drh. Chaidir, MM | Pujangga Hasan Junus Dalam Kenangan | PUJANGGA Hasan Junus telah berlayar meninggalkan dermaga, sendirian di samudera sepi tak bertepi, dan tak akan pernah kembali.  Pepatah Latin, <em>verba volant scripta manent</em>, sangat tepat menggambarkan eksistensi sosok Hasan Junus. Kata-kata lisan itu bisa terbang hilang melayang, mudah dilupa
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pujangga Hasan Junus Dalam Kenangan

Oleh : drh.chaidir, MM

PUJANGGA Hasan Junus telah berlayar meninggalkan dermaga, sendirian di samudera sepi tak bertepi, dan tak akan pernah kembali. Pepatah Latin, verba volant scripta manent, sangat tepat menggambarkan eksistensi sosok Hasan Junus. Kata-kata lisan itu bisa terbang hilang melayang, mudah dilupakan, sebaliknya apa yang ditulis akan tetap tinggal.

Karyanya dalam berbagai genre yang lahir dari kecendekiawanan, kecerdasan, kepedulian dan kesetiaannya kepada sastra berupa puisi, cerpen, naskah sandiwara, novelet, esai, kritik sastra mengalir deras semasa hidupnya. Tulisannya bertebaran dimana-mana, dalam bentuk buku, berbagai majalah dan surat kabar.

Hasan Junus memang terlahir sebagai seorang pujangga. Intelektual Melayu, Abdul Malik, sebagaimana dimuat www.tamadunmelayu.info (22/10/2011) menulis, "di dalam diri Hasan Junus mengalir darah kepengarangan Raja Ali Haji, pujangga terkenal Melayu, pahlawan nasional, dan Bapak Bahasa Indonesia. Kakek dari ayahanda Hasan Junus, Raja Haji Muhammad Junus adalah Raja Haji Umar tak lain tak bukan adalah saudara kandung Raja Ali Haji. Kedua orang itu adalah Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua. Bukankah Engku Haji Tua adalah seorang pengarang?" Abdul Malik selanjutnya menyebut, Aisyah Sulaiman, pengarang dan pejuang marwah perempuan adalah ibu saudara dua pupu Hasan Junus.

Darah kepujanggaan Hasan Junus itu memperkuat dalil dalam pepatah Latin lainnya, Poeta nascitur non fit. Pujangga itu dilahirkan bukan dibentuk. Oleh karena itu Hasan Junus tak akan tergantikan. Penguasaan bahasa asing seperti bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman yang diperolehnya secara otodidak memungkin Hasan Junus melakukan "pengembaraan" intelektual untuk mendalami karya sastra barat. Oleh karena itu tak berlebihan bila budayawan Prof Dr Yusmar Yusuf menyebut, "Dia adalah samudera pengetahuan bagi Melayu. Dalam diri Hasan Junus bertemu segala sayap Bumi: ya Barat ya Timur. Semua berjalin menjadi satu jahitan mengukuhkan identitas Melayu. Hasan Junus mewarisi segala khazanah kebudayaan dunia: Timur setimur-timurnya, Barat sebarat-baratnya, dengan tidak meninggalkan setitik pun sumber mata air Melayu itu." (Riau Pos, 1/4/2012). Artinya, kendati Hasan Junus banyak memberi apresiasi terhadap sastra Barat, dia tetaplah seorang pujangga yang sangat sadar akan jati dirinya sebagai pewaris tradisi kepengarangan di negerinya. Sejarah Kesultanan Riau-Lingga tersohor bukan karena keberaniannya menghunus pedang, tetapi oleh agenda kesusasteraan.

Hasan Junus bukanlah pujangga yang berkarya sekadar berkarya. Namanya tak hanya dikenal di peringkat daerah Kepulauan Riau dan rantau Riau, tetapi juga dikagumi di persada nusantara, bahkan sampai ke luar negeri. Oleh karena itulah pecinta kesusasteraan nusantara menyebutnya sebagai Paus sastra Indonesia, menyandingkannya dengan HB Jassin. Hebatnya, Hasan Junus tidak hanya menulis esai kritik sastra seperti HB Jassin, tapi ia juga menulis puisi, cerpen, novel dan naskah drama. Cerpen karyanya, Pengantin Boneka, misalnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jeanette Lingard dan diterbitkan dalam Diverse Lives-Contemporary Stories from Indonesia oleh Oxford University Press (1995), sebuah penerbit bergensi di dunia. Bukunya Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau, diterbitkan oleh penerbit Adicita, Yogyakarta (2003) yang ditulis bersama Abdul Malik, Tenas Effendy, dan Auzar Thaher, kini menjadi bacaan di Australia dan dikoleksi oleh National Library of Australia. (Abdul Malik, www.tamadunmelayu.info 22/10/2011)

Hasan Junus memiliki dedikasi yang sangat tinggi terhadap sastra, tak ada yang meragukan sama sekali. Di usianya yang sudah senja dan kesehatan mulai menurun, selama beberapa tahun terakhir ia masih rajin menulis secara kontinyu. Rubrik esai sastra Rampai Pujangga Hasan Junus yang terbit setiap hari Ahad di harian pagi Riau Pos, yang ditulisnya dengan bahasa sangat menarik penuh frasa berona (colorfull word), tak akan pernah lagi muncul selamanya. Kita sungguh merasa kehilangan. Rasanya ada sesuatu yang hampa di halaman di mana biasanya rubrik Rampai Sang Pujangga.

Suatu kali saya hampir pingsan membaca Rampai Hasan Junus. Dengan judul "Ombak" Rampai tersebut nampaknya khusus sebagai bentuk apresiasi Sang Pujangga terhadap buku kumpulan esai saya, Membaca Ombak yang diberi Kata Pengantar oleh sastrawan Goenawan Mohamad. Saya sungguh merasa tersanjung. Sebuah karya tulis, menurut Hasan Junus, mendapat tempat yang terhormat kalau ada seseorang yang terilhami atau inspire par karya itu. Dan buku Membaca Ombak nampaknya berhasil memancing Sang Pujangga menoleh. Tidak hanya sekedar menoleh, dia pun memberi petuah agar saya mengambil teladan dari sosok leluhur Melayu, Demang Lebar Daun, mertua Raja Sri Tri Buana. Demang Lebar Daun memposisikan diri sebagai wakil rakyatnya untuk membuat kontrak sosial pertama di alam Melayu. Sang Raja dan mertua yang mewakili rakyat bersepakat untuk saling setia. Bahkan Demang Lebar Daun menegaskan, sebagaimana ditulis Hasan Junus, apabila dari keturunannya melakukan kesalahan, hukumlah. Kalau kesalahannya besar dan sepadan untuk dibunuh, maka boleh dibunuh, tapi sekali-sekali jangan dipermalukan.

Demang Lebar Daun itu pulalah kemudian yang menjadi judul buku kumpulan esai saya setelah Membaca Ombak. Buku tersebut sebenarnya sebuah buku kumpulan esai biasa, namun menjadi kenangan tak terlupakan ketika diberi judul Demang Lebar Daun, yang dipilih atas restu Hasan Junus. Dan buku tersebut secara khusus pula diberi Kata Pengantar oleh Sang Pujangga. "Hanya Anda yang boleh menggunakan judul Demang Lebar Daun, karena Anda Demang Lebar Daun masa kini" kata Sang Pujangga bergurau. Ketika itu (2007) saya memang masih menjabat sebagai wakil rakyat dengan posisi Ketua DPRD Provinsi Riau.

Kini "Paus Sastra Indonesia" itu telah berangkat dengan lambaian mesra meninggalkan aroma harum mewangi yang melekat pada nama, karya sastra dan kenangan indah yang ditorehkannya. Selamat jalan Signor, ci vediamo.

opini - Riau Pos 4 April 2012
Tulisan ini sudah di baca 3689 kali
sejak tanggal 05-04-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat