drh. Chaidir, MM | Pembusukan Jiwa | MIRIS alias risau alias cemas. Itulah agaknya gambaran suasana hati sebagian besar orang yang masih punya hati mencermati kondisi kekinian alam pikiran masyarakat kita dewasa ini. Atau karena sebagian manusia telah kehilangan hati dan jiwa. Mereka yang kehilangan hati dan jiwa ini - yang entah dicur
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pembusukan Jiwa

Oleh : drh.chaidir, MM

MIRIS alias risau alias cemas. Itulah agaknya gambaran suasana hati sebagian besar orang yang masih punya hati mencermati kondisi kekinian alam pikiran masyarakat kita dewasa ini. Atau karena sebagian manusia telah kehilangan hati dan jiwa. Mereka yang kehilangan hati dan jiwa ini - yang entah dicuri atau dirampok oleh siapa - tak lagi memiliki kemampuan nalar, tak lagi sanggup (dalam bentuk yang sederhana sekalipun) melakukan olah pikir sehingga kehilangan logika untuk membedakan salah-benar, kehilangan etika untuk memilah-milah baik-buruk, kehilangan sentuhan estetika untuk melihat kejelekan dan keindahan.

Betapa tidak. Akhir-akhir ini tak sekali dua kita membaca dan menonton berita kekerasan manusia atas manusia yang menyebabkan korban meninggal dunia, dengan cara-cara yang tak mampu dicerna dengan logika "gila" sekalipun, yang bahkan hewan pun dengan naluri kebuasannya tak akan melakukannya sekejam itu.

Harapan kita sederetan pembunuhan sadis yang terjadi sepanjang 2016, yang ditutup dengan pembunuhan sadis sangat menggemparkan yang dialami oleh keluarga Dodi Triono di perumahan mewah Pulo Mas Jakarta, ketika 11 korban (enam diantaranya meninggal) dijejalkan di dalam kamar mandi kecil yang pengap, menutup tragedi kemanusiaan yang dialami anak manusia. Sudahlah jangan terulang lagi, dan tak boleh terulang lagi. Namun, seperti petir di siang bolong, kita dibuat terkejut dengan peristiwa pembunuhan sadis satu keluarga di Medan Sumatera Utara beberapa hari lalu. Riyanto (40) beserta istri, dua anak dan ibu mertuanya di rumahnya dihabisi secara kejam.

Apa sesungguhnya yang terjadi dengan perilaku sosial masyarakat kita? Adakah tekanan kehidupan dalam masyarakat kita dewasa ini demikian hebatnya sehingga menghilangkan nilai perikemanusiaan yang sebenarnya sudah inheren dalam jiwa masyarakat yang sudah berbudaya? Kemana perginya hati dan perasaan, kemana hilangnya akal budi, sesuatu yang sangat asasi yang membuat makhluk bernama manusia berbeda dengan makhluk hewan.

Baiklah. Barangkali ada pembaca kolom ini yang permissive, dengan menyebut itulah kehidupan, cosi la vita, dunya kahe, begitulah manusia, mereka sebenarnya hewan tingkat tinggi yang beruntung dibekali akal budi tapi kan tak semuanya memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual. Baiklah. Tapi, barangkali kasusnya beda. Dari beberapa peristiwa sadis di negeri kita itu dan dari hasil penyelidikan kepolisian yang terungkap, para pelaku kejam itu bukanlah penderita psikopat seperti pembunuhan yang dilakukan oleh oknum-oknum sakit jiwa di beberapa negara maju.

Dari kasus-kasus pembunuhan sadis yang terungkap, para pelakunya umumnya melakukannya dengan sebuah perencanaan. Artinya, perbuatan sadis itu dilakukan dengan penuh kesadaran. Kasus tindakan kekerasan yang dialami penyidik KPK Novel Baswedan misalnya, memang tidak sampai merenggut jiwa, tapi tindakan dengan niat untuk mencelakan orang lain itu - apapun motifnya - dilakukan melalui sebuah perencanaan. Artinya tindakan yang sangat tidak terpuji itu dilakukan dengan penuh kesadaran. Maka sekali lagi kita patut bertanya (dalam hati) kemana hilangnya jiwa?

Hati dan jiwa itu sesungguhnya tak pernah berniat buruk. Hati dan jiwa itu pada awalnya, tak tersentuh oleh pernak-pernik duniawi. Hati dan jiwa itu bersih dan ideal. Badan boleh mati dan membusuk tapi jiwa tak pernah dibawa ke dalam kubur. Oleh karena itulah hati dan jiwa seseorang yang baik, yang telah lama meninggal dunia, tetap hidup dan dikenang.

Postulat filosof Socrates empat abad sebelum Masehi dalam Bryan Magee (2008), agaknya layak dikenang, sejauh jiwa tetap tak terusik, kemalangan tidak terlalu berarti. Bencana yang sebenar-benarnya adalah pembusukan jiwa. Itulah sebabnya, orang yang menderita akibat ketidakadilan sebetulnya tidak terlalu menderita dibanding dengan orang yang melakukan ketidakadilan itu.

Para pelaku pembunuhan sadis, dan penyiram air keras beserta kroninya yang mencelakakan Novel Baswedan, telah berlaku tidak adil dan mereka sebenarnya menderita (atau dianugerahi) kebusukan hati dan jiwa.

Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


kolom - Riau Pos 17 April 2017
Tulisan ini sudah di baca 170 kali
sejak tanggal 17-04-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat