drh. Chaidir, MM | Teka-teki Kura-kura | TAK masuk akal. Akhiles pasti akan berhasil mengejar kura-kura. Betapa tidak. Akhiles adalah seorang pelari ulung dalam dongeng Yunani. Ia mampu berlari cepat melesat seperti kilat. Sedang kura-kura, siapa dia? Anak kecil juga tahu, kura-kura itu lambat. Tapi anak-anak kita juga paham, kancil dengan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Teka-teki Kura-kura

Oleh : drh.chaidir, MM

TAK masuk akal. Akhiles pasti akan berhasil mengejar kura-kura. Betapa tidak. Akhiles adalah seorang pelari ulung dalam dongeng Yunani. Ia mampu berlari cepat melesat seperti kilat. Sedang kura-kura, siapa dia? Anak kecil juga tahu, kura-kura itu lambat. Tapi anak-anak kita juga paham, kancil dengan mudah memperdayai gajah, harimau atau buaya, tapi tidak dengan kura-kura. Sang kancil yang cerdik itu, kelihatannya terkena jebakan betmen, dia boleh hebat tapi bertekuk lutut dalam lomba lari melawan kura-kura.

Dalam logika dongeng anak-anak, kura-kura ternyata lebih cerdik dari kancil. Singkat cerita, ketika mereka lomba lari, kancil langsung berlari kencang. Setelah merasa yakin dia meninggalkan kura-kura jauh di belakang, kancil berhenti sejenak, kemudian memanggil kura-kura. "Kura-kura kau dimana?" "Aku di sini", suara kura-kura berada di depan kancil. Tak berpikir panjang, kancil kembali berlari. Beberapa saat kemudian dia berhenti, dan memanggil. "Kura-kura kau dimana?" "Aku di sini", suara kura-kura berada di depan. Kancil kembali berlari sekencang-kencangnya, dan jawaban kura-kura, "Aku di sini", selalu berada di depan kancil. Sang kancil akhirnya menyerah kalah. Padahal, kura-kura yang menjawab panggilan kancil adalah kura-kura lain, bukan kura-kura pertama yang berangkat dari garis start.

Filosof Zeno dari Elea, seorang filosof era Pra-Socrates dalam Filsafat Klasik Yunani enam abad Sebelum Masehi, memiliki kemampuan merumuskan paradoks-paradoks yang terkenal. Salah satu paradoks tersebut adalah tentang Akhiles dan kura-kura. Alkisah, Akhiles dan kura-kura memutuskan untuk berlomba lari. Karena merasa sangat pede, Akhiles mempersilahkan kura-kura berlari terlebih dulu.

Pada saat Akhiles menyusul dan sampai di titik kura-kura, sang kura-kura sudah bergerak maju. Ketika Akhiles kemudian kembali mencapai titik dimana kura-kura bergerak, kura-kura tersebut telah pula bergerak maju. Begitu seterusnya, ad finitum, tak berhingga. Akhiles semakin mendekati tapi tak pernah berhasil mengejar si kura-kura, begitu ditulis Bryan Magee dalam The Story of Philosophy (2008).

Cerita tentang paradoks filosof Zeno itu dianalogkan juga dengan bukti lain, ketika anak panah dilepas dari busurnya, anak panah sesungguhnya tidak bergerak tapi berhenti setiap saat di setiap titik. Ada di satu titik sama artinya dengan berhenti. Anak panah itu ada di sini, ada di situ dan ada di sana. Jadi gerak itu hanyalah khayalan, kata Zeno seperti ditulis Ali Maksum (2016).

Banyak yang protes, paradoks filosof Zeno itu tak masuk akal. Akhiles pasti akan berhasil mengejar kura-kura itu. Zeno juga tahu. Tapi, cerita paradoks tersebut memang tidak hendak meyakinkan orang untuk percaya bahwa Akhiles tidak mampu menyusul kura-kura, atau agar orang percaya bahwa anak panah yang dilepas dari busurnya itu, tidak bergerak.

Paradoks tersebut menggelitik banyak orang. Pasti ada yang salah dalam logikanya, kata mereka. Namun hingga saat ini belum ada seorang pun yang pernah benar-benar membutktikan dimana persisnya letak kesalahannya. Oleh karena itu, menurut Gilbert Ryle, filsuf abad 20, biarlah kisah Akhiles dan kura-kura itu menjadi paradigma teka-teki filsafat. Atau untuk mudahnya barangkali kita sebut saja teka-teki kura-kura.

Intinya adalah bahwa ada suatu argumen yang logis namun mengantarkan orang pada kesimpulan yang salah atau berbeda. Dewasa ini demikian banyak premis dalam masyarakat yang menurut logika akal sehat tak terbantahkan, namun kemudian kita disuguhi kesimpulan yang tak masuk akal. Mungkin virus gagal focus dan virus gagal paham sudah demikian menjadi viral, sehingga tak lagi bisa dibedakan mana informasi hoax dan mana informasi yang benar.

Manusia diberi kemampuan berpikir untuk menggunakan logika sehingga bisa membedakan benar-salah, diberi kemampuan berpikir untuk menjunjung etika agar mengetahui baik-buruk, serta diberi kemampuan berpikir untuk memiliki estetika agar tahu mana yang indah dan mana yang jelek. Filsuf Rene Descartes bilang "cogito ergo sum", aku berpikir maka aku ada. Kita tidak perlu menjadi seorang filosof untuk merenung dan berpikir. Terlalu banyak informasi, jangan telan bulat-bulat.

Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta




kolom - Riau Pos 10 April 2017
Tulisan ini sudah di baca 265 kali
sejak tanggal 10-04-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat