drh. Chaidir, MM | Padi Menguning | RETORIKA Aburizal Bakrie, Ketua Umum DPP Partai Golkar ketika memberi sambutan pada acara peringatan HUT ke-46 Partai Golkar di Jakarta, 20 Oktober beberapa hari lalu, dikutip berbagai media.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Padi Menguning

Oleh : drh.chaidir, MM

RETORIKA Aburizal Bakrie, Ketua Umum DPP Partai Golkar ketika memberi sambutan pada acara peringatan HUT ke-46 Partai Golkar di Jakarta, 20 Oktober beberapa hari lalu, dikutip berbagai media. "Langit masih tetap biru, tapi padi sudah menguning hingga ke pelosok-pelosok desa."

Ungkapan itu, atau lebih tepat sebenarnya sindiran itu, menjadi menarik, karena disampaikan di depan Presiden SBY. Bukankah SBY adalah Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang menggulingkan Partai Golkar pada Pemilu legislatif 2009? Sebagai partai politik yang sudah malang melintang di panggung politik nasional, dan mengklaim sebagai parpol yang paling berpengalaman, Partai Golkar tentu tak berpuas hati atas kekalahan tersebut. Apalagi, ibarat kompetisi sepakbola di Serie A Italia atau di Liga Primer Inggris, Partai Golkar yang selalu menjadi champion, dikalahkan dengan skor meyakinkan oleh tim debutan yang baru promosi.

Maka di bawah "pelatih" baru, Partai Golkar sibuk melakukan pembenahan di semua lini, dan hasilnya sebagaimana diklaim, Partai Golkar pasca Pemilu legislatif 2009 telah memenangkan 53 persen pemilihan umum kepala daerah. Barangkali karena angka tersebut, Aburizal Bakrie menjadi percaya diri.

Sindiran tersebut dapat diartikan sebagai peringatan dini terhadap Partai Demokrat, sebagai partai yang sedang berkuasa (the rulling party), bisa juga sebagai respon terhadap isu reshuffle kabinet SBY yang sedang ramai diwacanakan.

Di lapangan, konstelasi politik lokal memang tidak sederhana. Tidak ada kemenangan tunggal yang bisa diklaim oleh sebuah partai politik. Hal ini disebabkan karena hampir di semua daerah tidak ada parpol yang memperoleh kemenangan dalam pemilu legislatif pada 2009 lalu dengan mayoritas mutlak (lebih dari 50 persen). Akibatnya dalam setiap kali proses pemilihan kepala daerah, terjadi koalisi dari berbagai partai politik, baik untuk kepentingan persyaratan perahu kandidat maupun untuk memperbesar dukungan. Repotnya, tidak ada format koalisi yang baku. Bangunan koalisi di satu kabupaten/kota tidak sama dengan bangunan koalisi di kabupaten/kota lainnya. Di level provinsi pun demikian. Bahkan bangunan koalisi yang terbentuk secara nasional, seperti Sekretariat Gabungan Koalisi, tidak otomatis berlaku daerah.

Dengan demikian peta politik di lapangan sesungguhnya buram. Benar seperti apa yang diasumsikan publik, tidak ada korelasi positif terpilihnya seorang kepala daerah dengan dukungan parpol yang menjadi perahunya. Dan ini tidak hanya berlaku untuk Partai Golkar, atau Partai Demokrat, tapi juga berlaku untuk parpol-parpol lain.

Yang menjadi catatan penting sebenarnya bukan pada besar kecilnya persentase kemenangan sebuah parpol dalam pemilu kepala daerah, tetapi sejauhmana seorang kepala daerah terpilih tetap amanah dan rendah hati dengan pedang kekuasaan di tangannya. Sebab, kekuasaan dan penyalahgunaan adalah dua saudara kembar. Sementara manusia selalu saja terpesona dengan kekuasaan. Sejarawan Inggris, Lord Acton (1834-1902), dengan sangat tepat menyebut, "All power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely" (semua kekuasaan cenderung disalah gunakan, kekuasaan absolut pasti disalah gunakan). Begitulah Tuan, terlebih terkurangnya. Adat langit biru, berawan, adat padi menguning, bertikus. Sudah menjadi suratan alam.

kolom - Riau Pos 25 Oktober 2010
Tulisan ini sudah di baca 1220 kali
sejak tanggal 25-10-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat