drh. Chaidir, MM | Transformasi ala Rajawali ngepret Rizal Ramli baru beberapa hari. Lanjutkan! | <strong>Riau Negeri Sahibul Asap</strong>

Oleh Chaidir

(Penulis, mantan Ketua DPRD Riau)

 

TULISAN wartawan senior Amarzan Lubis beberapa tahun lalu,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Transformasi ala Rajawali ngepret Rizal Ramli baru beberapa hari. Lanjutkan!

Oleh : drh.chaidir, MM

Riau Negeri Sahibul Asap

Oleh Chaidir

(Penulis, mantan Ketua DPRD Riau)



TULISAN wartawan senior Amarzan Lubis beberapa tahun lalu, "Riau, Negeri Sohibul Kitab" memperoleh penghargaan anugerah "Sagang", sebuah ajang pemberian penghargaan terhadap karya sastra dan bahasa yang bergengsi di Riau. Dengan fenomena asap yang melamun Riau setiap tahun selama 17 tahun terakhir, julukan lain agaknya layak pula disandangkan ke Riau di samping Riau Negeri Sobul Kitab, yakni Riau Negeri Sohibul Asap.
Bulan lalu, setelah dilakukan operasi pemadaman api dengan segala jurus seperti penyemprotan langsung titik api, bom air, hujan buatan dan sebagainya yang menguras tenaga dan anggaran, api mulai padam dan asap mulai hilang. Tak dinyana, dalam beberapa hari ini asap kembali menggebu, bahkan kini lebih parah. Riau Pos kemarin pagi (14/9) secara dramatik menurunkan headline berwarna merah darah, "Asap Makin Berbahaya". Sekolah sudah diliburkan beberapa hari. Jadwal penerbangan sudah beberapa hari tak menentu bahkan sebagian besar dibatalkan.

Wajar Masyarakat Marah

Para pejabat pemerintahan di Riau ramai-ramai menyebut, kabut asap yang menyelimuti Riau kali ini adalah asap kiriman provinsi tetangga. Kenyataannya, kawasan Cagar Biosfer Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil yang berlokasi di Riau, dan harusnya dilindungi, dirambah oleh perambah liar dan dibakar. Beberapa hari lalu alat berat perambah hutan dan lahan ditangkap di Indragiri Hulu. Seperti tahun-tahun sebelumnya alat berat perambah selalu ditemukan di lokasi perambahan. Perambahan liar dan pembakaran lahan ini sesungguhnya sudah berulang terjadi di kawasan hutan di Riau. Perambahan itu berkaitan dengan pembalakan liar dan pembukaan lahan perkebunan secara ilegal. Seperti tahun-tahun sebelumnya perambah melakukan pembakaran.
Awal tahun 2014 lalu, kabut asap serupa juga terjadi. Presiden SBY ketika itu harus minta maaf kepada negara tetangga, karena angin secara tidak sopan menerbangkan asap menyeberangi selat Melaka sampai ke negeri jiran. Presiden SBY turun gunung langsung ke Riau guna melihat dari dekat dan memotivasi aparat yang terlibat dalam operasi pemadaman api. Gubernur Riau Annas Makmun yang baru dilantik pula pada Februari 2014 ketika itu bereaksi cepat. Beberapa hari kemudian dalam sebuah pertemuan dengan pemuka masyarakat Riau di kediamannya, Gubernur Annas memperlihat daftar panjang nama-nama perambah dan pembakar lahan dan hutan Riau, umumnya pendatang dari luar provinsi. Kemana raibnya daftar perambah tersebut?
Sesungguhnya, setiap tahun, setiap kali terjadi kabut asap, setiap kali pula aparat keamanan menangkap sejumlah pelaku. Tapi aneh bin ajaib, setiap tahun pembakaran hutan dan lahan kembali terulang. Kabut asap tebal kembali menyelimuti, masyarakat kembali menderita. Tidak sedikit penduduk terpaksa dirawat karena menderita gangguan pernafasan, dan tak terhitung anak-anak yang tak terdeteksi terkena gangguan kesehatan jangka panjang karena berhari-hari menghirup udara bercampur asap, demikian pula ibu-ibu hamil.
Wajar bila masyarakat marah, kenapa asap tidak bisa di atasi? Kenapa masalah pembalakan liar dan perambahan lahan yang diikuti dengan pembakaran lahan ini tak kunjung bisa diatasi? Apa masalahnya? Semua marah, semua angkat bicara, pemerintah dan aparat mengancam. Tapi sesungguhnya, ancaman keras itu lagu lama yang dinyanyikan setiap tahun. Kenyataannya, asap di Riau seakan tak pernah langkas. Menipis kemudian menebal, begitu setiap tahun. Seperti api dalam sekam, tak padam-padam. Tak mangkuskah upaya pemadaman? Rasanya tidak juga. Bahkan setiap tahun selalu ada seremoni pemadaman api. Setiap tahun milyaran rupiah anggaran dihabiskan. Setiap tahun ratusan personil dikerahkan, regu "Bomba" pemadam kebakaran dari Malaysia pernah dikerahkan. Berkompi-kompi tentara diterjunkan ke lokasi titik api. Semuanya bahu membahu. Setiap tahun berpuluh-puluh mobil pemadam kebarakan dan alat-alat berat berupa ekskavator dikerahkan untuk menyemprot titik api dan membuat parit. Berpuluh-puluh ton garam ditabur di langit untuk membuat hujan buatan, sejumlah helikopter dan pesawat hercules dikerahkan untuk menjatuhkan bom air, dan lain sebagainya, tak terkecuali doa bersama.
Hasilnya? Hujan turun, api padam. Tapi esok hari api muncul lagi. Setiap tahun pemerintah dan aparat selalu kucing-kucingan dengan para perambah dan pembakar lahan. Dan kalau melihat gelagatnya, karena telah sekian lama kucing-kucingan, kucing perambah dan pembakar lahan kelihatannya lebih unggul.

Kura-kura Dalam Perahu

Sesungguhnya semua tahu adagium pencegahan lebih baik dari pemadaman, tapi kenapa semua terlihat mati akal? Kemana gerangan ilmuwan kita dari kampus-kampus ternama di nusantara? Gerangan kemana para penguasa negara dari pusat sampai daerah dengan alat negaranya yang tak pilih tanding? Kenapa hukuman tak menjerakan? Kemana para kepala daerah, pengurus daerah besar dan daerah kecil negeri kita? Setiap daerah ada penunggunya, ada gubernur, bupati, camat, dan kepala desa. Kenapa perambahan dan pembakaran sampai terjadi berulang-ulang di daerah masing-masing? Kalau semua penunggunya masih ada, kenapa ada kawasan-kawasan yang bebas dirambah setiap tahun, seperti daerah tak bertuan? Bukankah semua daerah terbagi habis, tak sejengkal pun tanah berlebih yang boleh dirambah sesuka hati?
Bila polanya mau disederhanakan, masing-masing penunggu kawasan itu harus menjaga wilayahnya, dan harus melaporkan kepada atasannya bila menemukan perambahan di wilayahnya. Segera ambil tindakan. Pembiaran perambahan tanpa tindakan apapun, menyiratkan indikasi telah terjadi praktik tercela "pagar makan tanaman". Kemungkinan pertama, antara penunggu kawasan dengan perambah sudah terjadi kolusi (baik bentuk upeti maupun jual-beli ilegal) atau yang lebih parah, penunggu itu sendiri yang melakukan perambahan bekerjasama dengan orang kuat setempat (local strongmen). Kemungkinan kedua ada praktik mafia lahan yang menyebabkan penunggu ketakutan dan angkat tangan, kura-kura dalam perahu. Kemungkinan ketiga, ada oknum pem-backing di belakang perambah.

Rakyat Terlatih

Apa yang harus dilakukan sekarang di tengah masyarakat yang semakin menderita dan marah? Pertama, padamkan api dengan segala daya upaya. Bukankah kita sudah berpengalaman? Jangan bilang anggaran tak ada. Bukankah ada anggaran tanggap darurat (di pusat dan di daerah?) Jangan takut menggunakan anggaran, sepanjang secara akuntabilitas dapat dipertanggung jawabkan, KPK, kepolisian dan kejaksaan pasti dapat memahami.
Kedua, tegakkan hukum tanpa pandang bulu. Selama ini pedang hukum hanya diacungkan kepada perambah, belum digunakan sebagai sanksi yang tegas terhadap perambah, oknum penunggu alias pejabat dan oknum aparat keamanan yang menjadi bagian dari perambahan dan pembakaran lahan. Sudah menjadi rahasia umum, para perambah berani mendatangkan alat berat ke lokasi perambahan liar karena ada oknum atau local strongmen di belakang perambah. Hukum belum ditegakkan secara tegas. Jangan tiba di mata dipicingkan tiba di perut dikempiskan.
Ketiga, cabut izin perusahaan bila benar melakukan pembakaran lahan. Dan Pemerintah harus secara tegas menghentikan penebangan hutan alam, apapun alasannya. Keempat, jadikan rakyat kita rakyat terlatih. Pemuda dan orang dewasa harus terlatih memiliki kesadaran yang tinggi untuk melaporkan bila melihat ada titik api dan ikut secara sukarela memadamkannya. Demikian pula Resimen Mahasiswa, Pramuka, Karang Taruna, KNPI, organisasi pemuda, dan organisasi peninta alam harus memiliki satuan tugas terlatih dan siap membantu pemadaman api.
Kelima, terhadap lokasi yang terbakar, bila itu merupakan kawasan lindung, segera dihutankan kembali (pemerintah dibantu oleh rakyat terlatih). Tapi bila bukan kawasan lindung, lahan yang terbakar tersebut disita dan dibagikan kepada masyarakat asli setempat (di sekitar lokasi) yang berhak. Alat berat yang tertangkap di lokasi perambahan dan pembakaran disita untuk Negara, dan si pemilik dihukum berat.
Keenam, perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di daerah yang bersangkutan, sejauh tidak bermasalah, bahu-membahu dengan kelompok rakyat terlatih, TNI dan pemerintah melakukan penanaman pohon secara berkesinambungan. Prioritas penanaman adalah di daerah-daerah rawan dan di daerah aliran sungai.
Ketujuh, Bila pejabat di daerah ragu menggunakan pedang kekuasaannya, ajaklah pihak keamanan. Dan libatkan juga para ahli di lembaga perguruan tinggi untuk mengidentifikasi permasalahan perambahan dan pembakaran lahan ini sehingga pedang kekuasaan bisa digunakan tepat sasaran. Riau sudah kehilangan julukan Negeri Sahibul Kitab yang sarat dengan agenda-agenda intelektual. Dimana-mana di luar sana orang sekarang ramai menyebut Riau sebagai daerah menghasil asap. Agaknya, Riau kini harus rela disebut Negeri Sahibul Asap. Nasib.

opini - Riau Pos 15 September 2015
Tulisan ini sudah di baca 462 kali
sejak tanggal 15-09-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat