drh. Chaidir, MM | Ibu Kota | ADA pemeo usang, sekejam-kejam ibu tiri lebih kejam lagi ibu kota. Ibu kota yang dimaksud tak lain tak bukan adalah Jakarta. Namun Jakarta dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sesungguhnya dibenci tapi dirindu. Orang Manado mengekspresikannya dengan pas dalam lirik folksong berikut: sapa suruh
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Ibu Kota

Oleh : drh.chaidir, MM

ADA pemeo usang, sekejam-kejam ibu tiri lebih kejam lagi ibu kota. Ibu kota yang dimaksud tak lain tak bukan adalah Jakarta. Namun Jakarta dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sesungguhnya dibenci tapi dirindu. Orang Manado mengekspresikannya dengan pas dalam lirik folksong berikut: sapa suruh datang Jakarta/sapa suruh datang Jakarta/sandiri suka sandiri rasa/ee..do..e..sayang...

Ada banyak harapan di Jakarta, tapi yang putus harapan jauh lebih banyak. Hari ini seseorang jadi hero, besok jadi zero. Siapa lu siapa gua, tipu lawan tipu kawan, itu biasa di Jakarta. Mafia hukum, mafia kasus, memang Jakartalah sarangnya. Premanisme? Tinggal pilih, mau yang kelas teri atau kelas kakap semua ada. Pencopet? Tanya Naga Bonar, dia boss-nya. Rakyat yang kurang beruntung banyak yang kecewa dengan Jakarta tetap saja tak membuat jera.

Jakarta memang sarat dengan berbagai masalah. Kemacetan lalu-lintas seperti penyakit kangker sudah memasuki stadium empat. Banjir, kawasan kumuh, sampah, sungai yang jorok, gelandangan, dan berbagai macam masalah sosial lainnya, menjadi bagian tak terpisahkan. Bandara Soekarno-Hatta sebagai gerbang internasional sudah terasa sangat jauh ketinggalan dari negara-negara tetangga, baik dalam hal kenyamanan maupun aksesnya yang seringkali terganggu kemacetan lalu-lintas. Sementara di sisi lain, berdasarkan beberapa kajian dan informasi, berapa sentimeter permukaan Jakarta tenggelam tiap tahunnya. Tidak sekedar akibat dibangunnya gedung-gedung pencakar langit, dan digalinya tanah untuk mencari sumber air artetis, tapi juga akibat menumpuknya penduduk dan kendaraan bermotor.

Oleh karena itu ketika kepindahan Ibu Kota diwacanakan, tentu saja ini menarik perhatian. Benarkah ibu kota kita akan pindah? Benar atau tidak, itu urusan nomor tujuh. Yang pasti, Presiden SBY mengungkapkan wacana itu dalam sambutannya pada acara buka puasa bersama Kadin Indonesia di Jakarta Convention Center, Jakarta, 3 September beberapa hari lalu (Kompas, 4/9 halaman 1).

Kawan-kawan di Kalimantan tentu berbunga-bunga. Wacana ini ibarat membangkit batang terendam. Sebab, dulu pada 1950-an, Presiden Soekarno pernah mewacanakan Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dipindahkan ke Palangkaraya, sebuah kota terbesar di Kalimantan Tengah. Alasannya sederhana, letak Palangkaraya sangat strategis, persis di tengah-tengah antara Sabang-Merauke. Namun, gagasan besar Bung Karno ini kemudian hilang begitu saja ditelan krisis politik dan ekonomi.

Presiden SBY pun baru pada tahap melontarkan gagasan. Ada tiga opsi. Opsi pertama, membenahi Jakarta dengan membangun beragam sarana dan prasarana transportasi di permukaan tanah, di bawah tanah, dan di atas permukaan tanah. Opsi kedua, memindahkan pusat pemerintahan tetapi mempertahan ibu kota di Jakarta. Konsepnya barangkali seperti pusat pemerintahan Malaysia yang pindah ke Putrajaya tetapi Ibu Kota masih tetap Kuala Lumpur. Opsi ketiga, membangun ibu kota baru seperti Australia. Kota terbesar adalah Sydney, tetapi Ibu Kota dan pusat pemerintahannya berada di Canberra. Amerika Serikat ibu kotanya adalah Washington DC, sementara kota terbesar dan tersibuk adalah New York. Jadi, gagasan itu sah-sah saja.

Bagaimana dengan peluang Kota Bertuah, Pekanbaru? Bukankah letaknya strategis untuk mengimbangi megapolitan Singapura dan Kuala Lumpur? Tunggu Bung! Sehabis PON XVIII pada 2012 nanti, pemindahan ibu kota akan menjadi mantra baru.

kolom - Riau Pos 6 September 2010
Tulisan ini sudah di baca 1355 kali
sejak tanggal 06-09-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat