drh. Chaidir, MM | Sepakbola Ninja | OPINI Riau Pos
KURANG beruntung. Itulah gambaran yang tepat untuk Tim Sepakbola PON Riau 2012. Terlibat dalam pertandingan derby, perang saudara melawan Tim PON Sumatera Barat, Riau kecolongan gol di detik-detik terakhir sehingga kemenangan yang sudah di depan mata, akhirnya hilang, dan pertandinga
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sepakbola Ninja

Oleh : drh.chaidir, MM

OPINI Riau Pos
KURANG beruntung. Itulah gambaran yang tepat untuk Tim Sepakbola PON Riau 2012. Terlibat dalam pertandingan derby, perang saudara melawan Tim PON Sumatera Barat, Riau kecolongan gol di detik-detik terakhir sehingga kemenangan yang sudah di depan mata, akhirnya hilang, dan pertandingan berakhir seri 2-2.

Proses gol terakhir itu pun sebuah ketidakberuntungan bagi Riau. Dalam pertandingan manapun diseluruh dunia, jarang-jarang ada penjaga gawang yang dihukum karena dianggap menendang bola melewati garis 16. Asisten Wasit I (hakim garis) menganggap penjaga gawang Tim Riau melakukan kesalahan. Anehnya, ketika AW I memanggil Wasit yang memimpin pertandingan, bola sudah bergulir di tengah lapangan dan permainan sudah berlangsung beberapa menit. Tim Riau protes, tapi Wasit dan AW I tidak menggubris, hukuman harus tetap dijalankan.

Wasit memberikan tendangan bebas indirect (bebas tak langsung) kepada Tim PON Sumbar beberapa sentimeter di luar garis kotak pinalti Riau. Bola kemudian ditendang langsung dan gol. Malangnya, Wasit menyatakan gol itu sah, padahal tendangan bebas itu indirect. Manajer Tim Riau mengajukan protes tertulis, tapi tentu saja itu dianggap angin lalu.

Nasib malang belum berlalu. Dalam pertandingan terakhir Grup C, Tim Riau berhadapan dengan Tim PON Kaltim. Hasilnya, Tim PON Riau menang 2-1. Ketika pluit panjang Wasit berbunyi, tanda pertandingan berakhir, para pemain Riau dan pelatihnya Sutan Harhara melakukan selebrasi, demikian juga official lainnya karena merasa Tim PON Riau lolos ke babak enam besar mendampingi Tim PON Jateng. Nilai Tim PON Riau sama dengan nilai Tim PON Kaltim, sama-sama empat, hasil dari sekali menang, sekali seri dan sekali kalah. Dalam beda gol, Tim PON Kaltim unggul 7-5, sementara Tim Riau 5-6, tetapi secara head to head, Riau mengalahkan Kaltim 2-1.

Malangnya, Panpel Sepakbola PB PON Riau 2012, yang kemudian diperkuat oleh Dewan Hakim PON, ngotot menggunakan peraturan selisih gol, sebuah aturan yang sudah sangat usang, yang sekarang tidak lagi dipakai dalam pertandingan resmi sepakbola di seluruh dunia. Anehnya dalam Buku Petunjuk Teknis Sepakbola PON Riau 2012 yang derbitkan oleh PB PON, aturan yang dilanggar itu tercantum dengan jelas. Selengkapnya berbunyi: "Peraturan Permainan dalam kejuaraan Babak Kualifikasi PON VIII Tahun 2012 Riau yang digunakan adalah Peraturan Permainan Sepakbola dan Penuntun Umum Wasit FIFA yang diterbitkan oleh PSSI dan Peraturan-Peraturan FIFA terbaru yang berlaku dan telah dilaksanakan." (halaman 26 huruf b. butir 1).

Contoh kasus adalah pertandingan Grup A Piala Eropa 2012. Russia dan Yunani nilainya sama-sama empat (sekali menang, sekali seri dan sekali kalah). Dalam hal selisih gol, Russia unggul 5-3, Yunani hanya memiliki selisih gol 3-3 . Tetapi ketika kedua tim bertemu head to head, Yunani menang 1-0 atas Russia. Maka Yunani lolos, Russia tersingkir walau beda gol lebih baik.

Apa masalah kita? Jangan Ada Dendam Diantara Kita. Begitu judul opini Hary B Kori'un (Riau Pos 14/9 halaman 13). Tak lebih tak kurang. Tulisan itu tajam menukik ke jantung, bahwa dunia sepakbola Indonesia sedang mengalami pendarahan hebat. Itulah masalahnya. Dualisme dalam berbagai strata dan sudut persepakbolaan kita sangat menggerogoti wajah persepakbolaan kita.

Tersingkirnya tim sepakbola PON Riau, kemudian dibatalkannya keputusan diskualifikasi terhadap tim sepakbola Jabar yang menyebabkan terdepaknya tim sepakbola Jatim, demikian pula tindakan tidak sportif tim sepakbola PON Sulawesi Tenggara yang mundur dari pertandingan ketika harus berhadapan dengan tim Jambi untuk penentuan lolos dari grup sehingga secara otomatis meloloskan Jambi, adalah sebuah bisul yang meruyak.

Pemain-pemain Tim Sepakbola Riau tak ada masalah apapun dengan pemain Tim Sumbar, Kaltim, Jatim, Jabar, Jambi, Sulawesi Tenggara, dan lain-lain. Pemain-pemain itu adalah atlit yang dalam sanubarinya tertanam rasa persaudaraan dan sportivitas yang tinggi. Masalahnya bukan pada pemain, masalahnya ada di luar lapangan di belakang layar siluman. Ada agenda-agenda tersembunyi yang sering berbau tak sedap tapi tak jelas dimana sumbernya.

Kisruh pertandingan sepakbola PON tak ada kaitannya sama sekali dengan "sepakbola gajah" seperti yang pernah dimainkan oleh timnas Indonesia di Vietnam (Piala Tiger, 1988) dan di Bahrain (Kualifikasi Piala Asia 2012), juga oleh Persebaya ketika juara perserikatan pada 1988. Dalam sepakbola gajah, pemain dipaksa ikut bersekongkol. Kisruh pertandingan sepakbola PON Riau 2012 merupakan gambaran dari sebuah penyakit sistemik yang sudah stadium empat. Masayarakat persepakbolaan kita telah disusupi oleh ninja. Kelompok gerakan bawah tanah sebagaimana layaknya ninja di zaman feodal Jepang. Para Ninja ini sangat ahli melakukan penyusupan dan melempar pisau tanpa bunyi. Ninja tidak memiliki status mulia seperti samurai, sehingga bebas melakukan apapun tanpa terikat oleh nama baik keluarga dan kehormatan. Jadi jangan heran bila persepakbolaan kita karut marut tak karu-karuan.

Itulah masalah kita. Untuk kepentingan sempit dan ego, kita tidak mau patuh kepada induk organisasi sepakbola dunia, FIFA. Hary B Kori'un benar, semua stakeholder sepakbola di Indonesia harusnya paham bahwa FIFA adalah satu-satunya federasi sepakbola di dunia.

Jadi, para pemain sepakbola Tim PON Riau dan Jatim, jangan terlalu galau. La tahzan, jangan sedih. Kalian bintang-bintang muda yang punya masa depan, terus bangun jiwa kesatria dan junjung tinggi sportivitas. Para Ninja yang selalu merasa paling benar itu, yang tidak memiliki keterhormatan, tak akan mampu melawan kehendak zaman.

opini - Riau Pos 19 September 2012
Tulisan ini sudah di baca 2076 kali
sejak tanggal 20-09-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat