drh. Chaidir, MM | Jangan Tunggu Tahun Depan | TINGGAL dua hari lagi, puasa Ramadan 1436 Hijriyah akan memasuki bilik sejarah. Puasa Ramadan memang akan selalu hadir tiap tahun sampai tahun terakhir sebelum dunia kiamat kelak di akhir zaman. Tapi tak ada seorang pun umat Islam yang berani memastikan tahun depan akan jumpa lagi dengan Ramadan. Ta
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jangan Tunggu Tahun Depan

Oleh : drh.chaidir, MM

TINGGAL dua hari lagi, puasa Ramadan 1436 Hijriyah akan memasuki bilik sejarah. Puasa Ramadan memang akan selalu hadir tiap tahun sampai tahun terakhir sebelum dunia kiamat kelak di akhir zaman. Tapi tak ada seorang pun umat Islam yang berani memastikan tahun depan akan jumpa lagi dengan Ramadan. Takdir itu rahasia Ilahi.

Takdir sudah dialokasikan untuk setiap manusia, tidak dibedakan besar-kecil, tua-muda, laki-perempuan, penguasa atau pengusaha, pejabat atau penjahat, pemakai batu akik atau tak pemakai batu akik, dosen atau mahasiswa, tuan atau hamba sahaya, bahkan tidak dibedakan umat islam atau umat agama lain. Semua punya buku takdir dari Penguasa Alam Semesta, yang tak pernah bisa dilihat atau sekedar diperoleh bocorannya.

Kejadian yang dialami Frank Slazak, barangkali menyadarkan kita bahwa takdir itu telah tertulis untuk kita semua. Frank Slazak adalah seorang guru warga Amerika Serikat yang terpilih dari 43 ribu kontestan yang melamar dan mengikuti seleksi jadi astronot yang diselenggarakan oleh NASA. Setelah melalui serangkaian test yang berat, Frank Slazak terpilih dalam seratus peserta yang berhak masuk final seleksi terakhir. Namun pada akhirnya dia kecewa karena gagal terpilih menjadi astronot.

Pada tanggal 28 Januari 1986, Frank Slazak duduk bersama rekan-rekannya yang lain, yang gagal dalam seleksi tahap akhir menyaksikan peluncuran pesawat luar angkasa ulang-alik tersebut. Di tengah kesedihannya itu Frank Slazak masih berharap bahwa ia bisa menjadi salah satu astronot di pesawat tersebut. Dan 73 detik kemudian ia mendapatkan jawabannya. Pesawat Challenger itu meledak dan semua penumpangnya tewas seketika. Frank Slazak pun menemukan makna yang sesungguhnya dari kegagalannya.

Allah SWT telah memberi sebuah mega-skenario untuk umat Islam, ada sebulan dari 12 bulan yang sangat istimewa. Bulan itu adalah bulan Ramadan. Ismail R. Al-Faruqi, intelektual Muslim Amerika Serikat menulis, Ramadan adalah bulan penyucian diri dan memperbaharui ulang tekad untuk mencapai tujuan hidup. Ramadan adalah bulan menghitung diri, bulan unik untuk menghitung aset dan pertanggungjawaban moral dan spiritual.

Berarti, setiap tahun selama sebulan penuh umat Islam diberi kesempatan untuk melakukan komunikasi intrapersonal, dialog dengan diri sendiri, dengan hati sanubari sendiri. Karena hati sanubari tak pernah bohong. Sebab selama manusia adalah manusia, yang diberkahi dengan nafsu, tak ada gading yang tak retak. Dalam diri manusia itu ada ribuan serigala. Pada diri seseorang, serigala itu tertidur pulas, pada sebagian lainnya, tidak; ada yang tertidur tapi ada yang terbangun. Kemampuan dan motivasi yang diberikan kepada manusia tak pernah pula sama antara manusia yang satu dengan lainnya.

Karena nafsu, kemampuan, dan motivasi serta ukuran kepuasan yang tak sama, maka cenderung terjadi persaingan antara satu dengan lainnya. Dan yang paling menggoda manusia untuk melakukan sesuatu secara berlebihan adalah syahwat yang berlebihan untuk menguasai harta dan kekuasaan. Rasulullah pernah mengingatkan, karena memperebutkan harta dan kekuasaan umatnya akan bertengkar antara satu dan lainnya, bahkan akan saling bunuh antara sesama saudara sekalipun.

Membuat analogi dengan konsep psikologi manajemen Johari Mindow, umat Islam itu agaknya terbagi dalam empat kuadran. Kuadran pertama: dia tahu kalau dia tahu. Kuadran kedua: dia tahu kalau dia tidak tahu. Kuadran ketiga: dia tidak tahu kalau dia tahu. Kuadran keempat: dia tidak tahu kalau dia tidak tahu.

Tak ada masalah bila seseorang masuk dalam kuadran pertama, artinya, setiap tahun dia tinggal meningkatkan kualitas nilai keberadaannya sehingga dari waktu ke waktu selalu berusaha agar lebih memberikan manfaat yang besar kepada orang lain. Pada kuadran kedua bermakna, seseorang mengetahui bahwa dia belum tahu, dengan demikian dia akan selalu berusaha memperbaiki diri dengan menimba ilmu. Orang-orang yang berada pada kuadran ketiga tidak tahu potensi dirinya, yang sebenarnya dia memiliki kemampuan. Orang dalam kuadran ketiga tinggal diberi motivasi.

Yang paling sulit adalah orang-orang yang berada dalam kuadran keempat. Dia tidak tahu kalau dia tidak tahu. Orang dalam kelompok ini cenderung tidak mau belajar dan tidak mau diberi tahu. Dia tidak mau menerima masukan dari orang lain karena merasa semua apa yang dilakukannya benar. Akan sangat rugilah masyarakat bila ada pemimpin atau pengambil kebijakan yang cenderung berada di kuadran keempat ini.

Komunikasi intrapersonal di bulan Ramadan, memungkinkan kita bisa memetakan diri, di kuadran mana sebenarnya kita berada. Tanyalah dalam hati, seperti apa kualitas keagamaan dalam diri masing-masing, orang lain tak perlu tahu. Apa yang menjadi kekuatan dan apa pula yang menjadi kelemahan. Masih ada dua hari Ramadan tersisa tahun ini, jangan tunggu Ramadan tahun depan, kita tidak tahu takdir. Tapi kita harus optimis. Dialog intrapersonal memungkinkan kita menyusun langkah untuk sebelas bulan ke depan, melakukan perbaikan-perbaikan, meningkatkan kualitas keimanan, atau bahkan mungkin, tak perlu malu, kembali ke pangkal jalan. Selamat menanti lebaran.

opini - Riau Pos 14 Juli 2015
Tulisan ini sudah di baca 433 kali
sejak tanggal 14-07-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat