drh. Chaidir, MM | Tan Lalana | TAK ada lagi ritual di Kendit. Lintasan pendakian Merapi dari selatan melalui Kendit, hanya tinggal dalam kenangan para pendaki. Rute itu tak mungkin lagi didaki sejak erupsi Merapi 2006 kemudian dihantam lagi dengan erupsi dahsyat Sabtu (30/10/2010) dini hari. Erupsi itu dinilai tiga kali lebih dah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tan Lalana

Oleh : drh.chaidir, MM

TAK ada lagi ritual di Kendit. Lintasan pendakian Merapi dari selatan melalui Kendit, hanya tinggal dalam kenangan para pendaki. Rute itu tak mungkin lagi didaki sejak erupsi Merapi 2006 kemudian dihantam lagi dengan erupsi dahsyat Sabtu (30/10/2010) dini hari. Erupsi itu dinilai tiga kali lebih dahsyat ketimbang letusan pada tahun 1997, 2001, dan 2006.

Tapi tidak hanya karena itu. Pemeran utama ritual itu sendiri, kini telah tiada. Mbah Maridjan sang fenomenal telah pergi untuk selamanya ketika kediamannya di Kinahrejo disapu wedhus gembel alias awan panas dari puncak Gunung Merapi, sang gunung yang selama ini justru dicintai dan dijaganya dengan penuh respek.

Sepanjang catatan penulis, tradisi yang terbangun di kalangan pendaki gunung anggota "Merbabu Mountaineer Club" (MERMOUNC), klub pendaki gunung yang berdiri di Yogyakarta, tradisi ritual Mbah Maridjan itu selalu dihormati. Bila pendakian dilakukan dari selatan, rumah Mbah Maridjan di Kinahrejo dijadikan pos terakhir sebelum pendakian. Bila berangkat dari rumahnya, juru kunci Merapi itu ketika masih muda dulu, adakalanya mendampingi para pendaki gunung sampai ke Kendit.

Kendit adalah garis demarkasi, perbatasan antara wilayah yang masih ditumbuhi tanaman perdu dengan wilayah yang hanya terdiri dari bebatuan. Dari Kendit sampai ke puncak Gunung Merapi, tak ada lagi tetumbuhan. Wilayah terjal itu hanya terdiri dari bebatuan yang pada umumnya kokoh, bisa digapai dan juga sebagai pijakan untuk merayap naik, tapi beberapa diantara bebatuan itu mudah lepas sehingga membahayakan pendaki di bawah.

Di Kendit inilah Allahyarham Mbah Maridjan meminta perhatian pendaki sejenak, untuk do'a bersama. Mbah Maridjan khusuk dengan caranya sendiri, para pendaki dengan caranya sendiri pula sesuai dengan keyakinan masing-masing. Sejenak kemudian dengan meneriakkan "Tan Lalana", pantang putus asa (begitu kami Anggota MERMOUNC menyebut), pendaki merayap dengan ekstra hati-hati menuju puncak. Mbah Maridjan, sang juru kunci, turun sendirian ditemani kesunyian alam kembali ke pondoknya di Kinahrejo. Rute ini sudah menyatu dengan Mbah Maridjan.

Pendakian Merapi dari selatan memang sangat atraktif dan menegangkan. Walau rute pendakian dari kediaman Mbah Maridjan ini dianggap berbahaya, namun rute ini lebih digemari di kalangan pendaki. Lebih menantang, memacu adrenalin sampai ke ubun-ubun, dan tak pernah membosankan. Beberepa pendaki bernasib malang tercatat tewas di Merapi, tapi tak pernah menyurutkan semangat. Pendakian dari selatan memang jauh lebih terjal dan lebih sukar dibandingkan dengan medan pendakian dari utara yakni dari Desa Selo, Boyolali, sebuah desa yang terjepit di antara kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tapi rute Selatan ini telah dilarang semenjak erupsi 2006.

Ketika Merapi meletus dahsyat dua hari lalu, Mbah Maridjan tak lagi sempat menyaksikan. Namun drama Merapi kali ini membangkitkan kenangan bagi para bekas pendaki. Manusia banyak belajar dari kearifan alam, tak akan pernah bisa menundukkan alam, tidak juga Merapi.

kolom - Riau Pos 1 November 2010
Tulisan ini sudah di baca 2123 kali
sejak tanggal 01-11-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat