drh. Chaidir, MM | Apa Yang Kau Cari Pendaki | 

 Oleh Chaidir 
(Mantan Ketua DPRD Riau, Pendaki Gunung)
 
JUDUL itu agaknya klise, namun setiap kali para pendaki gunung menghadapi masalah yang mengancam jiwa dalam pendakian, setiap kali pula pertanyaan klasik itu hadir.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Apa Yang Kau Cari Pendaki

Oleh : drh.chaidir, MM



Oleh Chaidir
(Mantan Ketua DPRD Riau, Pendaki Gunung)

JUDUL itu agaknya klise, namun setiap kali para pendaki gunung menghadapi masalah yang mengancam jiwa dalam pendakian, setiap kali pula pertanyaan klasik itu hadir. "Apa yang kau cari pendaki?"

Dan, pertanyaan itu pulalah yang niscaya muncul ketika 16 orang pendaki gunung dari Riau sempat hilang di Gunung Marapi Sumatera Barat beberapa hari lalu. Alhamdulillah, semuanya ditemukan selamat kendati dalam kondisi lemah. Keluarga pendaki wajar khawatir, sebab bersamaan dengan pendakian tersebut, Gunung Marapi Sumatera Barat (salah satu gunung berapi aktif di dunia), puncaknya sedang aktif menyemburkan lahar yang tentu saja sangat membahayakan jiwa pendaki.

Kekhawatiran terhadap keselamatan jiwa itulah yang senantiasa merisaukan keluarga pendaki, apalagi bagi yang tak habis pikir, gagal paham, kenapa mesti memilih hobi yang mengandung risiko tinggi? Tidakkah ada hobi lain di kota yang aman-aman saja, seperti menghabiskan waktu dengan bermain game di warnet? Atau bermain di taman kota, atau ramai-ramai berolahraga dengan rekan sebaya di car free day, atau berbagai bentuk clubbing lain, apalah namanya?

Penuh Tantangan
Hobi mendaki gunung (mountaineering) adalah hobi yang menantang dan penuh risiko. Setiap pendaki gunung pasti menyadari tantangan itu dan bahaya yang mengancam jiwanya. seumpama tersesat, sakit, kehabisan makanan dan minuman, jatuh ke jurang, terperangkap gas beracun, diterkam binatang buas atau dipagut ular berbisa, perubahan cuaca mendadak, dan sebagainya; semua risiko tersebut pada kondisi ekstrim bisa merenggut jiwa.
Sebab gunung, alamnya memang sangat indah tapi penuh tantangan. Gunung memiliki tanjakan-tanjakan terjal, tebing-tebing curam, jurang, hutan lebat, gas beracun, awan panas, bebatuan yang sebagian diantaranya mudah menggelinding membahayakan pendaki, binatang buas dan ular berbisa. Bukan gunung kalau tak penuh tentangan. Bagi pendaki yang berpengalaman pun tantangan di gunung tetap memacu adrenalin. Agaknya tak berlebihan bila Dr. Akhmad Prabowo, pendiri Merbabu Mountineer Club Yogyakarta, sebuah klub pendaki gunung tertua di Yogyakarta (berdiri 1965), menyebut, bahwa mendaki gununglah yang menjadi ujian sesungguhnya apakah seseorang memiliki mental yang tahan uji atau tidak, apakah seseorang pemberani atau pengecut, mendaki gunung akan membina kepribadian.

Prabowo benar, seorang pendaki gunung memang harus memiliki kesiapan fisik dan mental. Seperti disebut Roby Kurniawan, Ketua Ketua Pendaki Gunung Indonesia Korwil Riau (Riau Pos 11/6/2017), setiap pendaki masing-masing harus membawa peralatan dan perlengkapan standard minimal. Tidak berlebihan tapi memadai untuk antisipasi segala kemungkinan. Idealnya seorang pendaki juga memahami serba sedikit pengetahuan tentang alam gunung dan lingkungannya, termasuk langkah-langkah pertolongan pertama pada kecelakaan.

Gunung adalah sebuah fenomena alam. Dalam diamnya yang membisu, gunung menyediakan panorama yang sangat indah untuk dikagumi, dinikmati, dan disyukuri oleh pendaki. Tapi gunung tak pernah bisa berbelas kasihan kepada para pendaki yang tinggi hati, egoistis, tidak jujur, dan karakter buruk lainnya. Dalam keletihan, kelaparan, kehausan, perasaan hampir putus asa menghadapi tanjakan, atau kerasnya tantangan alam seperti tak habis-habisnya, karakter asli seseorang biasanya menampakkan diri. Dalam kondisi seperi itu seseorang yang memiliki karakter buruk, akan segera kelihatan belangnya, dan ini akan menimbulkan masalah pada kelompok dan pada diri pendaki itu sendiri.

Dalam kondisi sulit, pendaki justru harus tak boleh berhenti memotivasi dirinya sendiri, bertahan hidup dan tetap melangkah. Seperti diibaratkan oleh pendaki Valentino Luis, mendaki gunung itu ibarat mengejar malaikat namun harus bertempur terlebih dulu dengan setan. Luis benar, pendaki gunung harus berjuang melawan kerasnya alam, rasa sakit sekujur tubuh dan harus melawan perasaan hampir-hampir putus asa. Tantangan alam harus dihadapi tanpa keluhan.

Akhirnya, tak ada kepuasan lain bagi seorang pendaki selain ketika sampai di puncak gunung di atas awan. Di puncak gunung seorang pendaki akan menyadari betapa hebat dan indah ciptaan Tuhan dan betapa dirinya hanya ibarat sebutir debu di atas batu. Pendaki tak ubahnya seperti seekor semut yang merayap lamban di tengah luasnya hutan belantara atau terjalnya lereng gunung. Pendaki hanya makhluk biasa yang tak berdaya jika berada di alam bebas, tidur di tanah, minum air mentah, berlindung dari dinginnya udara, diguyur hujan, diselimuti kabut.

Membangun Solidaritas
Gunung mempersatukan para pendaki. Komunitas pendaki tak mengenal SARA karena mereka datang dari berbagai suku bangsa dan agama. Mereka dipersatukan oleh hobi dan tantangan alam yang keras, yang menuntut kerjasama dan solidaritas. Di gunung para pendaki bersatu hati. Berhari-hari mereka bersama mendaki lereng yang terjal ke arah puncak yang sama, merangkak di tepi jurang yang sama, kelaparan bersama, kehausan bersama, letih bersama, bahkan menghadapi bahaya yang sama. Tidak ada seorang pendaki pun yang bersembunyi dari yang lain menikmati bekalnya sendiri, atau menyelamatkan diri sendiri. Tidak pernah ada tipu muslihat dalam pendakian. Semua berada dalam rasa persaudaraan senasib sepenanggungan. Para pendaki biasanya bergerak dalam sebuah tim, dan mereka terlatih untuk menjunjung tinggi integritas, rasa solidaritas, dan rasa setia kawan.

Kendati pendakian dalam sebuah tim, para pendaki masing-masing memiliki kesadaran mengatur sendiri kekuatan langkah menyesuaikan dengan beban di pundak, agar tak menimbulkan masalah bagi kelompok. Tidak seperti di kota, yang keberanian seseorang diuji oleh godaan dari luar atau keberanian menaklukkan kompetitor, di gunung pendaki diuji ketangguhannya untuk menaklukkan diri sendiri. Keberanian dan kemandirian pendaki diuji untuk sewaktu-waktu kemungkinan terpisah dari kelompok.

Dalam pendakian para pendaki memiliki banyak kesempatan melakukan komunikasi interpersonal dengan sesama tim dan juga melakukan komunikasi intrapersonal, berdialog dengan diri sendiri dalam keheningan suara alam, dalam langkah demi langkah terseok berat menujuk puncak bersama teman-teman sependakian; menghitung kekuatan dan kelemahan diri, bahkan menghitung dosa-dosa, sambil berharap keberuntungan.

Tidak ada yang bisa menduga kendala tantangan alam dalam sebuah pendakian. Ruang keberanian memang sudah given dalam diri seseorang, tapi bila tak terlatih diuji untuk kepentingan yang baik dia akan diisi untuk kepentingan buruk. Kekecewaan yang ditimbulkan oleh kehidupan kota yang tak lagi memiliki ruh, tidak ramah, sering dibuat kumuh oleh berbagai macam aksi begal kehidupan, akan terobati oleh sapaan angin gunung yang membelai penuh kelembutan, kesejukan dan kedamaian.

Mendaki gunung tak hanya cerita tentang solidaritas. Keindahan alam pegunungan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, akan membangkitkan pula rasa cinta Tanah Air para pemuda pendaki, rasa cinta yang tumbuh dalam jiwa tanpa melalui diseminasi di kelas atau di ruang-ruang seminar. Rasa cinta demikian adalah sesuatu yang, (jujur) sekarang banyak tergerus oleh pengaruh budaya hidup hedonisme yang terlalu menjunjung tinggi semangat kebendaan, kekuasaan, atau entitas simbolik lainnya.

Gunung Membentuk Kepribadian
Ketegangan menantang bahaya dan risiko dalam pendakian ternyata tak membuat jera pendaki. Semakin berat tantangan semakin pendakian itu dirindukan oleh para pendaki. Alam pegunungan yang memesona tak ubah ibarat bunga mawar yang indah dan harum, tapi untuk menggapainya, perlu kehati-hatian ekstra agar tak tertusuk duri. Gunung mengajarkan banyak hal kepada pendaki, kepuasan tak terkira yang diperoleh pendaki yang menyelimuti hati dan jiwa di puncak gunung, adalah kepuasan level tinggi yang membanggakan dan terhormat, yang hanya bisa dirasakan oleh pendaki gunung.

Namun untuk sampai kesana, tak ada upaya instan seperti burung elang yang dalam sekejap bisa mencapai puncak pohon dengan sekali terbang. Tak seperti elang, pendaki harus mencapainya dengan perjuangan berat, melelahkan dan berbahaya. Sebuah kerja keras langkah demi langkah, tak ada peluang spekulasi. Pikiran pun harus senantiasa jernih, fokus, pikiran-pikiran kotor harus dibuang jauh-jauh. Para pendaki mafhum untuk senantiasa menjaga etika, hati-hati dalam berkata-kata, dan rendah hati.

Dalam langkah demi langkah pendaki di keheningan dan kesunyian alam atau derunya angin, atau gemuruh badai, diam-diam pendaki menyadari keterbatasannya. Semakin tinggi pendakian, semakin dalam seorang pendaki melakukan perenungan. Perenungan itu menjadi modal seorang pendaki dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat kelak di kemudian hari. Komunikasi intrapersonal akan menempatkan seorang pendaki pada posisi mampu mengukur "bayang-bayang sepanjang badan" dan selalu mampu melakukan introspeksi.

Seorang pendaki sejati akan menyadari bahwa mendaki gunung itu bukan untuk menaklukkan alam, tapi sesungguhnya untuk menaklukkan diri sendiri, menaklukkan rasa takut, menaklukkan ego, membenamkan rasa putus asa, menguji komitmen, membangun rasa saling percaya (trust), memberi makna pada solidaritas, dan membangun rasa cinta tanah air.

Sir Edmund Hillary, manusia pertama yang menyentuh puncak tertinggi gunung Everest pada ketinggian 29,028 kaki (lebih kurang 10.000 meter) di atas permukaan laut pada 29 Mei 1953, benar ketika menulis, "It is not the mountain we conquer but ourselves". Bukan gunung yang kita taklukkan tapi adalah diri kita sendiri. Hillary menjadi inspirasi dan penyemangat bagi ratusan pendaki berikutnya untuk mengikuti prestasinya. Menaklukkan diri sendiri bisa bermakna menaklukkan serigala yang bersemayam dalam diri seseorang.

Teruslah Mendaki
Semakin besar tantangan bahaya, semakin menumbuhkan kesadaran transcendental, seorang pendaki akan merasa semakin dekat dengan Sang Khalik, Tuhan Sang Maha Pencipta Pemilik Jagad Semesta. Kesadaran bahwa para pendaki adalah makhluk kecil, tak berdaya di alam terbuka, semakin menumbuhkan ikatan persaudaraan yang tulus antar sesama pendaki.

Suatu saat para pendaki mungkin akan bertanya dalam hati, apa yang kau cari pendaki? Jawabannya ada dalam hati masing-masing pendaki. Atau seperti kata demonstran Angkatan 66 Shoe Hok Gie, pendaki yang mati muda dalam pendakiannya bersama Idhan Lubis di Puncak Mahameru (Gunung Semeru) 16 Desember 1969, "Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami mendaki gunung."


Banyak pendaki menulis, bahwa mendaki gunung itu terasa sangat memberi makna dalam kehidupan, karena mendaki gunung menempa kepribadian: rendah hati, jujur, ketulusan persaudaraan, dan berjuang keras tak kenal putus asa. Memang tak bisa dipungkiri, mendaki gunung, memberi inspirasi dalam membangun kepribadian, membentuk karakter pantang menyerah. Oleh karena itu tak berlebihan bila tokoh pandu dunia, Henri Dunant menulis, "Tidak akan hilang pemimpin suatu bangsa jika pemudanya masih ada yang suka masuk hutan, berpetualang di alam bebas dan mendaki gunung." So, pemuda pemimpin, teruslah mendaki gunung. Tan lalana pantang putus asa.

Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


opini - Riau pos 12 Juni 2017
Tulisan ini sudah di baca 201 kali
sejak tanggal 12-06-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat