drh. Chaidir, MM | Melodrama Blok XYZ | Sebuah pergelaran yang lebih mengedepankan ketegangan dari kebenaran, kini sedang berlangsung di Ambalat, Kalimantan Timur. Dua armada Angkatan Laut dari dua negeri serumpun berhadap-hadapan dalam posisi combat ready - siap tempur. TNI AL di satu sisi, Angkatan Laut Tentara Diraja Malaysia di sisi l
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Melodrama Blok XYZ

Oleh : drh.chaidir, MM

Sebuah pergelaran yang lebih mengedepankan ketegangan dari kebenaran, kini sedang berlangsung di Ambalat, Kalimantan Timur. Dua armada Angkatan Laut dari dua negeri serumpun berhadap-hadapan dalam posisi combat ready - siap tempur. TNI AL di satu sisi, Angkatan Laut Tentara Diraja Malaysia di sisi lain. Bila-bila masa saja, meriam kedua armada siap berdentam-dentum dan putra-putra bangsa yang gagah berani dari kedua negeri satu demi satu akan berguguran. Semua atas nama patriotisme, semua atas nama membela tanah air sampai tetesan darah penghabisan. Tragis.

Melodrama Ambalat ini tentu layak menjadi renungan, bagi yang masih mau bertanya dalam hati. Haruskah perang fisik menjadi solusi? Betulkah kini hanya tinggal perang yang menjadi penentu, tidak ada cara lain yang lebih manusiawi? Mungkinkah sudah tersumbat segala lorong komunikasi dan diplomasi? Sudahkah dicoba segala bentuk mediasi?

Semestinya, bila saja masih ada ruang kearifan, krisis Ambalat tidak perlu terseret pusaran arus sentimen parokial. Hanya saja, secara kebetulan, krisis Ambalat mencuat bersamaan dengan masa kampanye pemilihan Presiden RI 2009. Oleh sebab itu jangankan isu seperti Ambalat, masalah-masalah sepele saja cukup menjadi bahan propaganda bagi masing-masing kubu Capres. Dan hal ini pasti disambut gegap gempita oleh media pers. Tapi media tidak bisa dikambing hitamkan. Sebab bagi dunia pers yang bebas, tetap berlaku adagium bad news good news.

Perang di Ambalat memang belum terjadi (semogalah tidak terjadi!!). Tetapi akibat provokasi berlebihan dari sementara kalangan untuk sekedar mencari popularitas instan, naluri sentimen mereka yang tak mampu berpikir jernih menjadi eskalatif. Seharusnya agenda politik penting seperti Pilpres, berfungsi sebagai pencerahan masyarakat melalui debat visi, misi dan program-program prioritas. Gagasan brilian hasil olah pikir rasional yang dilandasi akal budi, diartikulasikan dengan penuh sopan santun berbudi bahasa. Kemenangan Capres yang diperoleh dengan penuh keterhormatan akan memberi implikasi positif kepada bangsa ini. Masyarakat dunia akan menaruh respek. Bukan sebaliknya, kampanye berlebihan dengan mengelaborasi isu patriotisme sempit. Sebab hal ini mendorong masyarakat kita ke arah degradasi berpikir. Masyarakat disuguhi "tontonan" kelas layar tancap, dibuai retorika dan janji murahan. Tepuk tangan kelihatan lebih penting dari substansi. Untuk tepuk tangan, apapun dilakukan termasuk caci-maki, black campaign, bahkan fitnah. Bangsa ini turun kelas dalam pendidikan politik dan demokrasi.

Namun tidak bisa dipungkiri, bila semua jalan komunikasi, diplomasi dan semua bentuk mediasi sudah ditempuh dan ternyata buntu, siapa pun paham, untuk mempertahankan sejengkal wilayah Negara, semua anak bangsa rela berkorban jiwa dan raga. Kepulauan Ambalat adalah bagian dari ibu pertiwi. Bahwa Ambalat terutama zona Blok XYZ memiliki cadangan minyak tidak kurang dari dua miliar barrel dan 3-5 triliun kubik gas alam cair (LNG), itu masalah lain. Tanpa potensi yang kaya raya itupun kita akan pertahankan sampai mati. Orang tua-tua kita mengajarkan, untuk membela hak dan harga diri, lebih baik berputih tulang daripada berputih mata.

Bahwa dalam beberapa pekan terakhir ini kedua Negeri mengerahkan armada lautnya di perairan Ambalat, itu sebenarnya biasa dalam rezim maritim dunia sebagai simbol kedaulatan di wilayah masing-masing. Masalahnya, kita trauma dengan sengketa Sipadan dan Ligitan yang dimenangkan Malaysia di Mahkamah Internasional pada 2002. Tapi posisi sengketa ketika itu memang beda dengan krisis Ambalat.

Sekarang, untuk perang, kedua belah pihak tentu harus berpikir seribu kali. Perang dalam banyak kasus tidak pernah mampu menyelesaikan inti persoalan, tak jarang bahkan berkelok-kelok liar menjadi kepentingan rezim, kepentingan industri senjata dan keuntungan para pakang kelas kakap. Rumitnya, taktik devide et impera di zaman modern ini tidak lagi vulgar seperti zaman VOC dulu, kini adu-domba bisa terbungkus rapi dalam kemasan patriotisme. Tanpa terasa, kelompok-kelompok yang tidak puas, yang kurang beruntung dalam masyarakat, yang memendam sentimen, diprovokasi dan dibentur-benturkan dengan isu patriotisme dan nasionalisme. Bagi kelompok ini, tanpa berpikir panjang, tentu saja pucuk dicinta ulam tiba. Para koruptor, penjahat dan pelaku perbuatan illegal di negeri ini, akan bergembira-ria memancing di air keruh. Mereka-mereka ini tidak menginginkan iklim aman, damai dan sejahtera, habitat mereka adalah negeri yang kacau. Dan mereka semua akan bersorak-sorai.

Kalau sudah terperangkap dalam perang, maka akan berlaku keadaan darurat, tamatlah riwayat reformasi yang diperjuangkan oleh mahasiswa dengan nyawa dan air mata. Agenda-agenda reformasi tak lagi bisa ditegakkan. Pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN, supremasi hukum, demokrasi akan terkubur. Negeri kita akan terpuruk.

Dalam perspektif Sumatera Bagian Tengah dan Timur, khususnya Riau, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi dan Sumatera Utara bagian Timur, bahkan juga bagi Suku Bugis Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat dan komunitas Bawean di Madura, konfrontasi dengan Malaysia akan sangat menyedihkan. Ikatan persaudaraan sebagai negeri serumpun tidak hanya sebatas kesamaan akar budaya, tetapi secara fisik ikatan kekeluargaannya sudah bertali-temali. Hubungan darah sudah terjalin turun-temurun. Bagaimana mau perang, di sini dan di sana ada cucu kemenakan, ada karib kerabat. Di sini dan di sana, sama-sama suka nasi padang, sate padang, roti canai, roti parata, kari ayam, kari kambing. Kita makan makanan yang sama, dengan cara yang sama dan berceloteh dengan gaya yang sama.

Bangsa ini tidak takut berperang. Kita punya tradisi perang. Meriam tentara sekutu pernah dilawan dengan bambu runcing. Sejarah mencatat, kendati banyak korban, tapi bambu runcing menang. Tapi perang di zaman modern ini memerlukan biaya yang sangat mahal. Pembelian senjata dan peralatan perang, mobilisasi armada dan angkatan perang, operasi-operasi militer, semua memerlukan biaya yang jumlahnya mengerikan. Perkiraan Presiden SBY, biaya perang sekitar Rp30 trilyun perbulan, agaknya tidak berlebihan. Pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi, Joseph Stiglitz, menulis dalam bukunya The Three Trillion Dollar War: The True Cost of the Iraq Conflict, operasi militer Amerika Serikat di Irak bahkan menghabiskan dana sedikitnya tiga trilyun dolar atau kira-kira setara Rp30.000 trilyun untuk masa lima tahun operasi militer. Atau kira-kira Rp500 trilyun perbulan (separoh APBN 2009). Mengerikan.

Yang paling tragis, yang merupakan inti penolakan kita terhadap perang, adalah bahwa perang akan lebih banyak menimbulkan kehancuran. Perang Dunia I dan II membunuh lebih dari 16 juta manusia, yang sebagian besar dari korban, justru adalah masyarakat sipil yang tidak tahu menahu dan tidak punya kepentingan apapun terhadap perang. Pada rentang waktu yang sama, kita menyaksikan pula tingkat kemiskinan membengkak, jutaan anak dan wanita terserang penyakit, dan sejumlah kemajuan serta pranata sosial dan ekonomi yang telah dibangun hancur berkeping-keping. Dalam Perang Irak-AS, 4099 tentara AS tewas, puluhan ribu tentara Irak mengalami nasib yang sama, tidak terhitung masyarakat sipil. "Ketika perang usai, setelah kedua belah pihak lelah baku hantam dan akhirnya berdamai, apakah sebenarnya yang diperoleh rakyat? Pajak, janda, anak-anak yang kehilangan bapak, kaki kayu, dan utang." kata Francis Moore.

Itukah yang kita inginkan? Patriotisme dan nasionalisme harus memikirkan nasib rakyat banyak yang pasti menderita bila semangat itu digunakan secara salah. Cinta tanah air, tidak dijastifikasi dengan keberanian berperang. "Cinta buta seperti itu akan menghancurkan," kata sastrawan Prancis Albert Camus. Saya sependapat. Diplomasi adalah solusi paling bijak sebagaimana ditulis Pujangga Melayu Raja Ali Haji "Segala pekerjaan pedang itu boleh dibuat dengan kalam, adapun pekerjaan kalam tiada boleh dibuat pedang. Berapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, dengan segores kalam jadi tersarung."

drh Chaidir, MM, kolomnis, mantan Ketua DPRD Riau.

opini - Riau Pos 16 Juni 2009
Tulisan ini sudah di baca 3760 kali
sejak tanggal 16-06-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat