drh. Chaidir, MM | Mengapa Marhaban | KITA mengucapkan ahlan wa sahlan menyambut kedatangan tamu agung, Raja Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud pada bulan Maret 2017 lalu. Seperti diketahui, belum pernah bangsa kita menyambut tamunya semulia itu. Namun menyambut bulan yang disucikan oleh umat Islam, bulan Ramadhan yang sangat
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengapa Marhaban

Oleh : drh.chaidir, MM

KITA mengucapkan ahlan wa sahlan menyambut kedatangan tamu agung, Raja Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud pada bulan Maret 2017 lalu. Seperti diketahui, belum pernah bangsa kita menyambut tamunya semulia itu. Namun menyambut bulan yang disucikan oleh umat Islam, bulan Ramadhan yang sangat istimewa, kita tidak menggunakan ahlan wa sahlan, tapi menggunakan frasa Marhaban ya Ramadhan, padahal artinya sama, yaitu "selamat datang" alias welcome dalam Bahasa Inggris.

Frasa ahlan wa sahlan terasa seperti tak cukup untuk mengagungkan kedatangan bulan Ramadhan. Perbedaan penggunaan frasa ahlan wa sahlan dan marhaban, tentu menarik dipandang dari sudut semantik, yakni suatu bagian dari tata bahasa yang menyelidiki tentang tata makna atau arti kata dalam hubungannya dengan kata-kata lain dan tindakan manusia. Mengapa ucapan itu berbeda untuk Raja Salman dan bulan Ramadhan?

Dalam KBBI, kata "marhaban" diartikan sebagai "kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang)." Sama dengan ahlan wa sahlan yang dalam kamus tersebut juga diartikan "selamat datang". Di sinilah menariknya, walau keduanya berarti "selamat datang" tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan "marhaban ya Ramadhan". Tentu terasa aneh bila kita mengucapkan marhaban ya Raja Salman atau sebaliknya ahlan wa sahlan ya Ramadhan.

Marhaban dalam perspektif Arab berarti "luas" atau "lapang", sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang dinginkannya.Dengan demikian marhaban ya Ramadhan berarti "selamat datang Ramadhan" atau "selamat datang wahi bulan yang penuh rahmat", mengandung makna, kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya mengganggu ketenangan atau kenyamanan.

Kini, marhaban ya Ramadhan sudah menjadi frasa yang mendunia, yang tak hanya diucapkan oleh kaum Muslim antar sesama untuk menyambut dan mengungkapkan kegemberiaan atas kedatangan bulan Ramadhan, tapi juga diucapkan oleh pemeluk agama lain kepada saudara-saudaranya kaum Muslim yang menjalankan ibadah puasa yang penuh keunikan selama bulan Ramadhan.

Tidak ada perang berat yang dihadapi oleh umat Muslim kecuali perang melawan hawa nafsu, dan uniknya perang itu justru ditunggu dengan penuh sukacita. Puasa Ramadhan merupakan ibadah unik karena puasa merupakan rahasia antara Tuhan Yang Maha Kuasa dan pelakunya sendiri. Bukankah manusia yang berpuasa dapat bersembunyi untuk minum dan makan? Bukankah sebagai insan, siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk makan atau minum pada saat-saat tertentu dari siang hari pada saat puasa? Bila demikian, apa motivasi orang berpuasa menahan diri dan keinginan itu? Tentu bukan karena takut atau segan kepada sesama manusia, sebab bila hanya itu, dia dapat saja bersembunyi dari pandangan orang lain. Perang melawan hawa nafsu adalah perang yang sangat berat karena musuhnya adalah diri sendiri.

Banyak kegiatan yang merupakan kesenangan yang harus dibatasi selama melakukan puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa. Puasa hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula puasa dipersamakan dengan sikap sabar, baik dari pengertian bahasa maupun esensinya.

Manusia memiliki kecenderungan kebebasan bertindak menuruti naluri primitifnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan aktivitas seksual. Kebebasan yang dimiliki manusia, bila tidak dikendalikan dapat menjurus kepada hal-hal yang tidak bertanggungjawab, merugikan diri, keluarga dan orang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi hawa nafsunya melebihi kadar yang diperlukan, bukan justru mendatangkan nikmat tetapi justru mendatangkan petaka. Dengan demikian logis mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat Islam dan umat-umat terdahulu.

Puasa dengan demikian dibutuhkan oleh semua manusia, kaya atau miskin, pandai atau bodoh, untuk kepentingan pribadi atau masyarakat, dan puasa Ramadhan sekali setahun merupakan kesempatan yang amat berharga yang diberikan kepada manusia untuk melatih disiplin, sabar dan mengendalikan diri, dan lebih dari itu semua merupakan kesempatan manusia untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Marhaban ya Ramadhan.

Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


kolom - Riau Pos 29 Mei 2017
Tulisan ini sudah di baca 191 kali
sejak tanggal 29-05-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat