drh. Chaidir, MM | Vilfredo Pareto | MASIH ingat Vilfredo Pareto? Ekonom dan sosiolog terkenal Italia ini hidup pada 1848-1923. Pada awal abad 20 silam pemikirannya mengejutkan Eropa. Bahkan fasis Italia Benito Mussolini yang menjadi tandem dikator Adolf Hitler dari Jerman dalam Perang Dunia I, banyak dipengaruhi oleh pemikiran Pareto.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Vilfredo Pareto

Oleh : drh.chaidir, MM

MASIH ingat Vilfredo Pareto? Ekonom dan sosiolog terkenal Italia ini hidup pada 1848-1923. Pada awal abad 20 silam pemikirannya mengejutkan Eropa. Bahkan fasis Italia Benito Mussolini yang menjadi tandem dikator Adolf Hitler dari Jerman dalam Perang Dunia I, banyak dipengaruhi oleh pemikiran Pareto.

Di Indonesia, teori Pareto tentang distribusi pendapatan yang dimuat dalam Mind and Society (1916), banyak dikutip sebagai penyedap perdebatan di awal era reformasi. Bahwa menurut Pareto, 80 persen kekayaan di Italia dikuasai oleh elit yang jumlahnya tidak lebih dari 20 persen. Sebaliknya, 80 persen rakyatnya hanya menikmati 20 persen saja dari kekayaan negaranya. Tragis.

Pemikiran Pareto banyak memberi inspirasi dan membuka mata para pengamat untuk mengkritisi keadaan ketika itu. Apa bedanya dengan Indonesia? Dalam era Orde Baru kita mengenal pendekatan trilogi pembangunan, yaitu stabilitas. pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. Mantra ini sangat mangkus. Di tengah stabilitas politik dan keamanan, ekonomi tumbuh sangat pesat, bahkan Indonesia disebut-sebut sebagai macan baru Asia. Macan Asia yang sudah eksis, Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Taiwan pasti tersusul. Tinggal menghitung hari. Tapi membangun masyarakat dengan manusianya ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Seiring pembangunan ekonomi yang berkiblat kepada kapital, tumbuhnya konglomerasi menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Siapa tak kenal Lim Soei Liong? Kerajaan bisnis Lim Soei Liong tumbuh menggurita menguasai hampir setiap sel kehidupan masyarakat. Maka, si kaya lepas landas, si miskin terpuruk di landasan.

Dalam sebuah pertemuan Komisi C DPRD Riau yang dipimpin oleh H Djufri Hasan Basri dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di Manado pada 1994, tuan rumah menyindir sambil bergurau. Provinsi Riau itu daerah petrodollar, daerahnya kaya Pemdanya kaya. Sulawesi Utara Pemdanya miskin tapi rakyatnya kaya. Sulawesi Utara tidak punya perusahaan multinasional, hanya ada kebun rakyat seperti kebun kelapa, cengkeh, dan tanaman lainnya. Pertemuan itu sudah lama berselang, tapi sindiran itu demikian lama membekas dalam memori.
Tiga hari lalu, penulis beserta istri diterima beraudiensi oleh Gubernur Sulawesi Selatan H Syahrul Yasin Limpo di kediamannya di Makassar. Gubernur bercerita dalam suasana kekeluargaan, bagaimana terharunya dia melihat menggeliatnya perekonomian rakyatnya. Sulawesi Selatan tidak punya perusahaan-perusahaan raksasa. Artinya apa? Uang yang beredar tidak dari kantong ke kantong pengusaha-pengusaha besar, tapi di kantong rakyat. Rakyatlah yang menjadi pemeran utama pembangunan kami, uang mereka yang pegang, cerita Sang Gubernur.

Dalam penerbangan Makassar-Jakarta-Pekanbaru, kembali ke Negeri Lancang Kuning, penulis menerawang langit. Riau terlahir sebagai daerah yang memiliki banyak sumber daya alam, sehingga memiliki banyak perusahaan raksasa. Perusahaan-perusahaan raksasa ini menjadi engine of growth (mesin pendorong pertumbuhan ekonomi). Tapi Tuan Pareto mengganggu khayalan, sebab sampai hari ini agaknya, teori Pareto masih aktual, 80 persen kekayaan kita dikuasai oleh 20 persen elit, sisanya 20 persen dari kekayaan dinikmati oleh 80 persen rakyat. Sementara, kita tak juga belajar kaidah ekonomi makro bagaimana mendistribusikan sumber daya alam itu secara efisien dan secara adil untuk rakyat. Wallahualam..

kolom - Riau Pos 27 September 2010
Tulisan ini sudah di baca 1623 kali
sejak tanggal 27-09-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat