drh. Chaidir, MM | Rethinking Riau (Sebuah Catatan Renungan HUT ke-55 Provinsi Riau) | PADA 9 Juli 2012 ini, Riau sebagai sebuah provinsi berusia 55 tahun. Peringatan hari jadi sebuah negeri tak berkonotasi semakin pendeknya usia. Justru sebaliknya, semakin tua usia sebuah negeri, semakin maju peradabannya, semakin canggih ilmu pengetahuannya, dan semakin memberikan kemudahan serta ke
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Rethinking Riau (Sebuah Catatan Renungan HUT ke-55 Provinsi Riau)

Oleh : drh.chaidir, MM

PADA 9 Juli 2012 ini, Riau sebagai sebuah provinsi berusia 55 tahun. Peringatan hari jadi sebuah negeri tak berkonotasi semakin pendeknya usia. Justru sebaliknya, semakin tua usia sebuah negeri, semakin maju peradabannya, semakin canggih ilmu pengetahuannya, dan semakin memberikan kemudahan serta kehidupan yang lebih baik bagi warganya. Dan itulah agaknya realitas yang terjadi di Riau.

Dalam pembangunan ekonomi misalnya, bohong kalau disebut Riau sebagai daerah gagal, kendati akhir-akhir ini ibarat sebuah pesawat terbang yang dilanda turbulensi hebat. Beberapa indikator makro menunjukkan secara kuantitatif performa Riau bagus. Angka pertumbuhan ekonomi Riau 2011 masih tinggi (data BPS per Februari 2012 sebesar 7,63 persen), diatas angka nasional sebesar 6,5 persen.  Demikian juga angka inflasi, relatif terkendali di angka 5,9 persen. Secara obyektif, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dipublikasi oleh Badan Pusat Statistik Indonesia, sangat menggembirakan. Dari 33 provinsi, Riau dengan IPM 0,750 berada pada urutan ketiga setelah DKI Jakarta (0,770) dan Sulawesi Utara (0,751).

IPM adalah pengukuran perbandingan dari usia harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

Secara fisik kita bisa melihat dengan mata kepala betapa pesatnya pembangunan di seluruh daerah kota dan kabupaten. Jalan, jembatan dan gedung-gedung megah tersebar di serata negeri. Jembatan-jembatan raksasa seperti gurita merangkai Batang Rokan, Sungai Siak, Batang Kampar dan Singai Indragiri. Di Ibukota Provinsi Riau, gedung-gedung jangkung mulai menjulur ke angkasa, tak ketinggalan proyek prestisius dua buah fly-over. Ada pula Stadion Utama Riau di kampus UNRI yang baru saja dipakai sebagai tempat pertandingan internasional Piala Asia U22 Grup E. Fasilitas tersebut telah menyebabkan Riau seperti melakukan sebuah lompatan besar.

Namun indikator makro tak selamanya seiring sejalan dengan tingkat kepuasan publik. Penyebabnya? Sekurang-kurangnya ada dua factor. Pertama, harapan atau mimpi-mimpi masyarakat terhadap pembangunan sangat tinggi. Akibatnya harapan dan kenyataan tak sejalan. Kedua, sukatan kepuasan tak sama cupaknya antara masyarakat dengan ukuran yang ditentukan oleh lembaga pemerintah. Lusinan anugerah di lemari penguasa bagi masyarakat tak ada artinya sama sekali bila tidak instrumental bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Kepuasan publik tidak terletak pada pemberi pelayanan, kepuasan publik tercipta bila keinginan, harapan dan kebutuhan masyarakat terpenuhi secara berkualitas.

Di samping masalah tingkat kepuasan publik, kita juga menghadapi masalah serius dengan tingkat kepercayaan sosial masyarakat yang akhir-akhir ini merosot tajam. Berbagai institusi yang pada awalnya memiliki kapasitas, satu persatu mengalami keruntuhan legitimasi informal. Virus egoisme yang berlebihan nampaknya telah menggerogoti akal budi secara sistemik. Kecerdasan masyarakat menurun secara drastis sehingga tak lagi mampu membedakan benar-salah, baik-buruk secara diametris.

Masyarakat kita kelihatannya telah berubah menjadi masyarakat anomie sebagaimana digambarkan sosiolog ternama Prancis abad ke-19, Émile Durkheim. Ada kekacauan dalam diri individu masyarakat yang dicirikan oleh ketidakhadiran nilai-nilai. Hal ini terjadi apabila masyarakat mengalami perubahan-perubahan besar, entah semakin baik atau semakin buruk, dan lebih umum lagi ketika ada kesenjangan besar antara teori-teori dan nilai-nilai ideologis yang umumnya diakui dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Robert King Merton lebih jauh mendefinisikan terciptanya masyarakat yang anomie itu akibat kesenjangan antara tujuan-tujuan sosial bersama dan cara-cara yang sah untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dengan kata lain, individu yang mengalami anomie akan berusaha mencapai tujuan-tujuan bersama, namun tidak dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut dengan sah karena berbagai keterbatasan sosial. Akibatnya, individu itu akan memperlihatkan perilaku menyimpang untuk memuaskan dirinya sendiri. Gambaran perilaku inilah agaknya yang terhidang secara memilukan di berbagai media di tengah gegap gempitanya sebuah kenduri.

Di tengah peringatan hari jadi Riau tahun ini, ketika berkah dan musibah hanya beda-beda tipis, kita perlu melakukan kontemplasi. Tak perlu pesimistis. Tapi sebuah pemikiran rethinking, kaji ulang secara fundamental, harus dilakukan. Ada sekian banyak lembaga konsultan terbilang kelas dunia yang bisa dimanfaatkan keahliannya. Jujur, kajian-kajian konvensional sama sekali tak lagi memadai untuk merajut hari esok yang lebih baik. Kita belum terlambat. Syabas Riau.

opini - Riau Pos 7 Agustus 2012
Tulisan ini sudah di baca 1905 kali
sejak tanggal 09-08-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat