drh. Chaidir, MM | Kedai Kopi Melayu | BERITA mengejutkan pekan lalu, kedai kopi Kim Teng di Pekanbaru, tersandung masalah dan untuk sementara ditutup oleh pemerintah. Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencabut sertifikat laik sehat usaha kedai kopi tersebut menyusul kasus makanan yang diduga akibat jamur yang terdapat pada selai roti.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kedai Kopi Melayu

Oleh : drh.chaidir, MM

BERITA mengejutkan pekan lalu, kedai kopi Kim Teng di Pekanbaru, tersandung masalah dan untuk sementara ditutup oleh pemerintah. Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencabut sertifikat laik sehat usaha kedai kopi tersebut menyusul kasus makanan yang diduga akibat jamur yang terdapat pada selai roti.

Siapa yang tak terkejut? Kedai kopi Kim Teng adalah kedai kopi legendaris di Pekanbaru. Siapa pun yang berkunjung ke Pekanbaru, belum lengkap bila belum kongkow ngopi bareng di Kim Teng. Pelanggannya lengkap, mulai dari orang-orang penting eksekutif perusahaan, pimpinan lembaga tinggi negara, para jenderal, sampai para menteri kabinet. Para politisi kawakan, sampai politisi dan pengamat amatiran tak ketinggalan, demikian pula para wartawan, jangan tanya, hampir tiap hari adu ketajaman wawasan dan pengamatan di kedai kopi ini.

Kim Teng tercatat sebagai restoran nomor satu yang paling direkomendasikan oleh warga Pekanbaru. Kedai kopi ini sudah berdiri sejak 1950-an oleh Kim Teng yang sejatinya adalah seorang veteran pejuang keturunan etnis Tionghoa yang terlibat langsung pada masa perang kemerdekaan yaitu pada masa revokusi fisik. Dengan mengambil risiko nyawa, menyamar sebagai pedagang, beberapa kali Kim Teng beroperasi menyelundupkan senjata dari Singapura ke Pekanbaru untuk membantu para pejuang kemerdekaan. Namun Kim Teng tercatat kemudian lebih dikenal sebagai merek kedai kopi ketimbang sebagai seorang pejuang (Nyoto, 2016).

Sejarah memberi catatan panjang tentang kedai kopi. Konon pada abad ke-17 kedai kopi pertama dibuka di Istambul Turki. Kemudian berkembang di segala penjuru dunia. Pengembara Prancis pada abad yang sama, Jean Chardin, menulis kesan tentang budaya kedai kopi di tanah Parsi. Di kedai kopi, tulisnya, orang ramai berbual, karena di situlah tempat berita disebarkan dan tempat mereka yang berminat tentang politik bebas mengkritik kerajaan tapi ragu-ragu, sebab kerajaan tidak menghiraukan apa yang diperkatakan mereka di kedai kopi. Para penyair pula mengambil giliran bercerita dalam bentuk puisi atau prosa.

Penyair Riau Syaukani Al Karim, kelihatannya sependapat dengan Chardin. Dia menyebut, bagi orang Melayu, kedai kopi juga sebagai tempat penyulut kreativitias. Yong Dolah misalnya. Konon dahulu di kedai kopi hailam atau hainam yang sekarang di Bengkalis diganti dengan kedai kopi Gunung Baru, adalah tempat tokoh sasra lisan itu memulai aktivitas berceritanya. Dia terkenal di kedai kopi tersebut, dia datang memesan segalas kopi dan mulai berkisah. Orang-orang yang ingin mendengarkan pun datang ke situ, duduk semeja.

Pemikiran-pemikiran cemerlang, menurut Syaukani, sering muncul di kedai kopi. Kedai kopi dan kopinya mengisyaratkan kebebasan berpikir dan bertindak. Orang-orang abad pertengahan melahirkan konsep-konsep perubahan dunia. Mereka minum kopi di kedai-kedai kopi dan melahirkan ide-ide yang luar bisa di sana. Revolusi Mesir yang digerakkan Saad Bin Zaklul, konon dikabarkan bermula di kedai kopi.

Novelis kondang dari Belitung, Andrea Hirata, banyak menyebut budaya kedai kopi orang Melayu dalam novelnya tetralogi Laskar Pelangi. Menurut Andrea, selalu ada tiga macam budaya besar di kedai-kedai kopi orang Melayu, yaitu pertama main catur berlama-lama, kedua berkomentar kiri-kanan menjelek-jelekkan pemerintah. Bahkan pengamat politik bisa kalah berdebat. Jika orang-orang alumni kedai kopi Melayu ini jadi politisi susah dicari tandingannya. Ketiga, adalah budaya bertaruh.

Ngopi di kedai kopi dalam budaya masyarakat kita kelihatannya sudah mentradisi. Ada beberapa kedai kopi yang pantas disebut legendaris. Di Bandung ada kedai kopi Purnama, sudah ada sejak 1930, di Jalan Alkateri. Di Belitung ada Warung Kopi Ake, di Tanjung Pandan, sudah buka sejak 1921. Di Jakarta juga ada kedai kopi Kopi Es Tak Kie terletak di kawasan Glodok. Di Makassar ada kedai kopi Phoenam, yang sudah ada sejak 1946. Dan bila ke Aceh jangan lewatkan kedai kopi Solong di kawasan Ulee Kareng, Banda Aceh.

Bagi Pekanbaru Kim Teng sebenarnya aset, layaknya induk ayam bertelur emas. Sebagai smart city, kita perlu kedai kopi Kim Teng yang smart juga, ayo bergegas benahi bangkit lagi. Cincailah.

Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


kolom - Riau pos 31 Juli 2017
Tulisan ini sudah di baca 290 kali
sejak tanggal 31-07-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat