drh. Chaidir, MM | Mengintip Jendela Johari | PERJALANAN seribu kilometer selalu dimulai dengan langkah pertama, ujar Lao Tze. Filsuf Tiongkok Kuno itu agaknya benar. Bila hanya jalan ditempat tak mulai melangkah, jangankan seribu kilometer, satu meter pun tak akan pernah sampai. Begitulah. Pemilihan Gubernur Riau 2018 bayangannya masih samar-s
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengintip Jendela Johari

Oleh : drh.chaidir, MM

PERJALANAN seribu kilometer selalu dimulai dengan langkah pertama, ujar Lao Tze. Filsuf Tiongkok Kuno itu agaknya benar. Bila hanya jalan ditempat tak mulai melangkah, jangankan seribu kilometer, satu meter pun tak akan pernah sampai. Begitulah. Pemilihan Gubernur Riau 2018 bayangannya masih samar-samar nun jauh di depan, menurut berbagai sumber baru akan berlangsung pada helat pilkada serentak Indonesia jilid III bulan Juni 2018, tapi para bakal calon kandidat sudah banyak yang mulai mengintip bahkan sudah ada yang ambil ancang-ancang untuk mulai melangkah seperti disebut Lao Tze.

Tidak salah. Pekerjaan-pekerjaan politik itu rumit penuh intrik dan penuh pernak-pernik, sama juga misalnya dengan helat pernikahan; rencananya baru akan dilaksanakan selepas menuai padi tahun depan, tapi jauh-jauh hari sudah mulai sibuk bersiap-siap. Apalagi dalam pekerjaan politik semua harus dihitung baik-baik secara hati-hati agar jangan sampai terperangkap kekonyolan "Jebakan Betmen" seperti istilah yang dipopulerkan oleh komunitas alam maya Kaskus (Kasak Kusuk) itu; kekonyolan yang sebenarnya tidak perlu terjadi, bisa dihindari bila ditimang-timang dan ditimbang-timbang dengan kepala dingin.

Secara pragmatis bakal calon kandidat gubernur tentu harus menghitung-hitung persyaratan yang diperlukan untuk maju sebagai calon, syarat formal atau tidak formal, tertulis atau tak tertulis. Misalnya, apakah akan maju melalui jalur partai politik atau independen; bila melalui partai, partai politik atau gabungan partai manakah yang akan dijadikan perahu. Bila akan menggunakan jalur independen, kelompok kepentingan atau kelompok penekan mana pula yang akan menjadi basis kekuatan.

Namun dari jalur mana pun, partai atau perorangan (independen), tetap harus ada persyaratan tak tertulis, yakni kesiapan moril dan materil. Persyaratan moril adalah kesiapan untuk siap mental menerima kemenangan atau kelalahan. Kalah-menang, sang kandidat harus siap, tidak boleh stress. Bila ditakdirkan menang, tidak boleh stress dengan pedang kekuasaan yang berada di tangan, kasihan masyarakat. Bila kalah, juga tidak boleh stress,kasihan keluarga dan para pendukung.

Persyaratan materil adalah kesiapan sang kandidat untuk berkorban dalam hal pendanaan. Proses pilgub pasti memerlukan biaya politik (political cost) yang sangat besar. Ingat, biaya politik bukan berarti money politik alias politik uang. Politik uang itu haram, tapi biaya politik memang harus menjadi beban kandidat bersama tim pendukungnya (partai atau independen). Termasuk dalam biaya politik ini misalnya, biaya sosialisasi, biaya kampanye, dan biaya saksi. Biaya tersebut adalah biaya resmi, penerimaan dan pengeluaran, bisa diaudit bahkan harus diaudit oleh akuntan publik. Uang mahar perahu misalnya, jelas dilarang. Tapi, bukankah setiap partai politik memerlukan biaya operasional untuk melakukan kampanye?

Di samping pertimbangan tersebut, yang tak kalah pentingnya, para bakal calon kandidat (hirarki pencalonannya kira-kira: dari bakal calon kandidat menjadi calon kandidat, dan kemudian menjadi kandidat), agaknya terlebih dulu disarankan untuk secara serius mengintip Jendela Johari (Johari Windows). Mengintip Jendela Johari bukan dimaksudkan mengintip anak dara molek Johari di sebalik jendela, tapi dimaksudkan untuk mengintip secara diam-diam diri kita sendiri sebelum orang lain (publik) secara leluasa mengintip kita. Dengan kata lain, mencoba mengukur bayang-bayang sepanjang badan sebelum terlanjur jauh melangkah.

Jendela Johari adalah sebuah teknik klasik dalam pendekatan psikologi yang diciptakan pada tahun 1955 oleh dua orang psikolog Amerika, Joseph Luft (1916-2014) dan Harrington Ingham (1914-1995), yang digunakan untuk membantu orang lebih memahami hubungan dengan diri sendiri dan orang lain secara lebih baik.

Filsuf Charles Handy (1990) menyebut konsep Johari sebagai rumah dengan empat kamar. Kamar pertama adalah diri kita sendiri yang kita lihat dan orang lain atau publik juga bisa melihatnya. Kamar kedua adalah kamar di mana orang lain dapat melihat tetapi kita sendiri tidak menyadari. Kamar ketiga adalah kamar pribadi kita, hanya kita yang mengetahui dan kita jaga agar orang lain tidak tahu. Kamar keempat adalah kamar yang paling misterius, secara sadar atau tidak, diri kita dilihat oleh orang lain ataupun kita sendiri.

Dalam beberapa interpretasi sederhana dari Jendela Johari itu, kita semua disebut memiliki empat kuadran; barangkali kita berada dalam kuadran "dia tahu kalau dia tahu"; kelompok ini mudah berkembang maju. Dalam kuadran kedua, "dia tidak tahu kalau dia tahu"; terhadap kelompok ini yang diperlukan adalah motivasi. Ada pula kuadran ketiga, "dia tahu kalau dia tidak tahu"; otomatis figur-figur dalam kelompok ini akan belajar. Kuadran keempat, ini agak payah, "dia tidak tahu kalau dia tidak tahu"; figur-figur yang secara psikologis berada dalam kuadran ini biasanya merasa hebat sendiri atau bisa juga Pantang Tak Hebat alias PTH; mereka tidak bisa diberi tahu dan tidak bisa dinasihati, pokoknya "kamse u pay" (kampungan sekali uu..payah...hahaha).

Sah-sah saja bila banyak yang merasa mampu dan sudah mulai ada yang ambil ancang-ancang untuk maju sebagai kandidat dalam pilgub Riau 2018 yang akan datang, itu tandanya pendidikan formal kita telah banyak menghasilkan orang-orang terdidik. Tapi orang terdidik pula yang tentu sudah paham, dari berbagai pengalaman kita di era paradigma otonomi daerah sekarang, daerah yang bermasil maju yang ditandai dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang tinggi, adalah daerah yang dipimpin oleh seorang kepala daerah yang memiliki kompetensi dan komitmen yang bernilai tinggi.

Orang-orang terdidik pula yang tentu paham, bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, modal good competency dan great commitment saja belum cukup, tapi juga harus memiliki soft skill yang teruji dan terpuji, termasuklah di sini karakter dan kepemimpinan. Dan beberapa aspek tersebut muaranya adalah pada kredibilitas sang calon pemimpin. Beratnya, kredibilitas itu tidak bisa dicuap-cuapkan oleh sang calon melalui baliho melainkan adalah berdasarkan penilaian masyarakat. Oleh karenanya sebelum terperangkap dalam Jebakan Betmen, banyak-banyaklah melakukan dialog intrapersonal, tanya hati nurani, bila kail panjang sejengkal janganlah laut hendak diduga.



Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta


kolom - Koran Riau 21 Februari 2017
Tulisan ini sudah di baca 309 kali
sejak tanggal 21-02-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat