drh. Chaidir, MM | Manajemen Kura-kura | PERENCANAAN pembangunan itu sepantun sungai, mengalir mulai dari mata air di hulu, mengikuti arus, menampung anak-anak sungai, kemudian berpusu di muara. Secara structural umumnya, perencanaan berawal dari bawah (bottom-up), dari desa/keluarahan, dikompilasi di kecamatan, berjenjang ke tingkat kapub
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Manajemen Kura-kura

Oleh : drh.chaidir, MM

PERENCANAAN pembangunan itu sepantun sungai, mengalir mulai dari mata air di hulu, mengikuti arus, menampung anak-anak sungai, kemudian berpusu di muara. Secara structural umumnya, perencanaan berawal dari bawah (bottom-up), dari desa/keluarahan, dikompilasi di kecamatan, berjenjang ke tingkat kapubaten/kota, provinsi dan final di tingkat nasional. Masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di kabupaten/kota dan provinsi berkoordinasi menyusun berbagai program dan kegiatan prioritas.

Tak ketinggalan, dalam semangat gotong royong, para pemangku kepentingan pembangunan di daerah atau stakeholder, seperti pemuka masyarakat, kampus dan LSM dilibatkan dan diajak pula berdialog untuk menjaring aspirasi seluas-luasnya dan menguji apakah rumusan sementara tentang prioritas dan sasaran pembangunan yang disusun pemerintah daerah sudah tepat atau belum.

Semua bahan rancangan perencanaan yang telah disusun secara berjenjang, dimatangkan dalam Musrenbang provinsi dan dituangkan dalam dokumen perencanaan yang disebut Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). RKPD inilah yang kemudian menjadi acuan dalam penyusunan Kebijakan Umum APBD, Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara, yang populer dikenal dengan singkatan KUA-PPAS. KUA-PPAS inilah kemudian yang digunakan untuk menyusun batang tubuh Rancangan APBD.

Jadi, tak ada yang salah dalam prosedur; mestinya tak ada aspirasi yang tidak terjaring dalam perencanaan pembangunan. Semua aspirasi yang terjaring tentunya telah tersaring pula melalui alur kepatutan dan kewajaran. Kepatutan dan kewajaran program/kegiatan dikemas dalam prioritas, karena tak mungkin semua usulan tertampung seturut keinginan (ad libitum) dalam satu tahun anggaran.


Belum Memenuhi Harapan

Namun sampai sejauh ini, sesempurna apapun mekanisme penyusunan program pembangunan, tetap saja hasilnya belum memenuhi harapan. Padahal siklus perencanaan pembangunan tersebut sudah rutin dilakukan setiap tahun (mestinya lebih berpengalaman dan lebih paham). Praktis secara teoritis, semua program pokok sebenarnya tak lagi berangkat dari kilometer nol setiap tahun, pastilah ada progres.

Beberapa faktor penyebab terjadinya jurang antara harapan dan kenyataan, sebenarnya masih yang itu-itu juga, sulit dibantah. Pertama, (ini pembenaran) aspirasi atau kehendak masyarakat itu berkembang dinamis; aspirasi berkembang seperti deret ukur (hari ini misalnya sepuluh, esok hari bukan 10 + 10 tapi 10 x 10); cepat sekali meningkatnya, sementara kemampuan pemerintah untuk memenuhinya berkembang seperti deret hitung (hari ini misalnya sepuluh, esok hari menjadi 10 + 10 bukan 10 x 10; jadi berjalan lambat seperti kura-kura). Kemarin masyarakat sudah puas dengan pembuatan jalan tanah, esok hari jalan tersebut harus diaspal, bila perlu dalam tempo satu kali 24 jam. Karena itu Abraham Lincoln menyebut, masyarakat ingin mendapatkan apa yang dikehendakinya sekaligus (to get done), sementara pemerintah karena hambatan birokrasi dan anggaran, cenderung berorientasi asal pekerjaan beres (to have done).

Kedua, alasan klasik, terbatasnya anggaran. Pemerintah sering menyebut anggaran tidak cukup. Dana Bagi Hasil (DBH) kecil, padahal dalam contoh kasus Riau misalnya, daerah ini adalah daerah penghasil, baik minyak bumi maupun minyak sawit, demikian pula industri kehutanan. Malangnya, industri sawit dan kehutanan tersebut, di samping hanya memberikan kontribusi kecil dalam DBH, perangai armada angkutannya menimbulkan kerusakan pada infrastruktur jalan yang dibangun oleh Negara; biaya pemeliharaan kerusakan jalan-jalan umum tersebut tak seimbang dengan penerimaan.

Ketiga, birokrasi yang mengelola tata laksana pemerintahan kurang efektif. Hal ini disebabkan karena lemahnya manajerial dan praktik-praktik yang tidak memenuhi standar dalam tata kelola pemerintahan (governance). Birokrasi lebih mementingkan "orangisasi" dari organisasi. Maksudnya, fungsi-fungsi manajemen organisasi terabaikan karena lebih mementingkan orangnya (pejabat) akibat dorongan nepotisme, koncoisme, dinasti-isme, tim sukses, dan sebagainya. Birokrasi cenderung menentang transformasi mental alias perubahan mindset karena enggan beranjak dari zona nyaman posisinya (comfort zone) yang dianggap ‘basah".

Keempat, program pembangunan tidak berjalan efektif karena praktik korupsi dan perilaku koruptif birokrasi dan oknum politisi lokal. Perencanaan seringkali sudah sesuai secara prosedural, tetapi miskin secara substansial. Perencanaan pembangunan tak berangkat dari hati, tidak fokus, sebaliknya banyak mengakomodasi proyek-proyek mercusuar yang tak terkait langsung dengan kehendak rakyat. Kegiatan-kegiatan seperti itu rawan penyimpangan.

Kelima, pengawalan dan pengawasan oleh DPRD kurang efektif. Fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan yang melekat pada DPRD harusnya ditujukan agar fungsi pengaturan, pemberdayaan dan pelayanan yang melekat pada eksekutif dapat berjalan optimal sehingga rakyat mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dalam hal kemakmuran dan kesejahteraan. Jarak kekuasaan (power distance) antara eksekutif dan rakyat mestinya didekatkan oleh DPRD sehingga selaras antara kehendak dan kebijakan (bukan dipolitisasi). Permasalahan yang jadi temuan dalam pengawasan DPRD mestinya digunakan sebagai umpan balik untuk memperbaki kebijakan. DPRDlah yang mengartikulasikan ketidakpuasan masyarakat terhadap program pembangunan dalam semangat pelurusan atau reorientasi.

Lantas? Saya teringat ucapan si jenius Albert Einstein, "Kegilaan adalah melakukan sesuatu dengan cara yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil berbeda." Entah apalah maksud Einstein ini. Tapi melakukan sesuatu dengan cara yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil berbeda, memang rada gila.

Oleh karena itu agar tak dibilang gila oleh Einstein, pembangunan yang kita lakukan harus berani keluar dari tempurung (out of the box). Logika kemarin harus didobrak. Pakar manajemen dunia Peter Drucker menyebut, yesterday logic atau logika kemarin menurutnya tak akan mampu menjawab permasalahan yang dihadapi hari ini dan di masa depan. Sederhana. Setiap tahun perubahan pasti terjadi. Permasalahan dari tahun ke tahun pasti beda. Semakin cepat perubahan masyarakat semakin kompleks permasalahannya.


Tinggalkan Zona Nyaman

Cara-cara lama business as usual (berjalan apa adanya) harus ditinggalkan. Pendekatan manajemen pemerintahan seperti sekedar memenuhi nomenklatur standar, bagi-bagi anggaran, orientasi produk, orientasi proyek, berpikir statis, enggan meninggalkan zona nyaman (comfort zone), takut menghadapi auditor, harus dihilangkan. Buka wawasan.

Masyarakat sudah cerdas, kalangan terdidik semakin banyak, agenda transformasi perilaku (perubahan mindset) telah menjadi keniscayaan bagi organisasi-organisasi apalagi organisasi pemerintahan. Institusi-institusi modern telah menempatkan transformasi sebagai hal yang sangat penting bahkan ada yang mengusung jargon, "transformasi atau mati". Artinya, bila institusi mereka tidak melakukan perubahan pola pikir dan perilaku organisasi, masih terperangkap dengan cara-cara lama, institusi tersebut akan ditinggalkan karena dianggap tak lagi dipercaya.

Paradigma pola pikir katak di bawah tempurung harus ditinggalkan. Seseorang boleh tinggal di desa-desa di tepi sungai Rokan, sungai Siak, sungai Kampar atau sungai Indragiri, tapi dia berpikir terbuka dengan melihat peluang di luar sana. Potensi yang ada di desa kemudian diolah untuk memenuhi permintaan pasar. Birokrasi dan politisi lokal "hadir" dalam alur pikir di sana siap memberi solusi.

Birokrasi dan DPRD harus bahu membahu dan menjunjung tinggi semangat fidusia, transparansi yang jujur dalam mengawal fungsi-fungsi manajemen pemerintahan di daerah. Kompetensi saja tak lagi cukup, harus good competency (kompetensi yang baik); memiliki karakter saja tak memadai tapi harus best character (karakter terpuji); dan komitmen saja belum mencukupi melainkan harus great commitment (komitmen yang hebat). Bila tidak, maka manajemen pembangunan kita hanya bergerak seperti kura-kura dari tahun ke tahun. Arang habis besi binasa.

opini - Riau Pos 23 April 2015
Tulisan ini sudah di baca 514 kali
sejak tanggal 23-04-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat