drh. Chaidir, MM | Mimpi-mimpi Wan Ghalib | LUPAKAN sejenak hiruk-pikuk panggung sandiwara kehidupan yang tak pernah kehabisan lakon, layaknya Opera Van Java. Mari berbagi sukacita dengan salah seorang saksi hidup sejarah terbentuknya Provinsi Riau, Tuan H Wan Ghalib, yang Jum'at, 8 Oktober 2010, tiga hari lalu, merayakan hari jadinya ke-90.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mimpi-mimpi Wan Ghalib

Oleh : drh.chaidir, MM

LUPAKAN sejenak hiruk-pikuk panggung sandiwara kehidupan yang tak pernah kehabisan lakon, layaknya Opera Van Java. Mari berbagi sukacita dengan salah seorang saksi hidup sejarah terbentuknya Provinsi Riau, Tuan H Wan Ghalib, yang Jum'at, 8 Oktober 2010, tiga hari lalu, merayakan hari jadinya ke-90.

Pada usianya yang sudah renta, H Wan Ghalib ternyata masih produktif. Buktinya, ia beternak ikan lele di pekarangan rumahnya yang sederhana di Jalan Banda Aceh, Pekanbaru. "Ada sekitar 3.000 ekor lele yang sudah siap dipanen," ujarnya.

Ketika didaulat memberi sambutan di tengah para sahabat, sanak keluarga, anak, cucu dan cicit, malam itu, H Wan Ghalib masih mampu berpikir jernih memberi apresiasi terhadap perkembangan Provinsi Riau terkini. Ia sangat gembira melihat provinsi yang dulu diperjuangkannya bersama kawan-kawan, kini telah jauh maju pembangunannya. Bahkan sekarang daerah ini telah dipimpin oleh anak-anak daerah sendiri, sesuatu yang dulu seperti sebuah utopia.

Kegembiraan itu bukan basa-basi. Pembangunan di segala bidang, terutama di bidang fisik dan bidang ekonomi dalam pengamatannya, berkembang pesat. Walaupun ada kekurangan di sana-sini, itu biasa. Termasuk misalnya dalam semangat otonomi daerah yang berlebihan, seperti penempatan pegawai yang kurang sesuai dengan bidang keahliannya. Tapi jelas kentara, bahwa kritik itu disampaikannya dalam semangat kekeluargaan hubungan bapak dan anak. Sang anak adakalanya berbuat sesuatu yang tidak persis betul sesuai kehendak orang tuanya. Biasalah, adat muda menanggung rindu, adat tua menanggung resam.

"Dulu orang Riau tak bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri." Begitu pernah diungkapkan oleh H Wan Ghalib dalam suatu wawancara yang dimuat Riau Pos dalam rangka memperingati hari jadi Riau beberapa tahun lalu. Kini era itu sudah berlalu, anak-anak daerah kini telah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Namun bukan berarti apa yang menjadi misi perjuangan H Wan Ghalib dan kawan kawan dalam pembentukan Provinsi Riau telah langsai. Sebab, esensi perjuangan itu, lebih dari sekedar perebutan jabatan belaka. Esensi perjuangan itu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Riau sebagai suatu bentuk kesadaran, bahwa tidak sewajarnya daerah ini tertinggal sementara hasil tambang minyaknya ratusan ribu barel setiap hari muncrat dari perut buminya.

H Wan Ghalib secara tersirat sebenarnya mengingatkan, paradigma baru otonomi daerah yang telah memberi laluan kepada anak-anak daerah memegang tampuk kekuasaan, mengandung jebakan: kesejahteraan masyarakat di daerah kini menjadi tanggung jawab anak-anak daerah itu sendiri. Tangan mencincang bahu memikul. Tanggung jawab moralnya tentulah lebih berat. Kita tak lagi bisa setiap saat mencari kambing hitam, atau buang badan terhadap kegagalan. Sebab "hewan" yang bernama kegagalan dan ketertinggalan itu semata-mata tersebab salah urus.

Kapal besar ini telah diamanahkan kepada kita untuk dipelihara dan dilayarkan, atas permintaan kita sendiri, bukan atas perintah siapa-siapa. Kalau kemudian kita tak melayarkannya secara gegabah, apalagi kemudian tinja kotoran sendiri berserak dimana-mana, kita berarti tidak memiliki kesadaran sejarah.

kolom - Riau Pos 11 Oktober 2010
Tulisan ini sudah di baca 1660 kali
sejak tanggal 11-10-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat