drh. Chaidir, MM | Pujangga Ayolah Turun Gunung | (Sebuah Kontemplasi Bersempena Anugerah Sagang) - 13 November 2009

SAYUP-SAYUP saja rasa cinta tanah air menyahut di sanubari, sudah cukup untuk merasakan kegalauan yang mendalam akibat karut-marut wajah bangsa kita dalam dua pekan terakhir ini. Karut marut itu sesungguhnya hanya pada wilayah pen
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pujangga Ayolah Turun Gunung

Oleh : drh.chaidir, MM

(Sebuah Kontemplasi Bersempena Anugerah Sagang) - 13 November 2009

SAYUP-SAYUP saja rasa cinta tanah air menyahut di sanubari, sudah cukup untuk merasakan kegalauan yang mendalam akibat karut-marut wajah bangsa kita dalam dua pekan terakhir ini. Karut marut itu sesungguhnya hanya pada wilayah penegakan hukum, tapi tak bisa dipungkiri mencerminkan banyak sisi kehidupan bangsa; antara lain minimnya budaya jujur, suburnya budaya pura-pura.
Masihkah kita berani mengklaim bahwa kita adalah bangsa yang berbudaya tinggi, halus tutur bahasanya, menjunjung tinggi sopan santun? Pada kenyataannya kita banyak mempertontonkan kesombongan, kelicikan, saling menelanjangi di depan publik, menggunakan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Tak ada lagi "harimau di perut kambing di mulut". Kekuasaan dan kekayaan dipamerkan dan dipermainkan.

Atmosfer kehidupan terasa asing. Kebudayaan yang kita junjung tak lagi menjadi garansi. Kita agaknya sedang meluncur kencang ke wilayah terra incognita, wilayah tak dikenal. Bagaimana akhir perjalanan tak terduga ini? Tak ada jawaban pasti. Kita tak lagi kenal wajah-wajah lain dan bahkan wajah kita sendiri, karena detik demi detik, satu-satu, pada dasarnya kita sudah kehilangan muka. Wajah-wajah penuh keceriaan dan kehangatan ekspresi dari ketulusan sebuah persahabatan berubah kaku dan murung. Tutur kata penuh sopan santun dengan bahasa berbunga-bunga kehilangan pesona. Kata-kata menjadi dangkal dan vulgar.

Wajar kemudian, kalau ada yang bertanya adakah sesuatu yang salah dengan kebudayaan kita? Adakah akulturasi demikian hebatnya sehingga kebudayaan yang kita banggakan tak lagi mampu meredam perilaku anomi, megalomania, parochial, hedonisme dan stigma negatif lainnya? Kegelisahan kita tecermin dalam ungkapan yang dilontarkan Gerard Bibang, seorang sosiolinguistik, dengan pertanyaan, "Mungkinkah manusia tanpa kebudayaan, atau kebudayaan tanpa manusia?" Jawabannya, tentulah mustahil. Tapi kita sedang risau, galau.

Saya tidak bermaksud membangun pesimisme. Di penghujung 200 tahun Sebelum Masehi, ketika imperium Romawi runtuh, ilmu-ilmu filsafat dan kesusastraan Romawi sebagian ikut terkubur. Beberapa filsuf mengajar anak-anak dengan filsafat dan kesusastraan di bawah-bawah pohon di tengah padang.
Mengapa kebudayaan dan kesusastraan? Karena dalam kebudayaan terdapat seperangkat sistem nilai yang mengarah pada proses menemukan diri. Dan dalam kesusastraan terdapat kehalusan perasaan dan budi pekerti.

Kebudayaan adalah suatu hal yang penting ketika kita berfikir untuk mendapatkan keseimbangan hidup. Sejumlah negara besar atau negara maju, semisal Amerika, Jepang, Cina, dan sejumlah negara-negara Eropa, saat ini mulai 'pulang' ke rumah kebudayaan mereka masing-masing. Hal ini terjadi setelah di depan mereka terbentang padang yang luas dan liar, sebuah kenyataan bahwa kemajuan yang dicapai ternyata menjadi virus bagi akal budi dan memangsa anak-anak negeri. Mereka semua sepakat untuk percaya pada ungkapan Matthew Arnold, bahwa kebudayaan merupakan media yang mampu menetralisir, atau paling tidak meredakan eksistensi kehidupan manusia modern yang sangat agresif, kejam, dan berbau dagang.

Sastra pula, bukan sesuatu yang jatuh dari langit, ia meng-ada bersama pengalaman hidup manusia. Bagaimana mungkin sastra tidak mengacu pada realitasnya? (Abdul Wachid B.S., 2005). Kesadaran itu pulalah agaknya yang menggerakkan hati Adhie Massardi meraungkan puisi "Negeri Para Bedebah" karyanya, pada Malam Seni Antikorupsi di Kantor KPK, Sabu (7/11/2009) beberapa hari lalu. Puisi "Buaya Mabok Duren" karya Alvin Lie juga dibacakan oleh penulisnya.

Idiom sastra seyogianya memang tidak boleh dijauhkan dari realitas kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itulah Umar bin Khattab memberi nasihat: "Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani." Mendiang Presiden AS John F Kennedy tidak hanya seorang orator ulung, dia juga seorang seniman atau sekurang-kurangnya politisi yang mampu memberi apresiasi tinggi terhadap kesusastraan. Kennedy mengatakan: "Jika politik bengkok, puisi akan meluruskannya." Puisi itu hati nurani, kesusastraan itu sanubari. Kennedy juga tidak sendiri, ada politisi negarawan lain yang juga seniman dan sastrawan. Ada Vaclav Havel (Presiden terakhir Cekoslovakia dan sekaligus Presiden pertama Republik Ceko), ada Pablo Neruda dari Chili, Amerika Latin, ada Mahatma Gandhi dari India, dan tentu, ada Ir Soekarno, presiden pertama RI. Dan sebenarnyalah dengan beberapa lagu ciptaannya dan telah diedarkan, Presiden SBY adalah juga seorang seniman.

Pencitraan bangsa besar, negara zamrud khattulistiwa, kini dalam kehidupan nyata baru terasa megah sebatas slogan, belum menemukan maknanya secara substansial. Dalam kehidupan nyata, rakyat mengalami kemiskinan yang terbiarkan, penuh ketakutan sebab tidak diberi ruang untuk berbicara, terjadi pembungkaman, pembohongan publik dimana-mana, pemutarbalikan fakta, kemunafikan merajalela, rekayasa tidak hanya ada pada ilmu genetika yang menghasilkan makhluk cloning, tetapi juga pada realitas kehidupan. Semua atas nama rakyat, tapi rakyat samar-samar terpinggirkan. Semua terperangkap dalam keterbukaan semu dan demokrasi semu yang merisaukan.

Dimana sastra yang meluruskan realitas yang bengkok-bengkok itu? Dimana pujangga-pujangga kita? Dimana tangan-tangan lembut pujangga yang mampu membelai sanubari kehidupan masyarakat yang sedang mengidap demam panas dalam ini? Jangan biarkan negeri ini seperti mitos Sisyphus, raja Yunani kuno yang karena kesalahannya, dihukum oleh dewa Zeus untuk mendorong batu besar ke puncak bukit, digelindingkan ke bawah, kemudian Sisyphus setiap kali harus mendorong kembali ke puncak bukit, menggelinding ke bawah, demikian berulang-ulang tanpa pernah berhenti. Atau negeri ini redup sia-sia seperti "Keledai Buridan"nya Aristoteles. Seekor keledai yang dihadapkan kepada dua bal jerami yang sama-sama diinginkannya, menderita kelaparan sampai mati karena berdasarkan dugaan (hipotesis) tidak ada alasan yang kuat untuk lebih menyukai bal yang satu daripada bal lainnya.

Anugerah Sagang yang disampaikan malam ini, terasa beda dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena kegelisahan komunal yang yang sangat terasa mengusik ketenangan batin masyarakat. Ketika sang pagar tak lagi dipercaya fungsional mengawal tanaman. Atmosfer itu sangat kuat terasa. Kegelisahan itu mustinya mampu direfleksikan oleh sastra. Bila karya sastra tidak lahir dari rahim masyarakatnya maka karya sastra itu akan menjadi anak angkat.

Pujangga sebaiknya turun gunung. Bangun sebuah negeri yang ideal, sebagaimana disebut William Butler Yeats, pemenang Nobel Sastra dari Irlandia, yaitu sebuah negeri yang di dalamnya terdapat nyanyian, puisi, dan balada pada satu sisi, dan sistem pemerintahan yang baik pada sisi lainnya. Kita sudah waktunya melangkah ke sana, dengan sastra kita bangun simfoni kehidupan.

drh H Chaidir, MM - Penikmat sastra

opini - 13 November 2009
Tulisan ini sudah di baca 3731 kali
sejak tanggal 13-11-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat