drh. Chaidir, MM | Harapan Pandora | ALANGKAH cantiknya Pandora, perempuan penuh pesona, pandai bicara berkalung mutiara, pandai menenun pandai menjahit, dan pandai pula menyanyi, dia pun memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam dirinya. Oleh dewa Hermes dia diberi nama Pandora, bermakna
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Harapan Pandora

Oleh : drh.chaidir, MM

ALANGKAH cantiknya Pandora, perempuan penuh pesona, pandai bicara berkalung mutiara, pandai menenun pandai menjahit, dan pandai pula menyanyi, dia pun memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam dirinya. Oleh dewa Hermes dia diberi nama Pandora, bermakna "mendapat banyak hadiah berharga".

Pandora dalam mitologi Yunani kuno, adalah perempuan pertama ciptaan dewa Zeus, raja para dewa. Dalam salah satu versi cerita, Pandora diberi hadiah sebuah kotak yang sangat indah oleh para dewa, anehnya disertai satu pesan penting, Pandora dilarang keras membuka kotak tersebut. Namun apa hendak dikata. Pada suatu hari, Pandora tak kuat menahan rasa penasarannya dan membuka kotak tersebut. Setelah terbuka, tiba-tiba aroma yang menakutkan memenuhi udara. Dari dalam kotak itu terdengar suara kerumunan sesuatu yang dengan cepat berdesak-desakan berhamburan ke luar.

Pandora sadar bahwa dia telah melepaskan sesuatu yang mengerikan dan berusaha dengan cepat kembali menutup kotak, tapi terlambat. Pandora telah melepaskan teror ke dunia, yaitu masa tua, aneka macam penyakit, kegilaan, kejahatan, keserakahan, ketamakan, perampokan, pencurian, kebohongan, cemburu, kelaparan, dan berbagai malapetaka lainnya. Konon berdasarkan mitos tersebut, maka semua keburukan kemudian bebas menyebar ke seluruh dunia dan menjangkiti umat manusia hingga akhir zaman.

Pandora, perempuan cantik itu telah mati ribuan tahun lalu, bahkan dewa Zeus sang penciptanya pun hanya tinggal cerita, namun kisah tentang Kotak Pandora itu masih tetap hidup dalam masyarakat modern dan acap digunakan sebagai simbolisasi keadaan buruk yang terungkap di tengah masyarakat. Di panggung politik, Kotak Pandora sering digunakan untuk mendramatisasi terbukanya aib ke muka publik setelah sekian lama disembunyikan secara rapi.

Seiring perjalanan waktu, pemaknaan terhadap mitos Kotak Pandora pun mengalami pergeseran. Kotak Pandora tak lagi tabu untuk dibuka, justru harus dibuka agar segala macam keburukan berhamburan ke luar menampakkan diri untuk kemudian satu persatu diselesaikan atau dihabisi. Namun, kita telah sering kehilangan momentum untuk membuka Kotak Pandora itu.

Gelombang dahsyat reformasi tahun 1998 misalnya, dianggap sebagai terbukanya Kotak Pandora, segala keburukan berhamburan dalam berbagai macam wujudnya. Terungkapnya megakorupsi Hambalang, Bank Century, kasus Lapindo, juga dianggap sebagai terbukanya Kotak Pandora. Demikian pula heboh kasus Cicak vs Buaya Jilid I, II dan III, heboh kasus "papa minta saham", dan sebagainya. Tapi bangsa ini gagal memangkap momentum tersebut untuk bersih-bersih

Ahok pun disebut telah membukakan Kotak Pandora. Isu SARA menghambur tak lagi malu-malu. Perilaku saling hujat, ujaran kebencian, kedengkian, hoax, sikap permusuhan, intoleransi, dan disintegrasi sosial dengan gamblang menampakkan diri. Media sosial, dunia maya, hingga dunia nyata menjadi ajang pertengkaran. Masyarakat, baik individu maupun yang tergabung dalam ormas-ormas terbelah dalam menyikapi keadaan. Kotak Pandora telah terbuka, melepas semua wacana, melepas semua kebencian yang selama ini terpendam, dan menyingkap topeng kemunafikan. Tapi kita kelihatannya akan kehilangan momentum.

Beberapa hari terakhir ini Kotak Pandora raksasa kembali terbuka dengan terungkapnya megakorupsi berjemaah kasus KTP elektronik yang menyeret sejumlah nama oknum pembesar negeri. Bangsa ini untuk kesekian kalinya memiliki momentum bersih-bersih. Tapi bersiap-siap sajalah, yang harus diwaspadai justru serangan balik. Bukankah DPR sudah (kembali) mulai mewacanakan revisi UU KPK? Mereka bilang penguatan KPK tapi sesungguhnya pelemahan.

Pandora sangat terkejut dan menyesal telah membuka kotak kadonya. Tapi dia kemudian melihat ke dalam kotak dan menyadari bahwa ternyata di sana, didalam kotak masih ada yang tersisa, yaitu harapan.


Dipublikasikan oleh
Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta




kolom - Riau Pos 13 Maret 2017
Tulisan ini sudah di baca 216 kali
sejak tanggal 13-03-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat