drh. Chaidir, MM | Cakap Lepas Pisau Bermata Dua | PEMERINTAH kembali membuka keran penerimaan calon pegawai negeri sipil. Formasi yang tersedia cukup banyak: 300.000. Bila secara bodoh-bodohan saja, misalnya, kita bagi rata untuk 33 provinsi, berarti setiap provinsi mendapat jatah 9.000 lebih formasi. Bila kemudian dibagi rata lagi untuk 12 kabupat
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Cakap Lepas Pisau Bermata Dua

Oleh : drh.chaidir, MM

PEMERINTAH kembali membuka keran penerimaan calon pegawai negeri sipil. Formasi yang tersedia cukup banyak: 300.000. Bila secara bodoh-bodohan saja, misalnya, kita bagi rata untuk 33 provinsi, berarti setiap provinsi mendapat jatah 9.000 lebih formasi. Bila kemudian dibagi rata lagi untuk 12 kabupaten/kota di Riau, maka setiap kabupaten kota hanya akan memperoleh formasi 750 lebih. Lumayan.

Tapi, membagi rata formasi tersebut, pastilah tak akurat. Jumlah alokasi formasi untuk masing-masing daerah kabupaten/kota dalam sebuah provinsi, sudah ditetapkan oleh Kementerian Penertiban Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, sesuai dengan usulan kebutuhan dari bawah. Besar kemungkinan jatah Riau akan lebih kecil, sebab jumlah kebutuhan pegawai tentu berbanding lurus dengan jumlah kabupaten/kota.

Dibukanya pendaftaran untuk seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil, pada satu sisi jelas merupakan kabar gembira bagi para pencari kerja. Ada lowongan pekerjaan. Ada peluang yang akan diperebutkan. Tapi sesungguhnya pada sisi lain - tak bisa dihindari - proses rekrutmen CPNS itu membawa serta pula perangkap yang menjerat, yang bila tak direspon secara bijak bahkan bisa menjadi bom waktu. Pengalaman empirik dalam beberapa kali penerimaan CPNS dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan, jumlah pelamar biasanya mencapai 20 atau bahkan 30 kali lipat dari formasi yang tersedia. Beberapa daerah di Indonesia, rationya bahkan lebih mengerikan. Bayangkan. Untuk mengisi 300.000 formasi, akan ada 5-6 juta pelamar.

Sudah menjadi rahasia umum. Sekian persen dari formasi tersebut diisi oleh mereka yang disebut kerabat (kita harus terima kenyataan ini dengan berlapang dada, tak usahlah menggerutu). Sekian persen lainnya untuk mereka yang punya senjata ampuh berupa koneksi (ini juga harus kita pahami dengan sabar). Sebagian lagi sisa formasi sudah menjadi "ujung ladang" oknum birokrasi terkait. Ada pula bagian mafia dan jatah preman. Maka, dihitung-hitung hampir tak ada lagi tersisa. Semua sudah ada penunggu, dan semua terbungkus rapi. Semakin ketat persaingan, semakin banyak pengawas, semakin galak media massa, semakin tinggi pula posisi tawar. Begitulah setiap kali, seakan sudah menjadi aksioma.

Tapi sesungguhnya tanpa kecurigaan itu pun, risiko penerimaan CPNS ini tetap terbuka. Andai ada lima juta pelamar, maka setelah pengumuman hasil test, akan ada 4,7 juta manusia yang kecewa karena mereka tak lulus. Reaksinya macam-macam. Ada yang pasrah menerima nasib, tapi ini jumlahnya sedikit. Sebagian besar, mereka akan menebar virus kecurigaan dan kebencian. Mereka tak mempan dihibur dengan kata-kata "kekalahan adalah kemenangan yang tertunda", atau, "barangkali ada hikmah", atau, "belum retak tangan." Apalagi barisan yang kecewa tak hanya mereka yang tak lulus. Orang tua sang pecundang pun ikut kecewa, saudara-saudaranya marah; datuk, nenek, semua meratap.

Sesungguhnya, posisi pemerintah ibarat maju kena mundur kena. Sebagian formasi yang diusulkan daerah memang merupakan kebutuhan yang mendesak. Fungsi pelayanan pemerintah akan terganggu bila tak dilakukan rekrutmen pegawai. Namun membuka keran penerimaan, berarti mengundang pula kekecewaan yang luas dan mendalam. Maka jadilah penerimaan CPNS ini ibarat pisau bermata dua, satu mata bermanfaat, mata lainnya mudarat, karena bisa melukai.

Yang namanya luka tetap ada harapan sembuh, asal segera diobati dan jangan buat luka baru. Resep ampuh telah diberikan oleh Pong Hardjatmo: "Jujur Adil Tegas." Bila para pemimpin menggunakan resep Pong, luka tak akan berdarah-darah. Resep lain, hindari nepotisme yang berlebihan, dan bangun birokrasi yang profesional. Pelajaran jilid satu profesionalisme adalah, dulukan pekerjaan wajib baru kemudian kerjakan sunat. Jangan dibalik.

kolom - Riau Mandiri 20 September 2010
Tulisan ini sudah di baca 1225 kali
sejak tanggal 20-09-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat