drh. Chaidir, MM | Rusak Susu Sebelanga | PEGAWAI Negeri Sipil (PNS) selalu jadi pesakitan. Menjelang lebaran dilarang terima bingkisan. Mobil dinas dilarang dipakai mudik. Sesudah lebaran, mereka dilarang memperpanjang liburan. Harus segera masuk kantor, apel dan bekerja. Yang membolos, diancam: potong honor, potong tunjangan, diberi surat
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Rusak Susu Sebelanga

Oleh : drh.chaidir, MM

PEGAWAI Negeri Sipil (PNS) selalu jadi pesakitan. Menjelang lebaran dilarang terima bingkisan. Mobil dinas dilarang dipakai mudik. Sesudah lebaran, mereka dilarang memperpanjang liburan. Harus segera masuk kantor, apel dan bekerja. Yang membolos, diancam: potong honor, potong tunjangan, diberi surat peringatan, atau bahkan copot dari jabatan.

Uniknya, ancaman itu terdengar riuh rendah. Pimpinan bukan justru membangun empati, mengacungkan tangan menyalami bawahan, tetapi justru sidak sana, sidak sini. Gertak sana gertak sini. Hampir semua atasan tak mau ketinggalan mengeluarkan ancaman. Mungkin sang atasan takut terlihat tidak tegas di mata atasannya, sebab di atas atasan ada atasan. Atau, supaya nampak gagah, pernyataannya dimuat di koran, sehingga terbuka pujian sebagai atasan teladan. Atau sang atasan ingin pamer kekuasaan. Atau sebenarnya, mereka latah ikut-ikutan gaya preman. Bukankah ancam mengancam adalah tradisi preman?

Tapi Bung, itu adalah salah satu metoda kepemimpian yang dikembangkan oleh atasan untuk menegakkan disiplin bawahan. Betul Tuan. Stick and carrot, adalah salah satu metoda kepemimpinan sebagaimana tulisan klasik Ordway Tead (1951) dalam bukunya The Art of Administration, yang dikutip oleh Kartini Kartono (2004). Maksudnya, salah satu metoda kepemimpinan adalah dengan memberi celaan dan pujian. Stick (diterjemahkan secara bebas sebagai cambuk) adalah simbol celaan bagi pegawai yang melakukan kesalahan. Sementara carrot (wortel, makanan), adalah simbol pujian bagi pegawai yang berprestasi. Dalam istilah lain, ada reward and punishment. Pegawai yang berprestasi diberi penghargaan (reward), pegawai yang bersalah dikenakan hukuman (punishment). Itu biasa.

Namun jangan lupa, Kartini Kartono menerjemahkan, celaan sebaiknya dilakukan tidak secara terbuka di muka banyak orang. Celaan hendaknya diberikan dengan nada suara yang "menyenangkan" agar tidak menimbulkan rasa dendam dan sakit hati. Inti dari celaan sesungguhnya adalah penyadaran; dimaksudkan agar pegawai yang berbuat kesalahan menyadari kekeliruannya.

PNS sering "dihakimi". Mereka dicurigai menyalahgunakan mobil dinas. Mereka dituding doyan korusi dan menyalahgunakan kekuasaan. Dituduh suka bolos. Dinilai boros dan tidak efisien. Selaku pegawai pemerintahan, PNS mendapat gaji dan fasilitas dari uang rakyat yang dikelola oleh negara. Pada PNS melekat separangkat kewajiban dan hak. Kewajiban dan hak itu semakin besar pada diri seorang PNS yang menjadi pejabat, sesuai dengan jabatan yang dipikulnya. Itulah persoalannya. Karena posisi itu, PNS selalu disorot. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. PNS harus seperti malaikat.

Padahal PNS adalah manusia. Punya hati dan punya rasa. Mereka adalah unsur penting dalam sebuah organisasi pemerintahan. Mereka harus didekati dengan persuasi, dan dimotivasi dengan sentuhan kemanusiaan. Memojokkan mereka secara berlebihan, apalagi kemudian sebagian pimpinan ikut-ikutan pula "menghakimi" PNS yang menjadi bawahannya, akan memperburuk iklim kerja. Cara mencela yang berlebihan hanya akan menurunkan moral pegawai, perasaan tertekan, mengurangi respek terhadap pimpinan, dan menimbulkan kemuakan.

Kita percaya, hanya sebagian kecil saja oknum pegawai dan pimpinannya yang bikin ulah, arogan atau lupa daratan, tapi itu cukup untuk merusak susu sebelanga, sehingga wajah PNS terlihat berlepotan. Semangat Idul Fitri adalah semangat kembali ke pangkal jalan.

kolom - Riau Pos 20 September 2010
Tulisan ini sudah di baca 1303 kali
sejak tanggal 20-09-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat