drh. Chaidir, MM | Hikmah Ramadhan Piagam Madinah | SEJARAH tercatat dengan tinta emas. Konstitusi pertama negara yang tertuang secara resmi dalam bentuk piagam, bukan di Yunani kuno atau di Romawi kuno yang memiliki banyak filsuf hebat seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Cicero dan lain-lain. Piagam resmi itu ada di Yatsrib, yang kemudian bernama
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hikmah Ramadhan Piagam Madinah

Oleh : drh.chaidir, MM

SEJARAH tercatat dengan tinta emas. Konstitusi pertama negara yang tertuang secara resmi dalam bentuk piagam, bukan di Yunani kuno atau di Romawi kuno yang memiliki banyak filsuf hebat seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Cicero dan lain-lain. Piagam resmi itu ada di Yatsrib, yang kemudian bernama Madinah, ibu kota Negara Islam pertama yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

Prof Dr Jimly Assiddiqie dalam bukunya Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia (2006) mengelaborasi perihal Piagam Madinah ini dengan mengutip disertasi Prof Dr Ahmad Sukardja yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku oleh UI-Press dengan judul "Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945: Kajian Perbandingan tentang Dasar Hidup Bersama dalam Masyarakat yang Majemuk."

Ada sensasi kemegahan ketika membaca lintasan risalah Islam itu. Piagam Madinah diakui oleh penulis barat dan menyebutnya dalam bermacam-macam istilah. Montgomery Watt menyebutnya "The Constitution of Medina" dalam bukunya yang diterbitkan oleh Oxford University Press, New York, 1964. Nicholson menyebutnya "Charter" (bukunya diterbitkan oleh Cambridge University Press, New York, 1969). Majid Khadduri menggunakan istilah "Treaty" (Baltimore, 1955). Phillips K.Hitti menyebut "Agreement" dalam bukunya Capital Cities of Arab Islam, yang diterbitkan University Minnesota, Minnesota, 1973.

Aktor intelektual terwujudnya Piagam Madinah yang monumental itu ialah Nabi Muhammad SAW. Beberapa prinsip yang tertuang dalam Piagam Madinah yang terdiri dari 47 pasal itu adalah: pertama, prinsip persatuan. Piagam ini mempersatukan 13 komunitas yang majemuk baik suku maupun agama dalam masyarakat Madinah. Dari 13 komunitas yang menandatangani Piagam tersebut, enam diantaranya adalah komunitas Yahudi. Kedua, pendukung piagam bahu membahu dalam menghadapi penyerang kota Yatsrib; ketiga, kaum Yahudi memikul biaya bersama kaum mukminin selama dalam peperangan; keempat, bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum mukminin agama mereka. Orang yang bepergian aman, dan orang yang berada di Madinah aman. Piagam ini tegas mencantumkan, tidak membela orang zalim dan khianat.

Dalam semangat seruan agama tauhid, yang dibawa Rasulullah, wajah masyarakat jahiliyah berubah menuju ke tatanan masyarakat yang harmonis, dinamis dan penuh toleransi. Nabi Muhammad SAW membuat perjanjian kerjasama dengan non muslim, serta meletakkan dasar-dasar politik, sosial dan ekonomi bagi masyarakat baru tersebut. Ini menjadi suatu fenomena yang menakjubkan ahli-ahli sejarah.

Oleh karena Piagam Madinah itu berisikan hak-hak asasi manusia, hak-hak dan kewajiban bernegara, hak perlindungan hukum, sampai toleransi beragama, maka ahli-ahli politik moderen menyebut Piagam Madinah itu sebagai manifesto politik pertama dalam Islam.

Piagam tersebut dianggap merupakan suatu pandangan jauh ke depan dan suatu kebijaksanaan politik yang luar biasa dari Nabi Muhammad SAW dalam mengantisipasi masyarakat yang beraneka ragam latar belakangnya, dengan membentuk komunitas baru yang disebut ummah.

Menjelang akhir puasa Ramadhan tahun ini, di tengah kehidupan masyarakat kita yang heterogen, yang terpolarisasi bahkan mengalami fragmentasi akibat kepentingan-kepntingan sempit kelompok, suku, daerah asal, agama, kita berpeluang merenungkan betapa besarnya sifat kenegarawanan Rasulullah. Mestinya kita bisa meniru kecerdasan dan kejujuran Rasulullah ketika berhadapan dengan kemajemukan masyarakat.

Sebagian kita barangkali akan berargumentasi bahwa logika masyarakat di zaman nabi-nabi sangat berbeda dengan logika masyarakat empat belas abad kemudian. Persepsi demikian tentu sah-sah saja, tetapi dalam banyak hal, apa yang menjadi pemikiran Nabi Muhammad SAW ternyata melintasi zaman, dan tetap aktual. Salah satu misalnya ketika Rasulullah mengatakan, demi kepentingan harta dan tahta, umatnya akan bertengkar, bahkan akan saling bunuh antar sesama saudara sekalipun, kecuali kalau umatnya bertakwa. Dan puasa Ramadhan diskenariokan untuk meningkatkan derajat ketakwaan kita. Semoga.

kolom - Riau Mandiri 6 September 2010
Tulisan ini sudah di baca 2264 kali
sejak tanggal 06-09-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat