kegiatan safari Ramadan berkeliling dari satu masjid ke masjid lainnya dari satu kampung ke kampung dari desa ke desa. Safari Ramadan ini, dulu dipopulerkan oleh Menteri Penerangan yang sangat terkenal di era Orde Baru, yakni Harmoko. Anehnya petinggi di era reformasi tidak merasa alergi untuk menirunya, padahal produk Orde Baru lain yang juga bagus seperti penataran P-4, ogah ditiru oleh petinggi sekarang.

Kenapa safari Ramadan ditiru? Alasannya sederhana, karena safari Ramadan itu baik. Para petinggi negeri bisa membangun hubungan silaturahmi dengan masyarakat, berkesempatan pidato dan meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafan. Kita maklum, bukankah kekuasaan itu sarat kepentingan? Para petinggi negeri pun memperoleh momentum untuk memberi bantuan, bagi-bagi bingkisan (baik yang bersifat kedinasan maupun yang bersifat pribadi), bahkan juga tertumpang muatan pencitraan. Tak masalah, semua bisa menerima dengan tangan terbuka.

Itu semua keistimewaan bulan Ramadan yang bersifat duniawi. Bukankah para dai kita saat-saat menjelang dan pada hari-hari pertama puasa selalu mengingatkan bahwa puasa Ramadan tidak hanya menahan haus dan lapar? Puasa Ramadan yang baik itu utuh menyeluruh, di samping tidak makan, minum dan berhubungan suami istri, juga harus diikuti dengan perbuatan, tindakan, tingkah laku, ucapan, bahkan juga pikiran dan perasaan, semuanya yang baik-baik, terpuji. Padahal kalau kita mau, semua dimensi tersebut bisa kita lakukan di ruang tertutup yang tidak terlihat umum. Tapi di situlah letak keistimewaan transendentalnya, puasa itu adalah sebuah kesadaran amaliyah "antara aku dan Engkau".

Keistimewaan transcendental lain (dan ini urusan ustad dan ustdzah), semua kebajikan tersebut diatas, mendapatkan pahala yang berlipat ganda; di bulan Ramadhanlah turunnya risalah AlQuran untuk pertama kalinya; dan di bulan Ramadan juga, ada satu malam "ekstrasupermegabonus", yang lebih baik dari seribu bulan. Tidak ada yang tahu persis kapan malam lailatulqadar itu terjadi, tapi pasti salah satu malam dalam bulan Ramadan. Ulama hanya mengindikasikan tanda-tanda, tapi tak sungguh-sungguh tahu kapan malam itu turun. Istimewanya, menurut ulama, amal dan kebajikan yang kita perbuat bertepatan di malam lailatulqadar tersebut, dalam logika matematika manusia, nilainya sama dengan 83 tahun. Wow..bahkan superwow..
Cukup? Belum. Ada satu kesempatan lain yang agaknya bukan termasuk amalan Ramadhan, tetapi bisa mempengaruhi amalan, yakni kesempatan emas untuk melakukan komunikasi intrapersonal, atau komunikasi dengan diri sendiri alias dialog batin. Sesungguhnya, dialog batin ini bisa kita lakukan kapan saja dan dimana saja, bahkan setiap hari atau setiap malam ketika kita sudah melaksanakan seluruh agenda kegiatan pada hari itu. Namun biasanya karena keletihan kita langsung istirahat, tak sempat lagi melakukan perenungan untuk menghitung baik-buruk aktivitas pada hari itu. Bayangkan bila berhari-hari atau berbulan-bulan kita tak pernah melakukan komunikasi intrapersonal, berdialog dengan hati nurani.

Hati nurani tak pernah bohong. Instrumen inilah yang selalu berbisik untuk mengatakan sesuatu yang benar atau salah, mengawal akal budi tuannya. Tapi tuannya sering mengingkari suara hatinya sehingga berlaku zalim terhadap dirinya sendiri, terhadap keluarganya dan terhadap orang lain.

Mumpung kita sedang bermesraan dengan bulan Ramadan, hari baik bulan baik, ketika hati sedang nyaman, mari kita lakukan dialog batin untuk mengevaluasi dan menghitung diri, apa yang sudah kita lakukan selama sebelas bulan sebelumnya. Yang baik kita tingkatkan dalam sebelas bulan ke depan yang tidak baik kita hilangkan sambil berharap umur panjang dan jumpa lagi dengan Ramadan tahun depan, dan kembali melakukan dialog batin.

Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


opini - Riau pos 13 Juni 2017
Tulisan ini sudah di baca 86 kali
sejak tanggal 13-06-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat