drh. Chaidir, MM | Oleh-oleh Mudik Lebaran | PEMUDIK umumnya berasal dari desa. Mereka punya kampung halaman, tempat darah ibunda mereka tumpah ketika mereka dilahirkan. Siapapun memiliki hubungan batin yang sangat kuat dengan kampung halamannya, apalagi pernah mengenyam masa-masa kecil yang indah dengan teman-teman sepermainan di desa. Orang-
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Oleh-oleh Mudik Lebaran

Oleh : drh.chaidir, MM

PEMUDIK umumnya berasal dari desa. Mereka punya kampung halaman, tempat darah ibunda mereka tumpah ketika mereka dilahirkan. Siapapun memiliki hubungan batin yang sangat kuat dengan kampung halamannya, apalagi pernah mengenyam masa-masa kecil yang indah dengan teman-teman sepermainan di desa. Orang-orang yang dilahirkan dan dibesarkan di kota, umumnya tak akan pernah bisa merasakan betapa kuatnya dorongan batin tradisi mudik.

Ketika tradisi mudik membawa banyak korban jiwa, dan dipersoalkan, pemudik bergeming. Pemudik tak keberatan dibilang orang kampung, biarlah. Dicemooh kampungan juga tak mengapa. Ditertawain orang udik juga tak masalah. Paling pemudik membalas guyonan itu, bahwa orang kota sebenarnya ingin juga memiliki kampung halaman, tapi tak tahu kampung halamannya dimana dan tak tahu harus mudik kemana, ada juga yang tak ingat lagi kampungnya di halaman berapa..ha..ha..

Tradisi mudik sesungguhnya tak hanya ada di masyarakat Indonesia. Di Jepang, Tiongkok, Italia, dan Amerika, juga mengenal tradisi mudik, dalam arti berkunjung atau berziarah ke kampung halaman leluhur untuk bertemu dengan sanak famili yang tinggal di desa atau berziarah ke kuburan orangtua. Tapi tidak dikaitkan dengan hari besar keagamaan, sebagaimana tradisi mudik lebaran di Indonesia.

Tradisi mudik lebaran telah menjadi ritual sosial bagi umat Islam di Indonesia, tidak peduli dari golongan kaya atau miskin. Berbagai motivasi menjadi pendorong bagi pemudik, seperti rindu kampung halaman, bertemu dengan orangtua, atau berziarah ke pusara orangtua, silaturahmi dengan sanak saudara dan handai taulan, dan berbagi kebahagiaan bersama orang di kampung halaman.

Mudik juga dapat dipandang sebagai bentuk kearifan lokal yang tidak terbatas pada golongan tertentu. Bahkan, seorang sosiolog Jerman, Andre Moller, dalam buku Ramadan di Jawa (2002) sebagaimana dikutip oleh Muslik Nawita dalam artikel "Menggali Esensi Mudik" (percikaniman.id 21/6/2017), pernah berkomentar bahwa tradisi mudik sebagai fenomena khas dan unik yang terjadi di seluruh pelosok
Indonesia dalam menyambut datangnya Idul Fitri.

Profesor Komaruddin Hidayat menyebut, mudik adalah tradisi yang sudah dijalani turun temurun. Orang tua, jika anaknya tak datang saat lebaran, seperti ada yang hilang. Ada yang kurang. Itulah sebabnya, anak berusaha untuk tidak mengecewakan orang tua. Mereka pulang ke kampung untuk bertemu orang tua, saudara, teman, atau yang lain. Sedangkan menurut sosiolog Imam Prasodjo mudik terjadi karena masyarakat Indonesia memiliki keluarga besar. Pemudik umumnya memiliki keluarga besar yang tinggal di kampung halaman.

Tradisi mudik lebaran sesungguhnya tak hanya cerita tentang kerinduan terhadap kampung halaman, orangtua, sanak famili dan handai taulan, lebih dari itu, pemudik pasti menemukan sesuatu yang menarik, bukan hanya pada dahaga kerinduan kampung halaman yang langsai, atau pada keindahan alam, hutan-hutan, desauan air sungai yang mengalir jernih di sela bebatuan, atau deru angin yang menyapa rerumpunan bambu, pantai-pantai dilingkungi hutan bakau yang asri, deburan ombak menepuk pantai, kicauan burung dan sayup-sayup suara siamang di hutan rimba, bau khas kampung halaman yang tak tergantikan; tidak, tidak hanya itu.

Tapi sebuah kehidupan yang bersahaja yang penuh dengan nilai-nilai kesederhanaan, pemudik bisa melepas rindu pada suasana lebaran di desa yang penuh dengan nilai-nilai kebersamaan, nilai-nilai persaudaraan alamiah yang tak ditemukan di kota yang selalunya sarat dengan semangat persaingan, semangat kebendaan, hedonisme, dan budaya aneh yang serba instan. Pemudik bersentuhan langsung dengan kehalusan budi pekerti, kerendahan hati, kesantunan bertutur kata, dan berbagai romantika kampung halaman yang menyentuh kalbu. Oleh-oleh akal budi inilah agaknya yang lebih bermakna dari tradisi mudik lebaran, lebih dari sekedar sekatang kolamei (dodol) atau sebuluh lemang. Oleh-oleh akal budi itu bisa menjadi sitawar sidingin bagi banalitas kehidupan perkotaan yang semakin parah, jauh dari semangat toleransi dan persaudaraan yang menjadi makna Idul Fitri. Maaf lahir batin.

Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


kolom - Riau Pos 3 Juli 2017
Tulisan ini sudah di baca 193 kali
sejak tanggal 03-07-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat