drh. Chaidir, MM | Virus Ingin Menangis | LUPAKAN sejenak virus akal budi yang yang dalam beberapa bulan terakhir ini melanda bangsa kita. Demikian panjang daftarnya bila mau diurai satu persatu, letih kita.  Berdoa sajalah semoga karut-marut yang terjadi merupakan bagian dari proses pendewasaan politik bangsa dan semoga pulalah virus akal
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Virus Ingin Menangis

Oleh : drh.chaidir, MM

LUPAKAN sejenak virus akal budi yang yang dalam beberapa bulan terakhir ini melanda bangsa kita. Demikian panjang daftarnya bila mau diurai satu persatu, letih kita. Berdoa sajalah semoga karut-marut yang terjadi merupakan bagian dari proses pendewasaan politik bangsa dan semoga pulalah virus akal budi yang variannya bermacam-macam itu merangsang terbentuknya suatu sistem kekebalan tubuh bangsa kita, sehingga di masa depan kita sudah imun dengan masalah-masalah sejenis.

Akhir pekan lalu dunia dihebohkan oleh serangan virus lain, bukan varian dari virus akal budi, bukan pula virus HIV atau virus-virus lain yang menggerogoti kesehatan tubuh kita, melainkan apa yang disebut sebagai virus "Wanna Cry". Sesuai dengan namanya, virus ini tidak menimbulkan penyakit pada tubuh kita yang berujung dengan kematian, tapi virus yang bikin geger jagad raya ini membuat pihak yang terkena ingin menangis (wanna cry).

Bagi rata-rata masyarakat kita yang tinggal di pedesaan dengan tingkat pengetahuan terbatas dan dengan demikian kebutuhan dasarnya juga terbatas, tidak usah khawatir dengan "Virus Ingin Menangis" ini. Sebab virus Wanna Cry adalah sejenis virus pada komputer. Sasarannya jelas, komputer, bukan orang. Virus Wanna Cry dapat menginfeksi komputer bahkan juga smartphone (gadget canggih kita). Virus jenis ini memang terkenal baru, namun efek yang ditimbulkan sangat mengerikan, karena wanna cry merupakan sejenis virus malware (perangkat lunak jahat) yang dapat mengenkripsi file-file dalam komputer pihak yang terinfeksi. Maksudnya, semua data akan tertutup, dan baru bisa dibuka bila pemilik membayar sejumlah uang tebusan kepada sindikat pemilik virus (peretas).

Bagi perusahaan atau perkantoran yang berbasis computer pasti ingin menangis (bahkan menangis sungguhan) bila file mereka yang tersimpan rapi dan lengkap dalam data-base tiba-tiba tidak bisa dibuka atau diakses. Padahal banyak pekerjaan atau permasalahan yang menuntut penyelesaian cepat, tepat dan akurat, berangkat dari data-base tersebut. Bisa dibayangkan betapa kalang kabutnya para pengelola data dan para pimpinan yang memerlukan informasi untuk membuat sebuah keputusan. Lebih kacau-balau lagi bila virus Wanna Cry itu menyerang sistem computer sebuah rumah sakit besar di Jakarta. Seperti banyak diberitakan virus ransomware Wanna Cry ini sudah diluncurkan ke beberapa negara besar, seperti Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, Rusia, serta Indonesia.

Wanna Cry termasuk dalam varian virus ransomware, virus yang menginfeksi sistem computer, seperti Cerber dan Virus ILOVEYOU yang dianggap sebagai salah satu virus terganas yang pernah diciptakan. Virus ini menghancurkan sistem komputer dunia dengan menyebabkan kerugian sekitar 10 miliar dolar. Diperkirakan 10 persen komputer di dunia telah terinfeksi virus ILOVEYOU tersebut.

Serangan siber virus Wanna Cry telah menyerang 200.000 korban yang tersebar di lebih dari 150 negara. Jumlah itu akan terus bertambah seiring kesibukan kebutuhan dunia kerja menggunakan sistem computer sebagai instrumen penting dalam penunjang pelaksanaan tugas. Tanggap darurat untuk mengatasi Wanna Cry adalah tidak menggunakan computer, dan tidak menggunakan internet, tapi itu tidak mungkin dalam suatu manajemen yang berbasis computer.

Memang, berita terbaru menyebut, seorang pemuda berusia 22 tahun, Marcus Hutchsins, secara tak sengaja menemukan sitawar sidingin (penangkis) terhadap penyebaran virus WannaCry tersebut, namun upayanya dianggap belum seimbang dengan tingkat penyebaran Wanna Cry yang berlangsung lebih cepat.

Namun patut dicatat, operator untuk mengaktifkan virus tersebut adalah manusia. Dan yang namanya manusia tetaplah manusia, mereka punya perasaan. Buktinya, seorang pria di Taiwan yang menjadi korban peretasan berhasil mengontak dan membujuk peretas. Pria asal Taiwan itu mengaku hanya memiliki pendapatan US$400 dan ia tidak sanggup membayar uang tebusan US$300 yang diminta. Merasa iba, peretas justru tidak meminta bayaran dan memberikan kembali data sang pemilik, bahkan sekalian Taiwan mereka bebaskan dari virus Wanna Cry. Padahal income parkapita Indonesia lebih rendah dari Taiwan, mungkin kita bisa minta dispensasi pada peretas. Umar Bakri mungkin layak diutus untuk melakukan persuasi. Peretas juga manusia.


Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


kolom - Riau Pos 22 Mei 2017
Tulisan ini sudah di baca 195 kali
sejak tanggal 22-05-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat