drh. Chaidir, MM | Back to School | HARI ini anak-anak kembali ke sekolah. Back to school. Tak ada liburan yang tak berakhir. Ada yang masuk sekolah lanjutan, ada yang naik kelas. Anak-anak baru di SD, SMP dan SMA tentu berdebar-debar. Demikian juga anak-anak yang naik kelas dan sekarang berada di kelas baru. Ada perubahan suasana. Li
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Back to School

Oleh : drh.chaidir, MM

HARI ini anak-anak kembali ke sekolah. Back to school. Tak ada liburan yang tak berakhir. Ada yang masuk sekolah lanjutan, ada yang naik kelas. Anak-anak baru di SD, SMP dan SMA tentu berdebar-debar. Demikian juga anak-anak yang naik kelas dan sekarang berada di kelas baru. Ada perubahan suasana. Lingkungan baru. Teman-teman baru.

Guru-guru baru. Pelajaran baru. Anak-anak yang naik kelas akan kembali bertemu teman-teman lama dan tentu seru sekali berbagi cerita.

Saya menangkap suasana kegembiraan, semua happy, semua sibuk. Antusiasme mereka sangat tinggi untuk kembali ke bangku sekolah. Anak-anak tentu berhak gembira kembali ke sekolah. Begitulah seharusnya. Kegembiraan belajar adalah modal awal bagi anak-anak untuk menyerap materi pelajaran yang diberikan oleh guru.

Sesungguhnya kegembiraan anak-anak tidak seiring dengan perasaan orang tua. Bagi orang tua, keberangkatan anak-anak ke sekolah diiringi dengan perasaan was-was. Pertama, kekhawatiran terhadap anak-anak yang sudah duduk di kelas terakhir SD, SMP atau SMA. Para siswa akan mengikuti Ujian Nasional yang setiap tahun selalu saja meninggalkan drama.

Seperti misalnya anak yang prestasi hariannya bagus tiba-tiba tidak lulus UN. Anak-anak yang sangat terpukul karena hasil tidak sesuai dengan harapan. Malu, marah, kesal, frustrasi, semua bercampur aduk. Pada sisi lain, sudah menjadi rahasia umum, nilai UN dan persentase kelulusan di sebuah sekolah belum menjadi jaminan tingkat kualitas para siswanya.

Kedua, kekhawatiran terhadap kelanjutan pendidikan anak-anak. SMP dan SMA Negeri semakin selektif menerima siswa. Artinya, dengan banyaknya peminat dan terbatasnya daya tampung kelas, sekolah terpaksa melakukan seleksi penerimaan siswa berdasarkan rangking prestasi terbaik yang dilihat dari nilai UN dan rapor sang anak.

Sampai saat ini sekolah negeri masih menjadi pilihan pertama dari para orang tua untuk menitipkan pendidikan anaknya, karena di samping mutu yang memperoleh supervisi langsung dari pemerintah, biaya pendidikan relatif lebih murah. Tak bisa dipungkiri, SMP dan SMA swasta sudah banyak yang bagus, tetapi sekolah swasta yang bagus dan modern memerlukan biaya pendidikan yang lebih mahal.

Kekhawatiran berikutnya adalah lingkungan sekolah yang tak dapat lagi dikatakan steril terhadap pengaruh-pengaruh yang tidak baik bagi anak-anak didik, terutama pengaruh kemajuan teknologi informasi, rokok, kenakalan remaja, pergaulan bebas, obat-obat terlarang, dan juga video game.

Anak-anak dengan mudah mengakses segala macam bentuk informasi termasuk masalah pornografi. Ada jarak yang kosong antara radar orang tua dengan radar bapak dan ibu guru di sekolah. Apatah lagi dalam hal kemajuan penguasaan teknologi informasi orang tua dan guru kalah canggih dibanding penguasaan TI siswa pada umumnya.

Dengan kesadaran penuh terhadap beratnya tantangan yang harus dihadapi untuk mempersiapkan dan menolong para siswa menghadapi masa depan, tak ada pilihan lain pengawasan harus lebih diperketat. Guru, pemerintah dan orang tua harus bahu-membahu, saling isi mengisi dalam suasana keterbukaan. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.***

kolom - Riau Pos 12 Juli 2010
Tulisan ini sudah di baca 1410 kali
sejak tanggal 12-07-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat