drh. Chaidir, MM | Rasa Aman Itu Penting | RASA aman itu ternyata mahal. Keamanan, seperti halnya kesehatan, tak pernah kita sadari betul kehadirannya, bahwa kita memilikinya. Tanpa terasa, setiap hari kita menjalankan aktifitas rutin seperti ke sekolah, kuliah, bekerja, ke pasar, melakukan olahraga kegemaran, jalan-jalan sore makan angin be
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Rasa Aman Itu Penting

Oleh : drh.chaidir, MM

RASA aman itu ternyata mahal. Keamanan, seperti halnya kesehatan, tak pernah kita sadari betul kehadirannya, bahwa kita memilikinya. Tanpa terasa, setiap hari kita menjalankan aktifitas rutin seperti ke sekolah, kuliah, bekerja, ke pasar, melakukan olahraga kegemaran, jalan-jalan sore makan angin bersama keluarga, dan berbagai aktifitas lainya. Kita tidak pernah menyadari, bahwa aktifitas itu sebenarnya hanya bisa kita lakukan sampai pada suatu batas tertentu, yakni sampai ketika kita atau keluarga yang kita cintai jatuh sakit, atau ketika kita dicekam rasa ketakutan karena suasana tidak aman mengancam jiwa.

Ketika kita sampai pada batas tersebut, semuanya dalam kehidupan kita terasa mendung dan kelam. Ketika itulah, ketika sudah tidak ada rasa aman, atau ketika kita atau orang tercinta jatuh sakit, barulah kita sadar sesadar-sadarnya, suasana yang aman tenteram itu ternyata sangat indah dan nyaman, kondisi sehat itu ternyata sangat menyenangkan. Ketika dua aspek itu tidak ada, kita baru menyadari, ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan kita, bahkan terasa, jabatan yang tinggi, uang yang banyak seakan tak ada lagi artinya.

Rasa aman masyarakat yang bersumber dari keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) sebenarnya sudah mulai terbangun baik sejak aksi-aksi geng motor yang meresahkan beberapa waktu lalu berhasil diberantas oleh aparat kepolisian. Suasana sudah mulai kondusif. Namun akhir-akhir ini rasa aman itu agak sedikit terusik dengan adanya berbagai kasus perampokan dan pembunuhan (beberapa tergolong sadis) di berbagai penjuru tanah air, seperti diberitakan berbagai media, tak terkecuali di Riau; demikian pula kasus-kasus peredaran narkoba yang belum surut dan kasus-kasus penculikan anak yang menakutkan.

Puncak terganggunya rasa aman masyarakat adalah jebolnya rumah tahanan negara (rutan) Sialang Bungkuk Pekanbaru (5/5) beberapa hari lalu. Jumlah tahanan yang kabur mencapai 442 orang, tercatat sebagai rekor tertinggi penjebolan rutan di Indonesia sampai sejauh ini. Kita tak hendak mempersoalkan apa mengapa bagaimananya, kita percayakan sajalah kepada aparat keamanan, mereka pasti sudah memiliki protap untuk menanggulangi hal semacam. Masalahnya, yang menjadi kerisauan masyarakat, baru sebagian napi yang melarikan diri itu berhasil ditangkap kembali atau menyerahkan diri, sisanya 205 orang napi disebut masih berkeliaran.

Terusiknya rasa aman masyarakat tak bisa dibohongi atau dimanipulasi. Jumlah 200 orang lebih napi yang masih berkeliaran terlalu banyak untuk disebut tidak menebar teror rasa takut. Apalagi ada persepsi, mereka pastilah napi kelas berat. Rasa aman memang merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Tidak ada satu pun manusia yang menginginkan celaka dan terganggu hidupnya oleh ulah orang lain. Suasana kehidupan masyarakat pasti tidak aman dan nyaman jika merasa berada dalam bahaya.

Ketakutan terhadap ancaman fisik adalah satu masalah, masalah lain seperti disebut Potter & Perry, 2006) adalah terganggunya ketenteraman jiwa secara psikologis. Perubahan kenyamanan adalah keadaan dimana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dan memberikan respon terhadap suatu rangsangan yang berbahaya (Carpenito, Linda Jual, 2000). Ancaman itu bisa nyata secara fisik atau bisa juga hanya imajinasi berupa rasa cemas.

Kebutuhan terhadap rasa aman tersebut telah diidentifikasi sejak lama. Adalah psikolog Abraham Maslow dalam buku klasiknya A Theory of Human Motivation (1943) yang memperkenalkan kebutuhan terhadap rasa aman tersebut dalam piramida hirarki Kebutuhan Dasar Manusia (Maslow's hierarchy of needs) yang digambarkannya, bahwa kebutuhan akan rasa aman merupakan kebutuhan dasar kedua setelah kebutuhan fisiologis orang yaitu kebutuhan makan, minum dan seks.

Semua orang menurut Maslow mempunyai kebutuhan dasar yang disusun dalam suatu tingkatan tertentu menurut kepentingannya. Hanya ketika tingkat pertama kebutuhan telah terpenuhi atau terpuaskan, orang dapat menjadikannya energi untuk kepuasan pada tingkat kebutuhan berikutnya. Jadi, wajar bila orang membutuhkan rasa aman.


Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


kolom - Riau Pos 8 Mei 2017
Tulisan ini sudah di baca 188 kali
sejak tanggal 08-05-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat