drh. Chaidir, MM | Aksi Persekusi | ISTILAH persekusi yang menjadi trending topic di media dalam satu pekan terakhir ini, bisa membuat kita gagal fokus karena menimbulkan asosiasi terhadap kata eksekusi atau perkusi. Hal itu terjadi akibat faktor fonetik, pengaruh pengucapan dan bunyi dalam bahasa, sehingga kedengarannya hampir sama p
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Aksi Persekusi

Oleh : drh.chaidir, MM

ISTILAH persekusi yang menjadi trending topic di media dalam satu pekan terakhir ini, bisa membuat kita gagal fokus karena menimbulkan asosiasi terhadap kata eksekusi atau perkusi. Hal itu terjadi akibat faktor fonetik, pengaruh pengucapan dan bunyi dalam bahasa, sehingga kedengarannya hampir sama padahal beda makna.
Eksekusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti pelaksanaan putusan hakim. Dalam kamus yang sama perkusi pula berarti alat musik pukul, atau dalam bidang kedokteran berarti cara pemeriksaan dengan ketukan jari.
Lantas persekusi. Gerangan apakah makhluknya? Dalam KBBI usang yang saya miliki (terbitan Balai Pustaka, Edisi Kedua, Cetakan ketujuh, 1996), tidak ditemukan istilah persekusi. Istilah ini baru ada dalam KBBI versi online. Persekusi yaitu pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Sedangkan memersekusi artinya menyiksa, menganiaya: tanpa memikirkan lagi keadilan atau kemanusiaan. Istilah ini sepertinya diadopsi dari bahasa Inggris, persecution, yang berarti penyiksaan, penganiayaan.
Persekusi itu seperti dijelaskan beberapa pihak, bukan main hakim sendiri seperti yang jamak terjadi di berbagai tempat ketika seorang jambret tertangkap tangan. Adakalanya sampai jambret tersebut tewas. Bentuk main hakim sendiri ini, biasanya merupakan reaksi spontan massa yang emosional. Psikologi massa memang demikian, kehilangan rasionalitas, satu orang mulai memukul, yang lain ikut memukul.
Persekusi bukan reaksi massa yang spontan seperti itu, tapi sebuah tindakan yang direncanakan (by scenario), tindakan memburu orang atau golongan tertentu yang dilakukan secara sewenang-wenang secara sistematis oleh sekelompok orang atau organisasi. Penyiksaan dan penganiayaan itu dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Elemen aksi persekusi itu berisi tindakan tidak manusiawi, yang dimaksudkan untuk menimbulkan penderitaan baik fisik maupun psikis terhadap target.
Kata ini menjadi topik pembicaraan hangat setelah Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet) merilis kasus persekusi yang marak akhir-akhir ini di tanah air. Regional Coordinator Safenet, Damar Juniarto mengatakan, tindakan persekusi sudah menyebar merata di seluruh Indonesia dan telah menjadi ancaman yang nyata.
Menurut Damar, modus persekusi itu ada empat tahapan tindakan. Tahap pertama, ?penentuan target, mendata target yang diburu dan mem-viral-kan target melalui media sosial. Tahap kedua, mengajak berburu dengan memobilisasi dan mengumumkan siapa target yang diburu. Tahap ketiga, mobilisasi di lapangan, memaksa target meminta maaf lalu di-viral-kan. Tahap keempat, melakukan pemidanaan target untuk dibawa ke polisi dan minta dilakukan penahanan. Dalam pengertian ini, maka aksi persekusi tidak sama dengan aksi main hakim sendiri, aksi sweeping, atau aksi unjukrasa yang anarkis sekalipun.
Itulah masalahnya. Aparat penegak hukum saja tidak boleh melakukan persekusi, kononlah pula bukan aparat. Rasanya miris, kita mengaku negara hukum, kita ramai-ramai (sekarang) mengaku sebagai Pancasilais, kita berteriak bineka tunggal ika, mengakui negara kita punya alat negara (polisi dan tantara), tapi perangai sosial kita mempertontonkan gelagat seperti negara kita tak bertuan, atau seperti ada negara dalam negara.
Dilematis. Ketika kita diberi kebebasan berekspresi dalam bingkai demokrasi, kita kebablasan. Ketika kita minta negara hadir menjaga ketertiban dan keamanan, negara pula cenderung menjadi represif. Jangan tanya kenapa apalagi tanya kepada rumput yang bergoyang, tanya sajalah hati nurani, lakukan komunikasi intrapersonal. Tabik.
Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


kolom - Riau Pos 5 Juni 2017
Tulisan ini sudah di baca 275 kali
sejak tanggal 05-06-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat