drh. Chaidir, MM | Bela Negara vs Radikalisme - (Sebuah Catatan Kecil HUT TNI) | MENGUTIP frasa artis Syahrini,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bela Negara vs Radikalisme - (Sebuah Catatan Kecil HUT TNI)

Oleh : drh.chaidir, MM

MENGUTIP frasa artis Syahrini, "sesuatu banget", rasa-rasanya memang ada yang sesuatu banget dalam kehidupan kita berbangsa dan bermasyarakat dewasa ini. Sayangnya, yang sesuatu banget dimaksud, bukan sesuatu yang indah seperti konotasi kata beronanya Syahrini itu, melainkan sesuatu yang sangat memprihatinkan.

Sesuatu itu adalah krisis semangat nasionalisme dan patriotisme bangsa kita. Layaknya seperti lirik lagu album kenangan Dewi Yull, "Kau Bukan Dirimu", "mimpikah diriku/melihat dirimu/walau kau berada/dekat disisiku/namun terasa jauh." Kita masih berdiri di sini, di Tanah Tumpah Darah kita, tetapi ada sesuatu yang telah berubah. Jujurlah. Semangat nasionalisme itu kini sedang mengalami abrasi hebat laksana pantai timur Sumatera yang setiap tahun runtuh sejengkal demi sejengkal akibat hantaman gelombang Selat Melaka.

Radikalisme

Mungkin hipotesa itu berlebihan. Tapi beberapa indikasi terlihat secara kasat mata di tengah kehidupan kita, betapa mencemaskannya persepsi umum terhadap semangat kebangsaan kita. Semangat toleransi menurun, semangat saling harga menghargai segan menyegani merosot, semangat kesetiakawanan menyempit, rasa senasib sepenanggungan ketinggalan mode. Semangat tolong menolong tergantung kepentingan. Semangat rela berkorban dianggap kuno. Pendidikan Pancasila? Ah itu mata ajaran proforma. Mata ajaran Pancasila ideologi bangsa itu, agaknya telah kehilangan rona.

Yang tumbuh subur di tengah masyarakat justru pemahaman sempit. Kotak-kotak luas fungsional menyempit menjadi kotak-kotak kedaerahan. Bahkan paham kedaerahan sempit (parokialisme) semakin menjadi-jadi. Kepentingan kelompok dan kepentingan partai mengalahkan kepentingan bangsa. Semangat "esprit de corps" yang salah kaprah, dipertontonkan dengan sempurna oleh DPR kita. Rasa cinta kepada korps mengalahkan rasa cinta kepada bangsa, sehingga mereka rela mogok membahas RAPBN 2012.

Paham radikal dan paham ekstrim masuk ke wilayah yang sangat eksklusif. Masyarakat kita seakan bermetamorfosa menjadi masyarakat anomi, masyarakat yang kehilangan arah, masyarakat yang sinis terhadap sistem norma; kewibawaan hukum runtuh, dan terjadi disorganisasi hubungan antar manusia. Manifestasi dari semua itu, ada mafia anggaran, pesta pora mafia proyek, rekening gendut para penguasa, merajalelanya aji mumpung, pengrusakan lingkungan (illegal logging), kelompok-kelompok masyarakat yang beringas sehingga tidak segan-segan berkelahi antar kelompok bahkan bila perlu dengan aparat penegak humum. Kekerasan yang berbau SARA tidak lagi malu-malu, demikian pula gerakan separatis (upaya mendirikan Negara dalam Negara) dan anarkis. Dan puncak radikalisme itu adalah maraknya bom bunuh diri, sesuatu yang dulu tak pernah terbayangkan sama sekali.

Wajib Militer

Karut marut permasalahan itu tentu saja sangat merisaukan, tapi sekaligus menyadarkan kita, bahwa ancaman keselamatan dan keutuhan bangsa kita dewasa ini dan agaknya juga ke depan, lebih potensial berasal dari dalam, bukan dari luar. Walau bukan berarti kita mengurangi kewaspadaan terhadap ancaman dari luar. Ini agaknya sejalan dengan pandangan pakar manajemen Peter Drucker, "the enemy is not out there". Musuh tidak berada di luar sana, ujar Drucker. Konteks Drucker memang ancaman terhadap sebuah managemen, tetapi tetap relevan untuk permasalahan bangsa.

Ancaman tidak hanya dalam bentuk radikalisme, ekstrimisme, individualisme yang berlebihan, ketidakpuasan, ketidakadilan ekonomi dan hukum, dan sebagainya. Dalam arti yang lebih luas, situasi darurat juga bisa disebabkan karena bencana alam seperti tsunami di Aceh, gempa di Sumatera Barat dan Nias, serta musibah letusan gunung seperti di Yogya, juga longsor dan banjir bandang di berbagai tempat. Yang tak kalah pentingnya adalah ancaman narkoba dan perilaku destruktif lainnya. Apapun bentuk dan namanya, bila menimbulkan dampak yang merugikan rakyat secara luas, apalagi membahayakan keutuhan Negara dan bangsa, maka tanggung jawab tidak hanya dibebankan kepada pundak TNI dan Polri.

Dalam pendekatan itulah dikenal adanya aturan Wajib Militer (Wamil). Wamil memiliki dua alasan. Pertama, Pasal 30 ayat (2) UUD 1945 menyebutkan secara tegas, "Usaha pertahanan dan keamanan Negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara RI sebagai kekuatan utama, dan rakyat sebagai kekuatan pendudukung." Kedua, bangsa kita tengah mengalami krisis nasionalisme. Sebagian anak bangsa terlibat agen teroris untuk menghancurkan bangsa sendiri, pengikut aliran sesat, separatis, narkoba dan perilaku destruktif lainnya yang membahayakan masa depan.

Negara-negara maju umumnya melakukan program Wamil, seperti Singapura, Swiss, Korea Selatan, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Inggris, Taiwan, dan lain-lain. Di Inggris, Pangeran Harry pun tak terkecuali harus mengikuti wamil. Bahkan di Taiwan uniknya, seorang calon mertua akan mencari tahu apakah sang calon menantu sudah ikut wamil atau belum. Bagi calon mertua Wamil itu penting, karena Wamil akan memberi garansi terhadap dua hal: Calon menantu dijamin sehat secara fisik dan memiliki mental yang bagus.

Substansi dari Wamil sesungguhnya adalah bela Negara, bukan militerisasi. Membela Negara pada dasarnya merupakan kewajiban setiap warga Negara. Dalam makna yang lebih luas dan lebih penting Wamil menanamkan jiwa dan semangat nasionalisme di hati sanubari kalangan generasi muda kita. Wamil akan membentuk karakter bangsa yang mencintai Tanah Airnya dan juga membentuk pribadi yang berdisiplin.

Rasanya saat ini, Wamil sudah saatnya untuk dibicarakan secara sungguh-sungguh.

opini - Riau Pos 4 Oktober 2011
Tulisan ini sudah di baca 3627 kali
sejak tanggal 04-10-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat