drh. Chaidir, MM | Rindu Si Gareng |
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Rindu Si Gareng

Oleh : drh.chaidir, MM

"KAU, Gareng, lawan si Belanda itu. Tunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu bangsa besar." Begitulah cara Bung Karno, Presiden pertama RI mengobarkan semagat pemain sepakbola kita. Singkat, berapi-api, tak ada jarak. Ketika itu, pada tahun 1965, Bung Karno memberi motivasi langsung kepada timnas PSSI yang akan berangkat melakukan lawatan ke Eropa.

Tim nasional PSSI yang dipimpin oleh manajer Maulwi Saelan (Kolonel TNI, Wakil Komandan Pasukan Pengawal Presiden RI), ketika itu dijadwal bertarung melawan dua klub tangguh Eropa, Feyenoord FC, Belanda dan SV Werder Bremen, Jerman.

Si Gareng yang dimaksud Bung Karno, tak lain tak bukan adalah Soetjipto Soentoro bintang sepakbola Indonesia era 1960-an yang susah dicari tandingannya di level Asia. Dia dijuluki si Gareng. Singkat cerita dalam lawatan itu, pada 9 Juni 1965, berbekal semangat yang dipompakan Bung Karno, Si Gareng bermain kesetanan. Pertandingan baru berlangsung dua menit, setelah meliuk-liuk melewati tiga pemain belakang Feyenoord, Si Gareng langsung menceploskan bola ke gawang Belanda: gol, 1-0 untuk Indonesia. Gol ini bertahan sampai babak pertama berakhir. Meski skor berakhir 1-6 bagi kemenangan Feyenoord, itu tidak lebih disebabkan faktor wasit dan bersifat politis (www.wikipedia.org).

Lima hari kemudian, pada 14 Juni 1965, dalam pertandingan melawan Juara Bundesliga, Werder Bremen, di Jerman, Si Gareng dan kawan-kawan kembali membuat kejutan. Pertandingan berlangsung dramatis, tercipta banyak gol dan penuh semangat juang. Si Gareng membuat hattrik dengan mencetak gol pada menit 30, 41, dan 58. Meskipun akhirnya kalah 5-6 tetapi pelatih SV Werder Bremen yang merangkap pelatih nasional timnas Jerman Barat ketika itu, Herr Brocker terang-terangan memuji dan langsung menawarkan Soetjipto, Max Timisela dan John Simon untuk bermain bagi klub Werder Bremen. Tapi tawaran itu ditolak, karena timnas PSSI akan bertanding di Asian Games 1966.

Dalam era 1950 dan era 1960 timnas PSSI merupakan tim yang paling ditakuti di Asia. Di era 1950 kita memiliki superstar Ramang, yang dalam olimpiade Melbourne 1958 menahan imbang raksasa Uni Sovyet. Tim-tim Asia sering menjadi korban keganasan pemain timnas PSSI. Dalam ajang Ganefo (Games of The New Emerging Forces), 1963, di Senayan Jakarta, Indonesia mengalahkan timnas Jepang 6-0, Thailand 6-0. Langkah tim PSSI terhenti setelah dikalahkan Cile 0-1.

Pada tahun 1968, dalam tournament Merdeka Games di Kuala Lumpur, sebuah turnamen level Asia yang bergengsi ketika itu, Soetjipto tampil gemilang. Dalam turnamen tersebut Jepang B digilas 7-0. Si Gareng kemudian memborong 5 gol dalam pertandingan berikutnya ketika mencukur Republik China 11-1 di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur (18 Agutus 1968). Dalam Merdeka Games 1969, dipenyisihan grup Indonesia membungkam Korea Selatan 3-0 dan mengalahkan Thailand 3-1. Si Gareng kemudian memborong 8 gol ketika di partai semi final Indonesia membantai Singapura 9-2. Akhirnya Si Gareng keluar sebagai top skor setelah dalam partai final menyumbangkan satu gol dan membawa Indonesia juara dengan menang 3-2 atas musuh bebuyutannnya, Malaysia.

Dalam satu dasawarsa ini, persepakbolaan kita centang perenang. Garuda di dada, hanya penghias bibir. Sepakbola telah menjadi industri. Maka, "pemain" dalam industri itu, tidak hanya 11 orang yang berlaga di lapangan hijau, tetapi juga pelatih, pengurus, sponsor, supporter, bandar judi, dan sebagainya. Semua "cari makan" di sepakbola. Maka jangan heran, ukurannya ganda, merah putih yes! Wani piro juga yes! Alamaaak...

Namun, KLB PSSI 17 Maret 2013 beberapa hari lalu yang berlangsung sukses, mengguratkan secercah harapan. Kini, persepakbolaan kita sudah mulai berbelok kembali ke jalan yang benar. KLB PSSI telah menghasilkan beberapa keputusan yang sangat penting bagi persepakbolaan kita. Beberapa di antaranya adalah penyatuan kepengurusan, konsep penyatuan liga, pengangkatan anggota baru Komite Eksekutif, dan pembubaran Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI). Bos KPSI, La Nyalla Mattalitti diangkat sebagai Wakil Ketua Umum PSSI. Pembubaran KPSI ini diresmikan lewat penandatanganan kesepakatan bersama oleh Djohar Arifin dan La Nyalla, dan disaksikan langsung oleh Menpora Roy Suryo, yang jujur, perlu diberi apresiasi karena berhasil melakukan sebuah "mission imposible" menyatukan PSSI Djohar Arifin dan PSSI La Nyalla. Silahkan under estimate, tapi Roy Suryo telah melakukan "sesuatu" yang menjadi harapan masyarakat pencinta sepakbola di Tanah Air.

Langkah berikutnya adalah membangun sebuah timnas yang membanggakan. Mustahil hanya Ramang dan Si Gareng pemain berbakat yang pernah dilahirkan rahim ibu pertiwi. Pemandu bakat kita harus sangat serius mencari minimal 11 anak muda yang benar-benar berbakat dari 100 juta pemuda. Kebijakan instan dengan merekrut pemain-pemain naturalisasi hanyalah sebuah jalan pintas, window dressing. Lebih dari itu, kita menanti Ramang dan Gareng lain, pemain-pemain yang diharapkan bermain kesetanan di lapangan seperti Si Gareng itu, demi Garuda di dadanya.

Adakah peluang kita? Tentu saja ada. Modal dasarnya adalah animo masyarakat yang luar biasa besarnya terhadap sepakbola, di samping jumlah penduduk kita juga besar. FIFA telah memberikan relaksasi, karena mereka sesungguhnya tahu potensi besar Indonesia. Sepakbola di Indonesia bila berada pada lintasan yang benar akan tumbuh menjadi industri yang menjanjikan. Kita harus memiliki banyak lapangan sepakbola di lingkungan masyarakat yang rumputnya terpelihara dengan baik. Di sanalah anak-anak sekolah sepakbola kita berlatih serius menjadi bintang di masa depan. Anak-anak yang tumbuh menjadi pemuda yang pantang menyerah dan berani berkata, daripada hidup menanggung malu lebih mati berkalang tanah. Pemuda seperti Si Gareng yang mampu mencetak hattrik ke gawang Jerman.

Penulis, Ketua Umum Pengprov PSSI Riau.

opini - 0
Tulisan ini sudah di baca 1581 kali
sejak tanggal 20-03-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat