drh. Chaidir, MM | Manusia Drakula | PERNAH dengar ungkapan penghisapan manusia atas manusia? Di masa revolusi sampai era awal 1960-an, Bung Karno, presiden pertama kita sering menggunakan ungkapan tersebut, bahkan diucapkan dalam bahasa aslinya, Bahasa Prancis, exploitation de l’homme par l’homme? (dibaca: eksploatasiong delom parlom,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Manusia Drakula

Oleh : drh.chaidir, MM

PERNAH dengar ungkapan penghisapan manusia atas manusia? Di masa revolusi sampai era awal 1960-an, Bung Karno, presiden pertama kita sering menggunakan ungkapan tersebut, bahkan diucapkan dalam bahasa aslinya, Bahasa Prancis, exploitation de l’homme par l’homme? (dibaca: eksploatasiong delom parlom, kira-kira begitulah pengucapannya, lebih kurang mohon maaf; patah-patah lidah kita). Artinya, penghisapan atau penindasan manusia atas manusia.

Pada awalnya, di Prancis sana, ungkapan itu adalah untuk menggambarkan betapa dalamnya jurang status sosial ekonomi antara pengusaha kaya dengan rakyat miskin yang dibayar dengan upah sangat murah. Orang kaya bertambah kaya orang miskin bertambah miskin. Bung Karno menentang kondisi tersebut selama perjuangannya. Ia anti eksploitasi, penindasan, penghisapan manusia oleh manusia lain.

Namun kemudian ketika negara Indonesia sudah merdeka, kalimat tadi diubahnya dengan, exploitation de nation par nation, penindasan sebuah bangsa oleh bangsa lain. Hal itu sesuai pula dengan semangat Pembukaan UUD 1945, alinea pertama yang berbunyi: "Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan". Kalimat tersebut menunjukkan keteguhan dan kuatnya motivasi bangsa Indonesia untuk melawan penjajahan untuk merdeka, dengan demikian segala bentuk penjajahan haram hukumnya dan segera harus dienyahkan dari muka bumi ini karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusian dan keadilan.

Seiring perjalanan waktu, penjajahan politik (praktik kolonialisme) satu negara atas negara lain, tak lagi ditemukan kecuali sebuah negara kecil secara sadar meminta perlindungan (protektorat) dari negara lain yang lebih kuat yang sebelumnya saling memiliki hubungan emosional. Namun penjajahan ekonomi umum dipahami semakin merajalela. Sebuah negara yang menguasai jaringan bisnis korporasi multinasional, dengan mudah mengendalikan perekonomian negara lain (dari hulu sampai hilir) yang lemah dalam sumber daya manusia dan akses ke dunia bisnis internasional.

Namun, kita tak perlu bersusah-susah memikirkan praktik penjajahan ekonomi itu, praktik exploitation de l’homme par l’homme dalam bentuk kemasan aslinya, secara nyata masih terjadi di depan hidung kita, di depan hidung para penguasa dan para politisi yang sebenarnya memiliki kekuasaan yang besar untuk melakukan pengaturan dan penertiban. Ada penghisapan manusia atas manusia lain.

Terbongkarnya kasus panti asuhan milik Yayasan Tunas Bangsa di Pekanbaru, Riau pekan lalu, yang memelihara dan memobilisasi anak-anak secara sangat tidak manusiawi, bahkan diantaranya ada anak yang tewas atas dugaan penganiayaan, harus menjadi peringatan keras bagi pemerintah atas fungsi pengaturan dan penertiban yang melekat pada mereka. Pemerintah harus hadir melakukan penertiban dan mengambil alih pemeliharaan anak-anak yang tak berdosa tersebut. Bukankah dengan alasan perikemanusiaan, negara memelihara dan melindungi anak-anak terlantar tersebut?

Dewasa ini umum diketahui, anak-anak balita bahkan bayi-bayi yang digendong oleh seorang perempuan pengemis di perempatan jalan atau di tempat-tempat umum, berada di bawah kendali seseorang atau sekelompok orang. Singkatnya, anak-anak yang tak berdosa tersebut dieksploitasi untuk menjadi pengemis. Kita paham, sebagian dari anak-anak tersebut yatim piatu yang tak lagi memiliki keluarga, sebagian lagi berasal dari orang tua yang sangat miskin sehingga tak mampu menghidupi keluarganya.

Kasus tewasnya Muhammad Zikli (usia 1,8 bulan) yang dititipkan di Panti Asuhan Yayasan Tunas Bangsa atas dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh pemilik panti harus menjadi casus belli (pencetus) untuk membongkar kotak pandora praktik penghisapan manusia atas manusia yang terjadi. Kasus ini hanyalah sebuah puncak gunung es dari praktik-praktik sejenis yang sesungguhnya banyak terjadi tetapi tidak terungkap. Tidak boleh ada pembiaran. Penghisapan manusia atas manusia seperti ini lebih kejam dari makhluk penghisap darah manusia drakula.


Dipublikasikan oleh

Erba Vidya Cikta

Erba Vidya Cikta




kolom - Riau Pos 6 Februari 2017
Tulisan ini sudah di baca 357 kali
sejak tanggal 06-02-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat