drh. Chaidir, MM | Revolusi Mental dan Keteladanan | PRESIDEN Jokowi mulai unjuk gigi.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Revolusi Mental dan Keteladanan

Oleh : drh.chaidir, MM

PRESIDEN Jokowi mulai unjuk gigi. "Presiden Gertak Gubernur" begitu head lines Riau Pos kemarin pagi (5/11/2014). Dalam sambutannya ketika membuka Rakornas Kabinet Kerja 2014 yang juga diikuti oleh para gubernur seluruh Indonesia di Istana Negara (4/11), Presiden Jokowi secara tegas menyebut besarnya anggaran untuk aparatur dibanding anggaran untuk pembangunan jelas-jelas tidak berpihak kepada rakyat.

Postur APBD seperti itu dianggap hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan aparatur, bukan untuk kebutuhan rakyat. Maka tak ada cara lain, Kepala Daerah diminta untuk memeriksa secara detil APBD masing-masing, jangan biarkan begitu saja staf yang menyusun anggaran tanpa dipelajari detil alokasinya.


Bukan Basa-basi

Sikap tegas Presiden, menyiratkan banyak hal. Pertama, Presiden Jokowi bersiap-siap mengambil langkah tidak popular: penertiban ke dalam! Untuk apa kebijakan populis menina bobokkan pegawai bila hanya ibarat mengobati sakit kepala dengan aspirin. Akar penyakitnya yang harus ditangani, bila perlu dengan operasi. Kedua, Presiden Jokowi langsung menukik ke jantung birokrasi; birokrasi tak bisa dibiarkan berjalan tanpa kendali.

Ketiga, gertakan Presiden kelihatannya bukan basa-basi, bukan pula lips service alias gincu pemerah bibir. Dari pola sikap sederhana yang ditampilkan secara simbolistik melalui kemeja putih yang lengannya digulung, kebiasaan blusukan, dan komunikasi merakyat tanpa dibuat-buat, menimbulkan chemistry, Presiden sungguh-sungguh dengan ucapannya.

Namun masyarakat di daerah pada umumnya, agaknya tetap merasa was-was, gertakan itu hanya sampai pada tingkat political will (itikad baik) semata, belum tentu bisa dlaksanakan. Masyarakat sudah trauma dengan janji-janji manis penertiban, pemberantasan korupsi, tapi implementasinya beda. Tidak hanya itu, di lapangan, Presiden Jokowi akan berhadapan dengan kelompok-kelompok establish, yakni suatu kelompok yang selama ini mendiami zona nyaman (comfort zone). Mereka terbuai menikmati keistimewaan dan fasilitas yang ada.

Kelompok tersebut, bisa sebuah kekuatan konspirasi birokrasi, politik oligarki, politik dinasti, mafia proyek, mafia anggaran, dan lain-lain; kelompok-kelompok inilah yang merasa tidak nyaman bila eksistensi mereka terusik. Kelompok-kelompok yang berada pada zona nyaman ini akan selalu berusaha mempertahankan diri dengan berbagai cara. Mereka lebih menyukai pola business as usual, status quo, berpikir statis, lebih memilih cara seperti biasa-biasanya saja. Mereka anti perubahan, karena mereka sudah nyaman pada zonanya.


Keteladanan

Perubahan cepat yang terjadi di lingkungan kita menuntut adanya perubahan perilaku mayarakat dari budaya tidak produktif menjadi masyarakat yang memiliki budaya produktif. Kita sudah tertinggal jauh, tidak memiliki kemandirian ekonomi, dan tidak memiliki daya saing. Padahal kita sudah memasuki era globalisasi, dan pada 2015 era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Tidak bisa dimungkiri, agenda transformasi perilaku telah menjadi keniscayaan bagi organisasi-organisasi pemerintahan maupun swasta, apalagi organisasi-organisasi kelas dunia. Institusi-institusi modern telah menempatkan transformasi sebagai hal yang sangat penting bahkan ada yang mengusung jargon, "transformasi atau mati". Artinya, bila institusi mereka tidak melakukan transformasi untuk mengubah perilaku organisasi, institusi tersebut akan ditinggalkan atau tak bisa lagi dipercaya.

Revolusi mental secara sederhana adalah hijrah dalam pola pikir, sikap dan perilaku, dari semula berpikir statis, terbuai dalam zona nyaman, hidup biasa-biasa saja, menjadi berpikir dinamis, kreatif, dan akhirnya inovatif. Pada tingkat pola pikir inovatif inilah masyarakat disebut telah mengalami revolusi mental. Mereka tidak lagi biasa-biasa saja, tapi sudah menjadi extra ordinary atau istimewa. Pada tahap ini para pejabat akan mampu menjadi teladan dalam kesederhanaan sikap hidupnya, hemat, budaya kerja atau etos kerja, menghargai waktu, menghargai prestasi, dan berpikir jangka panjang.

Bahwa Presiden Jokowi mengemas agenda transformasi itu di bawah label revolusi mental, tak tak masalah, dan tak memberi pembedaan substansial terhadap makna transformasi itu sendiri. Bahkan revolusi mental tersebut sebetulnya adalah istilah lain untuk reformasi perilaku atau reformasi cultural.

Kegagalan reformasi disebabkan karena kita secara umum gagal melakukan reformasi terhadap diri sendiri, kita gagal mengubah perilaku diri sendiri menjadi perilaku produktif. Semangat reformasi yang bergulir dalam berbagai bentuk dan lini, telah menimbulkan wujud yang berbeda. Reformasi yang terjadi kemudian lebih banyak berupa reformasi struktural. Sehingga terkesan hanya sekedar ganti jaket, sedang tubuh dan perilakunya tak banyak berubah.

Dalam perjalanannya, atribut reformasi secara sengaja atau tidak, membentuk kelompok orang-orang yang berada pada zona nyaman (comfort zone). Dan kelompok ini terus berusaha mempertahankan comfort zone yang dihuninya. Karena reformasi tak menyentuh perilaku, maka ada sementara kalangan masyarakat yang berpendidikan tinggi, dan berada di sentra-sentra kekuasaan di berbagai level, mengeksploitasi perilaku kontra produktifnya menjadi keuntungan pribadi dan kelompok. Maka jangan heran, para koruptor umumnya adalah orang-orang pintar yang mengenyam bangku pendidikan tinggi tersebut.


Change Leader

Siapa agen perubahan dalam revolusi mental? Jangan bermimpi semua komponen akan melakukan revolusi mental. Perubahan itu dimulai dari sebagian (bahkan sebagian kecil), sebagian dari pemimpin, sebagian dari pejabat, sebagian dari pemimpin swasta, sebagian dari pemuka masyarakat, sebagian dari masyarakat itu sendiri, sebagian dari LSM, sebagian dari tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa. Tapi jelas, semakin banyak pemimpin perubahan (change leader), semakin cepat proses transformasi atau revolusi mental itu terwujud.

Kurun waktu lima tahun kepemimpinan Presiden Jokowi dan Wapres JK (2014-2019), akan membuktikan apakah agenda transformasi revolusi mental yang diusung oleh pasangan tersebut mampu memberi perubahan yang signifikan terhadap perilaku umumnya bangsa kita atau hanya sebatas itikad politik alias political will saja, tanpa makna yang berarti.

opini - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 817 kali
sejak tanggal 05-11-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat