drh. Chaidir, MM | Say No to Rasism | PIALA Dunia sepakbola 2010 di Afrika Selatan yang ditonton oleh ratusan juta pecandu sepakbola di planet bumi ini, tidak hanya mempersembahkan tontonan pertandingan sepakbola pada level tertinggi, seperti total football, jogo bonito (sepakbola indah), blitzrich (serangan kilat), dan sebagainya. Keju
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Say No to Rasism

Oleh : drh.chaidir, MM

PIALA Dunia sepakbola 2010 di Afrika Selatan yang ditonton oleh ratusan juta pecandu sepakbola di planet bumi ini, tidak hanya mempersembahkan tontonan pertandingan sepakbola pada level tertinggi, seperti total football, jogo bonito (sepakbola indah), blitzrich (serangan kilat), dan sebagainya. Kejuaraan akbar itu juga menyertakan banyak pesan moral. Salah satu pesan moral itu ialah, "Say no to rasism". Katakan tidak pada rasisme.

Pesan itu tertera pada sebuah spanduk yang mencolok, dan setiapkali disorot pada seremoni pembukaan pertandingan antara dua kesebelasan sepakbola yang bertanding. Tidak hanya itu. Kedua kapten tim secara khusus membaca ikrar untuk menghormati kesamaan derajat dan anti rasisme.

Sebagai cabang olahraga yang paling popular dan digemari di seluruh dunia, FIFA wajar melakukan kampanye agar sepakbola steril dari praktik-praktik rasisme yang dapat merusak sportivitas dan kemurnian pertandingan olahraga tersebut.

Para pecandu sepakbola tentu masih ingat peristiwa yang terjadi pada partai final memperebutkan juara dunia yang mempertemukan Prancis dan Italia pada 2006 di Jerman. Tiba-tiba saja bintang tim Prancis, Zidane, menanduk Matterazi, pemain tim Italia. Matterazi terjengkang dan Zidane mendapat kartu merah. Konon, kisah di balik peristiwa, Matterazi mengeluarkan kata-kata yang menghina Zidane. Zidane, yang terpilih menjadi pemain terbaik adalah warga Prancis keturunan Aljazair. Kita tidak tahu apakah kata-kata Matterazi berbau rasisme atau tidak. Hanya Zidane yang tahu.

Slogan "Say no to rasism" sangat tepat dikumandangkan dari bumi Afrika Selatan, karena negeri itu sudah kenyang dengan asam garam konflik perbedaan ras. Seorang tokoh Afrika Selatan yang kemudian melegenda, Nelson Mandela, pernah dipenjara selama 27 tahun karena politik apartheid. Apartheid adalah kebijakan orde lama pemerintah Afrika Selatan yang membedakan ras kulit putih dengan kulit hitam penduduk asli Afrika Selatan. Penduduk asli Afsel yang berkulit hitam sangat dirugikan dalam berbagai bidang kehidupan seperti lapangan pekerjaan, penguasaan lahan pertanian, bahkan juga dalam pelayanan publik.

Nelson Mandela tak kenal lelah, seberapa besar pun risikonya, berjuang keras untuk kesamaan hak antara warga kulit hitam dan kulit putih di Afrika Selatan. Perjuangan itu banyak menimbulkan korban nyawa dan harta terutama di kalangan kulit hitam yang diperlakukan secara tidak adil oleh pemerintah minoritas kulit putih.

Tetapi ketika pada 1990 Nelson Mandela dibebaskan dari penjara setelah ditahan semenjak 1962, dan kembali memimpin African National Congress (ANC), sama sekali tidak ada aksi balas dendam. Padahal pengikut ANC adalah kelompok mayoritas di Afsel. Dia bahkan menyerukan perjuangan damai melawan politik rasialis pemerintah kulit putih. Nelson Mandela menyerukan rekonsiliasi secara jujur dan tulus. Oleh karena itulah, setelah tiga tahun dibebaskan Nelson Mandela terpilih secara bulat dan demokratis sebagai presiden pertama kulit hitam Afrika Selatan.

Kita sudah sejak dulu berkata say no to racism, yakni sejak menerima Pancasila dan UUD 1945 sebagai filosofi dan dasar Negara. Sayangnya sejak otonomi daerah, praktik-praktik laksana rasisme seringkali tanpa sadar kita tegakkan.***

kolom - Riau Pos 5 Juli 2010
Tulisan ini sudah di baca 1317 kali
sejak tanggal 05-07-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat