drh. Chaidir, MM | Derby Della Sumatera (Dari Sudut Arena PON Riau) | QUE sera sera, kata orang Spanyol. Whatever will be, will be, kata orang Inggeris. Apa yang terjadi, terjadilah, kata Yung Dolah dari Bengkalis. Beda frasa satu makna, tak masalah. Pertunjukan harus berlangsung. PON XVIII Riau 2012 dengan segala pahit manisnya, mulai bergulir. Cabor aeromodelling di
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Derby Della Sumatera (Dari Sudut Arena PON Riau)

Oleh : drh.chaidir, MM

QUE sera sera, kata orang Spanyol. Whatever will be, will be, kata orang Inggeris. Apa yang terjadi, terjadilah, kata Yung Dolah dari Bengkalis. Beda frasa satu makna, tak masalah. Pertunjukan harus berlangsung. PON XVIII Riau 2012 dengan segala pahit manisnya, mulai bergulir. Cabor aeromodelling di lapangan terbang Japura, Rengat, Indragiri Hulu bahkan sudah dimulai kemaren pagi. Cabor Sepakbola mulai bertanding hari ini. Seremoni pembukaan yang rencananya akan dihadiri Presiden SBY memang baru akan berlangsung 11 September beberapa hari lagi. Itu biasa. Olimpiade London 2012 yang baru saja usai juga begitu, beberapa cabor sudah mulai bertanding sebelum pesta pembukaan.

Namun sayang disayang, khusus untuk cabor paling bergengsi, yakni sepakbola, belum-belum tim sepakbola tuan rumah, Riau, sore ini di Bangkinang, Kabupaten Kampar, sudah harus terlibat "perang saudara" atau lebih keren disebut "derby della Sumatera," melawan tim sepakbola Sumatera Barat. Hasil undian beberapa waktu lalu kurang menguntungkan kedua tim bersaudara, karena harus saling terkam dalam babak penyisihan di Grup C. Tim yang menang atau yang kalah dalam derby ini memang belum menjamin pasti lolos ke babak perempat final atau langsung tersingkir. Tidak. Sebab masih ada dua kompetitor lain di Grup C yakni Kalimantan Selatan dan Jawa Tengah.

Tim Sumatera Barat tentulah bukan lawan yang dapat dibilang enteng. Tradisi sepakbola di Sumbar lebih tua dibanding tradisi sepakbola di Riau. Dari dulu, kesebelasan PSP dan Semen Padang selalu menjadi momok bagi kesebelasan di Riau. Tim "Urang Awak" ini selalu sulit dikalahkan. Demikian pula tim PON Jawa Tengah, pastilah sebuah tim yang tangguh. PSIS Semarang misalnya, pernah menjadi kiblat persepakbolaan nasional ketika mereka menjuarai kompetisi perserikatan yang dulu sangat bergengsi di Tanah Air. Persepakbolaan Sumbar dan Jawa Tengah sudah lama maju. Kedua daerah boleh disebut berada di papan atas pentas sepakbola nasional. Dan tim sepakbola Kalimantan Selatan, tak akan berada di Riau kecuali mereka telah lolos babak prakualifikasi. Artinya, tim Kalimantan Selatan juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Untuk sekadar catatan saja, walau berbeda wilayah kualifikasi, tim sepakbola ibukota Jakarta tidak lolos babak prakualifikasi sehingga tidak berhak mengikuti PON ke XVIII di Riau. Begiutlah kerasnya persaingan di cabang sepakbola.

Tapi masih segar dalam ingatan kita, tim sepakbola Jepang dan tim sepakbola Korea Selatan, semula tak diperhitungkan dalam Olimpiade London 2012. Tim mereka hanya berisi pemain-pemain muda yang belum punya nama di pentas dunia dibandingkan dengan pemain-pemain timnas Spanyol, Inggeris, Uruguay, Brazil, dan tim Eropa lainnya. Tapi Jepang dan Korea Selatan berhasil membuktikan, dengan semangat tinggi dan dengan kekompakan di dalam di luar lapangan, kedua tim Asia ini berhasil mencatat sejarah lolos ke babak semifinal. Bahkan Spanyol, yang sebagian pemainnya adalah bintang yang memenangkan Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012, dpermalukan oleh timnas Jepang, dan gugur di babak penyisihan. Di semifinal, Jepang dan Korea Selatan baru terpaksa mengakui kehebatan Meksiko dan Brazil yang memang selalu memiliki pemain-pemain dengan talenta sangat bagus. Khusus untuk cabang sepakbola putra, Olimpiade London 2012 memberi pelajaran kepada kita, nama besar belum menjamin sebuah tim pasti menang melawan tim anak bawang. Di sini berlaku adagium, bola itu bundar.

Tim sepakbola Riau bermain di kandang sendiri. Tak bisa dipungkiri, di arena sepakbola dukungan supporter tuan rumah akan menjadi pemain keduabelas. Artinya, ketika pluit tanda pertandingan dimulai, tim tuan rumah ibarat sudah unggul satu pemain. Tuan rumah seakan memiliki tenaga ekstra untuk mengejar bola kemana pun. Apatah lagi Bupati Kampar, Jefry Noer, sangat mengayomi dan ikut memompa semangat juang para pemain tim sepakbola Riau. Anak-anak anggota tim Riau terlihat sangat nyaman berada di Bangkinang.

Seluruh stakeholder sepakbola di Riau tentu mengharapkan tim sepakbola PON Riau bisa meraih kemenangan demi kemenangan. Namun kualitas pertandingan dengan senantiasa menjunjung tinggi sportifitas tetap harus dijaga. Sebagaimana semangat olimpiade, PON pun memiliki semangat yang sama, yakni menjunjung tinggi semangat persaudaraan, persatuan dan sportivitas. Kemenangan memang penting, tapi yang lebih jauh lebih penting adalah nilai positif dari usaha-usaha yang dilakukan dalam meraih kemenangan tersebut. Semua atlit sejati di planit bumi ini pasti akrab dengan motto "Citius Altius Fortius." Tiga kata-kata Latin itu adalah motto olimpiade, bermakna "Lebih Cepat, Lebih Tinggi Lebih Kuat." Semua atlit tentu ingin menjadi yang lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat, tetapi semuanya diselimuti oleh semangat persaudaraan, persatuan dan sportivitas.

Apa yang diucapkan oleh atlit ski legendaries Prancis, Jean Claude Killy, Juara Olimpiade Ski di puncak Gunung Alpin, sangat menarik untuk direnungkan. "Kompetisi melatih pengendalian diri. Mengajarkan tentang kekalahan dan kemenangan, tidak hanya dalam dunia olah raga namun juga tergambar dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus memahami bahwa kita bisa saja kalah di suatu hari dan bisa menang di hari selanjutnya. Selalu dengan senyuman yang sama di wajah kita."

Sebagai stakeholder sepakbola Riau, harapan penulis tentu sama dengan harapan masyarakat, tim sepakbola PON Riau diharapkan dapat berjuang habis-habisan di lapangan sehingga mampu meraih kemenangan dan lolos ke babak berikutnya. Cabang sepakbola memiliki tempat khusus di hati masyarakat. Namun apapun hasilnya, kita sambut dengan seulas senyum, seperti pesan Jean Claude Killy.

opini - Riau Pos  5 September 2012
Tulisan ini sudah di baca 1883 kali
sejak tanggal 06-09-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat