drh. Chaidir, MM | Ahok Kalah Ahok Menang | JUDUL tersebut bisa juga diganti
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Ahok Kalah Ahok Menang

Oleh : drh.chaidir, MM

JUDUL tersebut bisa juga diganti "Anies Menang Anies Kalah". Atau, "Agus Kalah Agus Menang". Ketiga kandidat Gubernur DKI 2017 itu, Agus-Ahok-Anies, sebenarnya masing-masing terpilih menurut takdirnya. Terpilih memperoleh suara lebih banyak dan terpilih memperoleh suara lebih sedikit. Ahok memperoleh suara terbanyak pemilihan putaran pertama, dan disebut tampil sebagai pemenang putaran pertama; Agus dan Anies memperoleh suara lebih sedikit dan disebut kalah. Anies kemudian memperoleh suara terbanyak putaran kedua dan tampil sebagai pemenang, dan giliran Ahok yang kalah. Itu saja.

Kalah dan menang dalam sebuah kompetisi adalah sesuatu yang lumrah dan memanglah seharusnya terjadi; padanan terma kalah-menang itu sudah menjadi kodrat alam seperti halnya siang-malam, pria-wanita, ujung-pangkal, atasan-bawahan, utara-selatan, timur-barat, hidup-mati, semuanya berpasang-pasangan bisa dibedakan tapi tak bisa dipisahkan satu sama lain. Tidaklah disebut seseorang tampil sebagai pemenang bila tidak ada pihak yang kalah atau sebaliknya.

Sesungguhnya, antara pemenang dan pecundang itu hanya beda-beda tipis. Kita sudah dibekali akal budi untuk berpikir dan menyadari, seperti kata orang bijak, kekalahan itu adalah kemenangan yang tertunda. Hari ini atau esok lusa, atau suatu hari kelak, kemenangan dan kekalahan itu pasti bertandang pada seseorang. Tidak hanya menjadi pecundang, untuk menjadi pemenang pun kita harus berpikir dan menyadari, di depan sana tersedia banyak perangkap betmen: benar melangkah jadi berkah, salah melangkah jadi musibah. Kita pasti memiliki catatan panjang betapa singgasana dalam sesaat berubah jadi penjara, pedang kekuasaan yang tergenggam di tangan berubah jadi senjata makan tuan.

Bagi pecundang, terma-terma kekecewaan seperti kesedihan, frustrasi, malu, perasaan dipojokkan, perasaan dikucilkan, perasaan tak dihargai, sangat manusiawi dan sulit dihindari. Itu semua bisa dipahami. Kita bukanlah Nabi Musa, Nabi Isa atau Nabi Muhammad yang sanggup mengubah kesedihan menjadi kegembiraan dalam sekerdip mata. Tentulah bukan sesuatu yang ringan bagi Agus Harimurti dan Ahok ketika harus merasakan kekalahan, tapi ketika kekalahan itu diterima dengan ikhlas dan mereka mengucapkan selamat kepada pemenang, maka sesungguhnya Agus dan Ahok telah tampil sebagai pemenang atas kerumunan serigala keangkuhan yang ada dalam diri mereka. Urusan selesai. Tradisi mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat kepada pemenang (walaupun penghitungan suara baru melalui quick-count yang dilakukan oleh lembagai survei independen) merupakan pelajaran yang amat berharga bagi kehidupan demokrasi bangsa kita. Sportivitas merupakan salah satu nilai dalam demokrasi yang harus dijunjung tinggi.

Tapi tidak bagi Anies dan Sandiaga, sang pemenang, urusan masih banyak. Beban berat kini berada di pundaknya. Menggunakan logika Kennet Blanchard dan kawan-kawan dalam buku "One Minute Manager Meets the Monkey" (2014), hari-hari ke depan ratusan kera akan bergelantungan di bahunya. Permasalahan yang diumpamakan sebagai kera itu, semuanya kini menjadi milik Anies, suka atau tak suka rela atau tak rela. Dan semua "kera" itu sayangnya tak datang sendiri tapi datang dengan saudara-saudaranya.

Dalam perspektif empiris, kemenangan dan kekalahan adalah sebuah ujian. Bagi pecundang, ujian tersebut adalah mengatasi berbagai sindrom kekecewaan, tapi begitu kekecewaan terkendali, mereka tak lagi harus membuktikan atau merealisasik4an apa-apa. Tapi bagi pemenang, ujian sesungguhnya, jauh lebih berat. Sang pemenang harus merealisasikan berikat-ikat janji dan membuktikan ide komitmen keberpihakan, satu kata dan perbuatan.

Dan jangan lupa, DKI Jakarta adalah ladang yang sangat subur bagi dialektika politik, habitat para politisi dan aktivis partai, tempat bersemayam kelompok kepentingan (interest group) dan kelompok penekan (pressure group), dan para penumpang gelap. Kecuali penumpang gelap (free rider), yang lain tujuannya sama, ingin Ibukota Jakarta dan masyarakatnya lebih baik, yang berbeda hanya cara. Wait and see.

Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


kolom - Riau Pos 24 April 2017
Tulisan ini sudah di baca 192 kali
sejak tanggal 24-04-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat