drh. Chaidir, MM | Negeri Ambigu | PETANYAANNYA haruskah masa-masa tak menentu seperti ini dilalui dalam proses panjang perjalanan hidup bangsa kita? Bisa ya bisa tidak. Kata orang, tak ada yang baru di bawah matahari. Adagium usang itu barangkali bisa dimaknai, bahwa bumi yang kita pijak ini masih yang itu-itu juga, bahwa Samudera H
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Negeri Ambigu

Oleh : drh.chaidir, MM

PETANYAANNYA haruskah masa-masa tak menentu seperti ini dilalui dalam proses panjang perjalanan hidup bangsa kita? Bisa ya bisa tidak. Kata orang, tak ada yang baru di bawah matahari. Adagium usang itu barangkali bisa dimaknai, bahwa bumi yang kita pijak ini masih yang itu-itu juga, bahwa Samudera Hindia, Pasifik, Atlantik masih seperti sediakala, bahwa manusia masih tetap makhluk pemikir belum tukar nama dan tempat dengan makhluk yang berekor itu, bahwa 'makhluk' yang bernama perubahan, juga belum berubah. Seperti adagium usang lain, perubahan sunnatullah, hanya ada satu yang tak berubah yaitu perubahan itu sendiri. Tak soal perubahan besar atau kecil, sistemik atau sporadis.

Dalam logika demikian, menjadi suatu keniscayaan lingkungan eksternal dan internal masyarakat kita, hari demi hari mengalami perubahan, bahkan sangat dinamis. Penyebabnya mudah dipahami, ada muatan ilmu pengetahuan dan teknologi, ada intervensi berbagai kepentingan termasuklah kepentingan ekonomi dan politik. Manusia tak pernah berhenti berpikir dan berikhtiar. Manusia selalu berusaha memperoleh capaian-capaian terbaik dan tertinggi baik melalui akal budi maupun karena menuruti naluri primitif yang tak terkawal.

Apa yang tercermin ketika bangsa kita memperingati dan memaknai Hari Proklamasi Kemerdekaan pekan ini, terlihat secara kasatmata. Jujur, rasanya ada gambaran ambigu pada wajah negeri ini. Tiga puluh tahun lalu (1980-an) kita paham dan menyebut masa depan itu, unpredictable, tak bisa diperkirakan dengan tepat. Dulu rasanya, dengan adanya P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), kita sudah selesai dengan ideologi bangsa, sudah final dengan NKRI, sudah paham dengan bhineka tunggal ika, sudah mantap dengan UUD 1945.

Agenda-agenda besar kebangsaan itu rasanya sudah selesai, termasuklah agenda persatuan dan kesatuan, tak lagi perlu diperdebatkan, dipermasalahkan, tak perlu lagi diusik-usik. Fondasi itu sudah final, dengan demikian kita bisa move-on, looking forward, kita bisa dengan gagah berani mendada apapun tantangan yang dihadapi atau berpacu dengan sesama bangsa lain yang juga baru merdeka. Bangsa ini dengan demikian bisa bergerak maju bersama-sama, melenggang nyaman lepas landas menuju masyarakat adil dan makmur seperti yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa.

Tak ada yang salah dengan agenda-agenda besar kebangsaan tersebut. Memang begitulah layaknya sebuah negara-bangsa yang merdeka. Kenyataannya, harapan dan kenyataan tak seiring sejalan, bangsa ini seperti belum move-on, belum sepenuhnya bangun dan belum bergerak maju. Atau barangkali sudah bangun tapi masih antara sadar dan tidak, dalam istilah kekinian masih loading (komputernya sudah on tapi belum siap menerima perintah). Bila kita bergerak pada saat masih loading, kita bisa bergerak ke arah yang salah, seperti orang yang berjalan dalam keadaan tidur. Maka seperti berulangkali terjadi, setiap kali bergerak maju, setiap kali kita harus kembali lagi ke kilometer nol.

Kita menghabiskan banyak waktu untuk hal yang remeh-remeh, tetek-bengek yang harusnya sudah lama selesai. Kita tak mau tahu bahwa demokrasi (dengan pemilu, pilpres dan pilkadanya) bukan tujuan melainkan alat untuk mewujudkan kesejahteraan lebih cepat dan lebih baik; sayangnya kita hanya mau demokrasi itu berarti kebebasan, semua bebas bicara dan berbuat sesuka hati, tak mau tahu dengan nilai-nilai objektivitas, sportivitas dan persaudaraan yang sebenarnya inheren dalam demokrasi tersebut. Kita marah dan menyalahkan pihak lain bila keadaan kacau-balau tapi pada saat yang sama kita tak paham tentang disiplin. Kita selalu vokal menuntut hak, tapi kita lupa akan kewajiban. Kita marah orang lain tidak memberikan toleransi, sementara kita tidak kalah egoisnya. Kita marah terhadap orang atau kelompok yang tak menghargai merah-putih dan lagu Indonesia Raya, tapi pada saat yang sama kita permissive terhadap kelompok yang tak menghormati lambang negara tersebut.

Kelihatannya negeri ini sedang mengidap penyakit ambigu yang cukup parah. Barangkali inilah salah satu sisi gelap modernisme seperti disebut Anthony Giddens dalam The Consequences of Modernity (1990) yang menimbulkan petaka, bahwa kekuatan negara menjadi lemah dalam mengemban tugas minimalnya untuk menciptakan tertib sosial yang aman, rukun, damai dan adil. Dirgahayu NKRI.

Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta


Erba Vidya Cikta


kolom - Riau Pos 14 Agustus 2017

kolom - Riau Pos 14 Agustus 2017
Tulisan ini sudah di baca 233 kali
sejak tanggal 14-08-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat