drh. Chaidir, MM | Uji Nyali Superkonyol | WAS-WAS bin cemas. Galau tingkat dewa. Parno (paranoid). Itulah agaknya kondisi yang menyelimuti atau menghantui perasaan para orangtua yang memiliki anak-anak kecil atau anak remaja sekarang, tak di kota tak di desa sama saja. Anak-anak kecil rawan aksi penculikan dan ancaman fedofilia oleh manusia
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Uji Nyali Superkonyol

Oleh : drh.chaidir, MM

WAS-WAS bin cemas. Galau tingkat dewa. Parno (paranoid). Itulah agaknya kondisi yang menyelimuti atau menghantui perasaan para orangtua yang memiliki anak-anak kecil atau anak remaja sekarang, tak di kota tak di desa sama saja. Anak-anak kecil rawan aksi penculikan dan ancaman fedofilia oleh manusia-manusia yang tak berperasaan dan berperikemanusiaan atau orang-orang yang sakit jiwa; sementara remaja terancam bahaya narkoba. Dan sekarang, ancaman yang tak kalah merisaukan, yang sedang viral di medsos, yakni uji nyali superkonyol, yang populer dengan istilah skip challenge. Hadeh..toloooong!

Kita sudah paham teror aksi penculikan anak yang akhir-akhir ini sangat merisaukan. Bayangkan saja, anak-anak yang tak berdosa diculik dan dipisahkan dari orangtuanya. Mereka pasti sangat tersiksa lahir batin. Anak-anak ini kemudian oleh penculik diperjualbelikan dalam perdagangan manusia, layaknya memperdagangkan hewan. Penjual dan pembeli kelihatannya bukan manusia sehingga tidak menyadari yang mereka perjualbelikan adalah manusia.

Kasus fedofilia juga belum reda sepenuhnya kendati satu demi satu pelaku yang memiliki kelainan seksual ini sudah ditangkap dan dikurung di balik jeruji besi. Kasus ini sudah kita pahami karena gencarnya pemberitaan di media massa. Ancaman kebiri (seperti ternak yang dikebiri) tak menyurutkan nafsu bejat mereka sehingga tak segan-segan melakukan pelecehan yang menimbulkan korban jiwa atau trauma seumur hidup.

Kita juga sudah paham bahaya narkoba, dan betapa rentannya anak-anak remaja kita. Yang membuat kita amat sangat galau adalah, sebagian remaja kita (termasuk oknum pelajar) tidak hanya sebagai pemakai, sebagian dari mereka sudah terlibat sebagai pengedar, berperan sebagai agen perantara untuk menyebarkan barang haram tersebut. Banyak yang sudah tertangkap dan dikurung. Ancaman hukuman terhadap pengedar narkoba bisa sangat berat bahkan sampai pada hukuman mati. Sudah banyak gembong narkoba yang dihukum mati di bawah regu tembak.

Tapi para pemain yang terlibat dalam perdagangan narkoba ini seakan tak ada saraf takutnya. Dari berbagai pemberitaan, intensitas perdagangannya justru meningkat (bahkan melibatkan berbagai oknum penegak hukum). Mereka sama sekali tak peduli bahwa barang yang mereka perdagangkan adalah barang haram, yang bisa merusak generasi masa depan bangsa. Rasanya, komitmen pemerintah sudah sangat hebat dalam pemberantasan narkoba ini, BNN misalnya, aktif sekali melakukan penyuluhan dan operasi-operasi pemberantasan. Tapi modusnya selalu berulang dari hari ke hari seperti itu-itu juga. Herannya, barang-barang terlarang tersebut banyak dipasok melalui perbatasan dengan Malaysia. Sementara kita mengetahui sangsi hukum di Malaysia sangat ketat dan keras terhadap pengidap dan pengedar narkoba ini.

Haruskah kita lebih keras lagi dalam menyikapi perdagangan narkoba ini, semisal seperti apa yang dilakukan oleh Presiden Filipina Duterte? Ribuan orang yang terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba di Filipina ditembak mati. Presiden Duterte tidak peduli dengan tuduhan dunia bahwa pemerintah Filipina telah melanggar hak asasi manusia. Bukankah pelanggaran yang dilakukan oleh pengedar narkoba lebih dahsyat daya rusaknya terhadap bangsa?

Kita belum selesai dengan narkoba, peculikan anak dan fedofilia, tiba-tiba kita dikejutkan oleh teror lain yang menghantui remaja-remaja kita dan para orangtuanya, yakni teror permainan skip challenge atau disebut juga passout challenge. Di Inggris disebut juga Good kid's high, atau mabuknya anak baik-baik. Pada 2016, diperkirakan sekitar 250-1000 orang remaja meninggal di Amerika Serikat karena memainkan game yang menantang maut ini.

Permainannya dengan cara menekan dada sekeras kerasnya selama beberapa waktu dan menyebabkan anak yang ditekan dadanya kejang dan pingsan. Banyak anak menganggap ini pengalaman yang menegangkan dan menyenangkan, tanpa mereka sadari, sebetulnya mereka pingsan karena asupan oksigen ke otak terhenti beberapa saat. Dan hal itu menyebabkan kerusakan sel sel otak, sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kematian.

Permainan ini berbahaya sekali karena remaja kita tidak cukup dewasa untuk menyadari ancaman maut game ini. Jangan coba-coba sok hebat, fatal akibatnya.

Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta




kolom - Riau POS 27 Maret 2017
Tulisan ini sudah di baca 238 kali
sejak tanggal 27-03-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat