drh. Chaidir, MM | Keajaiban Air | BANJIR dan tanah longsor yang memutus jalan raya sebagai prasarana transportasi dan urat nadi perekonomian masyarakat (adakala menimbulkan pula korban jiwa dan harta benda), merupakan penyakit menahun yang kumat secara rutin di Riau bila musim penghujan tiba. Dampak yang ditimbulkannya hanya dua: pa
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Keajaiban Air

Oleh : drh.chaidir, MM

BANJIR dan tanah longsor yang memutus jalan raya sebagai prasarana transportasi dan urat nadi perekonomian masyarakat (adakala menimbulkan pula korban jiwa dan harta benda), merupakan penyakit menahun yang kumat secara rutin di Riau bila musim penghujan tiba. Dampak yang ditimbulkannya hanya dua: parah atau parah sekali. Begitu hampir setiap tahun. Dan tahun ini kelihatannya parah sekali. Jalan raya utama antara Provinsi Riau dan Sumatera Barat putus.

Kejadian tersebut bukanlah kejadian pertama. Pemerintah pasti sudah mengantisipasi, sekuran-kurangnya meminimalkan korban melalui program mitigasi bencana. Tapi siapa yang bisa menghitung secara persis kekuatan lapisan tanah atau tebing? Kawasan Provinsi Riau memang terdiri dari hamparan dataran rendah terbentang dari kaki Bukit Barisan sampai ke Selat Melaka.

Dan kawasan ini dialiri pula oleh empat sungai besar yakni Batang Rokan, Sungai Siak, Batang Kampar dan Sungai Indragiri. Keempat sungai ini berhulu di Bukit Barisan dan bermuara di Selat Melaka. Keempat sungai besar tersebut memiliki pula puluhan anak-anak sungai yang meluap di musim penghujan. Begitu terjadi sejak zaman berganti zaman. Tanyalah orang tua-tua yang hidup di tepian atau di daerah aliran sungai, mereka akan bercerita, dulu, sudah lama sekali, pernah ada banjir besar seperti ini. Ada yang mengatakan banjir besar terjadi sekali dalam sepuluh tahun atau sekali dalam lima tahun. Maknanya, banjir itu sudah langganan sejak dulu.

Repotnya, bila sudah terjadi bencana banjir atau longsor, transportasi dan komunikasi putus, aliran listrik ikut putus. Suplai sembako dan air bersih tersendat, maka harga pun melonjak. Kegiatan belajar-mengajar terhenti. Masyarakat korban ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Dalam keadaan seperti ini, tak perlu banyak teori, penyelamatan korban adalah prioritas. Setiap daerah pasti punya anggaran tanggap darurat. Jangan takut menggunakannya asal memperhatikan asas akuntabilitas (dapat dipertanggungjawabkan secara fisik dan administrasi) dan asas tranparansi. Lakukan dengan penuh dedikasi.

Di samping kegiatan tanggap darurat tersebut. Untuk jangka panjang ke depan tentulah menjadi keniscayaan bagi kita untuk secara terus menerus membangun kesadaran semua pihak agar tidak merusak hutan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS). Bagi DAS yang sudah terlanjur rusak, marilah secara bersama-sama seluruh lapisan masyarakat (pemerintah dan masyarakat umum) melakukan reboisasi (penghutanan kembali), bisa juga dengan menanam bambu di sepanjang daerah aliran sungai.

Air tak mungkin kita musuhi, kita hanya mungkin menyiasatinya dengan penuh cinta. Makhluk ini akan berlaku ramah kepada kita, bila kita memperlakukan mereka dengan ramah. Air adalah makhluk yang lembut dan sumber kehidupan yang paling penting bagi manusia (lebih kurang 70 persen tubuh manusia terdiri dari air). Namun di sisi lain air bisa mendatangkan bencana yang superdahsyat seperti tsunami, banjir bandang dan sebagainya.

Dr Masaru Emoto (President Emeritus of the International Water For Life Foundation, sebuah organisasi non-profit yang berbasis di Oklahoma, Amerika Serikat), telah mempublikasikan hasil penelitiannya sejak 1999, air ternyata bisa merespon perlakuan yang diberikan kepadanya, baik berupa kata-kata, tulisan atau gambar serta suara. Temuannya itu kemudian dipresentasikan di markas Besar PBB di New York bulan Maret 2005.

Perlakuan yang baik, seperti membisikkan doa ayat-ayat suci dan kata-kata yang baik penuh kelembutan akan menghasilkan bentuk kristal heksagonal yang indah (100.000 s/d 1.000.000 kali pembesaran di bawah mikroskop) dalam air yang akan kita gunakan, dan air yang mengandung kristal heksagonal yang indah ini memiliki potensi berupa gelombang energi yang berpengaruh terhadap tubuh manusia, sehingga air dapat berfungsi sebagai pengobatan alternatif.

Hasil penelitian Dr. Masaru Emoto bahkan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia "The True Power Of Water" (Hikmah Air dalam Olahjiwa, 2006). Emoto membuat kesimpulan yang menakjubkan bahwa sesungguhnya air itu hidup dan dapat diajak berkomunikasi dan dapat merespon apa yang disampaikan manusia. Dalam percobaannya, air yang dibisiki kata-kata kotor akan menghasilkan kristal yang tak berbentuk dan tak baik bagi kehidupan.

Air yang ada di sungai atau di laut adalah air baku, dengan demikian juga harus diperlakukan dengan baik, seperti misalnya, tidak merusak DAS yang merupakan habitat sungai, tidak membuang sampah atau limbah kimia ke sungai, dan perlakuan lainnya yang menyakiti air. Dengan demikian air diharapkan dapat memberikan kehidupan yang baik bagi manusia, bukan sebaliknya mendatangkan bencana. Wallahu A'lam Bishawab.


Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


kolom - Riau Pos 6 Maret 2016
Tulisan ini sudah di baca 226 kali
sejak tanggal 06-03-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat