drh. Chaidir, MM | OPINI HUT RIAU - Cermin Brazil dan Jerman - (Kontemplasi ringan untuk HUT Ke-57 Riau) | BRAZIL dan Riau dipisahkan ribuan kilometer oleh benua dan samudra, dan tentu saja sepakbola. Kedua negeri sama sekali beda, baik budaya, bahasa, maupun agama. Keduanya tak layak dibandingkan, disandingkan apalagi dipertandingkan. Tapi, ada sisi yang sama keduanya: meratapi surga yang hilang.

Bra
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

OPINI HUT RIAU - Cermin Brazil dan Jerman - (Kontemplasi ringan untuk HUT Ke-57 Riau)

Oleh : drh.chaidir, MM

BRAZIL dan Riau dipisahkan ribuan kilometer oleh benua dan samudra, dan tentu saja sepakbola. Kedua negeri sama sekali beda, baik budaya, bahasa, maupun agama. Keduanya tak layak dibandingkan, disandingkan apalagi dipertandingkan. Tapi, ada sisi yang sama keduanya: meratapi surga yang hilang.

Brazil baru saja sebulan lalu jadi tuan rumah Piala Dunia sepakbola, dan semua tahu, Brazil hancur lebur berantakan. Surga kegembiraan dan kebahagiaan sebagai juara dunia, yang seakan sudah berada di depan mata ketika tuan rumah menang 3-1 lawan Kroasia dan bintangnya Neymar mencetak dua gol, hilang demikian saja. Sang tuan rumah gagal total menjadi tuan di rumahnya sendiri. Brazil tak ubahnya pawang ular yang mati dipatuk ular, pawang gajah yang mati diinjak gajah. Justru Jermanlah yang tampil perkasa dengan mencatat sejarah tim Eropa pertama yang jadi juara di benua Amerika, dan di Brazil pula. Tidak hanya itu, Brazil bahkan dipermalukan Jerman 1-7 di babak semifinal dan digebuk Belanda 0-3 di final perebutan Juara III.

Surga Yang Hilang di Brazil

Brazil dan para pendukungnya tentu bisa menghibur diri, selama bola masih bundar, segala kemungkinan bisa terjadi di lapangan; kalah-menang itu biasa dalam sepakbola. Tapi, kata-kata klise itu bisa diterima untuk tim-tim papan tengah lain, namun tidak untuk Brazil. Penggemar sepakbola sejagad raya terheran-heran, bagaimana mungkin tim sekelas Brazil bisa jadi ayam sayur seperti itu? Dunia tahu, Brazil adalah kiblat sepakbola; belum ada negara lain yang bisa menjuarai Piala Dunia lima kali kecuali Brazil; memiliki nama besar dalam sepakbola sehingga sangat disegani dan ditakuti; belum pernah absen di final Piala Dunia; satu-satunya tim Amerika Latin yang pernah jadi Juara Dunia di Eropa; memiliki banyak bintang yang jadi legenda sepakbola; demikian gandrung masyarakatnya terhadap sepakbola sampai-sampai sepakbola dianggap jadi agama di Brazil.

Tapi status tuan rumah dan segudang predikat itu tak membuat dewi fortuna singgah di Brazil membawa surga Piala Dunia, semuanya tak lebih dari angin surga yang membuat terlena. Kini, bahkan Brazil tak lagi jadi mantra yang mangkus, tak lagi jadi jampi-jampi sakti. Siapa saja bisa mengalahkan Brazil, dimana saja, di Brazil sekali pun "tak ngaruh"; Brazil bisa dibawa lalu, tak perlu lagi diperhitungkan. Brazil tak ada apa-apanya.Persis dulu ketika Riau, disebut oleh Presiden Abdurrahman Wahid, sebagai tak ada apa-apanya.

Memang ada dua versi interpretasi ketika itu, terhadap frasa legendaris Presiden Abdurrahman Wahid tersebut; versi pertama, Riau tak apa-apa, tak akan minta merdeka; versi kedua, Riau itu ibarat mentimun bungkuk, dibuang tak mengurangi, dimasukkan tak menambah hitungan.

Surga Yang Hilang di Riau

Dalam sejarah perjalanan Riau kontemporer, versi pertama tak salah, versi kedua juga ada benarnya. Ungkapan klise dan basi, bumi Riau itu kaya, di bawah minyak di atas minyak, sesungguhnya tidaklah berlebihan. Untuk jangka waktu puluhan tahun lamanya, minyak mentah yang disedot dari perut bumi Riau tak kurang dari satu juta barrel per hari. Ketika itu hampir separoh pendapatan negara berasal dari Riau. Sekarang, hasil minyak mentah itu tak lagi sampai 400.000 barrel per hari. Itu pun harus disedot dengan bersusah payah. Berdasarkan kecenderungan produksi minyak tersebut, beberapa tahun mendatang perut bumi Riau ini akan kering minyak. Padahal minyak itu tak dapat diperbaharui.

Dulu kita pernah menuntut ke pemerintah pusat dana abadi untuk Riau yang disisihkan sekian sen per barrel. Jawabannya, mustahil. Kita pernah minta bagian dari cost recovery. Jawabannya, impossible. Kita pernah usul minta 15 persen dana bagi hasil itu dari total produksi (prduksi kotor). Jawabannya, tak masuk akal. Terakhir kita hanya minta angka lifting minyak, supaya Riau tidak terus-terusan ngigau 15 persen bagi hasil itu dari berapa? Menkeu Sri Mulyani ketika itu setuju dan minta dibentuk tim gabungan untuk memantau lifting tersebut secara berkala, tapi tim ini sampai sekarang tak jelas rimbanya.

Sawit sebagai minyak di atas tanah, jadi primadona baru di Riau. Lebih dari dua juta hektar kebun sawit terhampar. Sayangnya sebagian besar dari kebun tersebut adalah milik swasta besar, dan para pendatang yang sudah berpengalaman berkebun sawit. Penduduk tempatan, bukan tidak ada yang sukses berkebun sawit, tapi jumlah mereka tidak banyak. Ketika mata penduduk tempatan terbuka, dan kesadaran berkebun sawit tumbuh, lahan sudah tidak lagi tersedia, maka muncullah kemudian konflik perebutan lahan.

Kebesaran Kaca Spion

Brazil kebesaran kaca spion. Karena kaca spion terlalu besar, mereka sering melihat ke belakang. Mereka terpesona dengan kegemilangan masa lalu, terlena dengan kebesaran nama Brazil di belantika dunia persepakbolaan. Rahim ibu pertiwi mereka memang tak pernah tidak subur menghasilkan bintang-bintang sepakbola. Mereka berkeyakinan, mendengar nama Brazil saja, lutut lawan sudah gemetaran. Dengan demikian, dengan persiapan seadanya, Brazil akan tampil sebagai Juara Dunia. Apatah lagi mereka tuan rumah; bukankah ada sorak-sorai pendukung yang selalu jadi "pemain kedua belas" di lapangan? Brazil lupa membangun kekuatan tim yang seimbang

Brazil alpa mengamati, lingkungan sudah berubah. Pengaruh superstar tak lagi menjadi faktor dominan, melainkan kekompakan kerjasama. Leonel Messi, Cristiano Ronaldo, Luis Suarez, Rooney, Robin Van Persie, Drogba, Karim Benzema, Iniesta, tak mampu menghadirkan kemenangan bagi timnya. Brazil mengira, jampi-jampi Luiz Felipe Scolari ketika membawa Brazil Juara Dunia 2002 masih sakti pada tahun 2014, sehingga kembali mempercayakan tim Brazil di tangan Scolari. Hasilnya jelas, logika masa lalu tak menyelesaikan masalah masa kini: impian Brazil terkubur bersama surga yang hilang.

Jerman mempertontonkan, kekuatan yang merata pada level tinggi, kekompakan dan kejasama tim adalah jawaban yang tepat. Joga Bonito, tiki-taka, total football, catenaccio, parkir bus, mega bintang, hanya teori, mereka dikalahkan kekuatan dan kekompakan tim. Barangkali tak berlebihan timnas Jerman dengan semboyannya: Ein Land, Ein Mannschaft Ein Traum (Satu Bangsa Satu Tim Satu Mimpi).

Simbiose Mutualisme

Dan Riau? Habisnya minyak bumi, dan tak lagi tersedianya lahan untuk kebun rakyat, dan semakin terbatasnya sumber dana untuk pembangunan infrastruktur, menyebabkan surga itu akan segera hilang. Sampai suatu saat kelak, surga itu benar-benar belalu. Sementara Riau tetap saja tertinggal infrastrukturnya dibanding povinsi tetangga, Sumut, Sumbar dan Jambi.

Maka, lupakan saja mitos Riau daerah kaya, yang membuat kita tinggal duduk diam menunggu mendapatkan dana bagi hasil dari pusat. Mari kita berdamai dengan hati dan pikiran, bukan lingkungan yang harus menyesuaikan diri dengan adat kebiasaan kita, tapi kitalah yang harus menyesuaikan diri melakukan transformasi mengubah pola pikir untuk bekerja keras merebut kesempatan yang ada di depan mata setelah minyak, lahan dan hutan habis. Bisakah? Harus bisa. Asal, dengan penuh kesadaran kita menertibkan diri, meluruskan perilaku yang bengkok-bengkok, dan kepada petinggi harus berada di depan memberi teladan.

Kita membutuhkan banyak pemimpin perubahan (change leader) pada level menengah untuk mengimbangi dan menjabarkan secara substantif pemikiran strategik pemimpin level atas tanpa mempersoalkan gaya kepemimpinan. Bila pemimpin-pemimpin perubahan ini mampu bergandengan tangan saling mendukung dan saling membutuhkan serta saling menguntungkan satu sama lain (simbiose muyualisme), membangun satu tim yang penuh kekompakan, maka mereka akan menjadi agen perubahan mewujudkan impian kita bersama, Riau yang maju dan penuh kejayaan. Dirgahayu Riau.


opini - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 743 kali
sejak tanggal 07-08-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat