drh. Chaidir, MM | Kang Ga Roo | UNGKAPAN itu konon diucapkan oleh penduduk asli Australia, suku Aborigin, ketika seorang pelaut Inggris, James Cook menemukan benua Australia dalam pelayarannya pada abad ke-17, dan mendapati hewan aneh yang memiliki kantong di perutnya. James Cook menanyakan nama hewan tersebut dengan bahasa isyara
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kang Ga Roo

Oleh : drh.chaidir, MM

UNGKAPAN itu konon diucapkan oleh penduduk asli Australia, suku Aborigin, ketika seorang pelaut Inggris, James Cook menemukan benua Australia dalam pelayarannya pada abad ke-17, dan mendapati hewan aneh yang memiliki kantong di perutnya. James Cook menanyakan nama hewan tersebut dengan bahasa isyarat, dan penduduk yang ditanya menjawab "Kang ga roo".

James Cook pun kemudian mencatat nama tersebut dalam buku catatan hariannya. Padahal sebenarnya penduduk yang tadi ditanya oleh Cook tersebut, tidak mengerti apa yang ditanya oleh Cook. Kata "kang ga roo" itu berarti "I don't understand you" alias, saya tidak mengerti kamu. Cook mengira kata "kang ga roo" itu nama binatang berkantung tersebut. Selesailah sudah. Catatan Cook tersebut (gagal paham sebenarnya), tak pernah lagi berubah sampai ratusan tahun kemudian, sampai sekarang. Hewan berkantong itu disebut "kangaroo" (Bahasa Inggris) atau Kanguru (Bahasa Indonesia). Dengan demikian sesungguhnya, hewan berkantong yang memiliki nama latin Macropus rufus tersebut nama aslinya tetap menjadi misteri.

"Kang ga roo" alias "I don't understand you" alias "saya tak mengerti kamu", agaknya tepatlah ditujukan ke Negeri Kanguru itu sekarang ketika mereka gagal paham bagaimana seharusnya hidup bertetangga dengan baik (dengan Indonesia), saling hormat menghormati, saling harga menghargai, saling menjaga sopan santun. Kita paham, asumsi dasar persepsi kedua negeri memang tidak sama, sebab kendati berada di Timur, masyarakat Australia adalah masyarakat Barat yang menjunjung tinggi kebebasan; ada terminologi yang dipahami berbeda. Namun, secara universal norma saling menghormati, saling menghargai, saling menjaga sopan santun, antar negara yang berdaulat, sebenarnya sama.

Indonesia pun sesungguhnya, sekarang sudah menjadi salah satu negeri demokrasi terbesar di dunia, bahkan sistem pemilihan presidennya yang menganut sistem pemilihan langsung one man one vote, dianggap lebih "gila" dari pilpres Amerika Serikat yang masih menggunakan electoral vote. Paradigma persnya yang bebas dan merdeka, bahkan berkembang menjadi pers yang sangat bebas sebebas-bebasnya di dunia, yang bahkan di Australia sendiri pun belum tentu sebebas pers Indonesia. Tapi begitu pun, pers Indonesia tetap tampil berimbang bila menyangkut hal-hal yang menjadi urusan dalam negeri negara lain.

Dalam konteks kebebasan itulah kita sulit memahami Australia. Ketika Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengambil sikap tegas terhadap Australia dengan menghentikan kerjasama militer dengan Australia menyusul tersiarnya berita adanya oknum tentara di negeri itu yang menghina Pancasila, mengapa pers Australia mem-bully Jenderal Gatot? Sikap Panglima TNI sudah benar. Tidak boleh ada toleransi terhadap pihak-pihak yang melecehkan lambang negara, apalagi penghinaan terhadap Dasar Negara Pancasila.

Kita memahami sikap tegas Panglima TNI Jenderal Gatot bukan karena ketakutan perwira-perwira terbaiknya yang menjadi instruktur di sekolah komando di Australia direkrut menjadi mata-mata untuk kepentingan Australia, atau pencitraan untuk pencalonan Presiden 2019. Itu hanya dalih pembenaran semata yang dipropagandakan oleh pers Australia.

Tapi Pemerintah Australia selalu cuci tangan dan selalu berdalih "sikap pers Australia bukan sikap resmi pemerintah". Jurus ini sebenarnya jurus kuno yang masih mereka gunakan mulai dari era Presiden Soeharto yang dihina oleh harian Sydney Morning Herald (1986) sampai sekarang. Pers Australia memiliki rekam jejak yang kurang bersahabat.

Akhir-akhir ini provokasi dari Australia semakin menjadi-jadi. Penyerangan terhadap properti dan warga negara Indonesia bukan baru ini terjadi. Tahun 2015, Konsulat Jenderal RI di Sidney diserang aksi vandalisme, bulan Desember 2016 kemarin seorang mahasiswa doktoral asal Indonesia diserang orang tak dikenal di Perth dan kemungkinan besar kasus tersebut bukanlah perampokan. Jumat malam (6/1) pekan lalu, terjadi pula pelanggaran (trespassing) terhadap Kedutaan Besar Indonesia di Canberra.

Heran. Padahal dua negara bertetangga ini sebenarnya (pada tingkat G to G dan private to private) sudah memahami potensi ekonomi masing-masing yang bisa dikembangkan untuk kesejahteraan rakyat kedua negara, khususnya lagi di bidang peternakan. Tapi gangguan selalu ada. Siapa yang main kucing-kucingan? Dalam Tabloid Serantau Edisi 26 November 2 Desember 1999 sebagaimana dimuat dalam buku Berhutang Pada Rakyat (2002), saya menyimpulkan sebuah ulasan tentang Australia, "saya mencoba memahami, tetapi tetap tidak memahami Australia". Kesimpulan yang sama juga masih belum berubah 17 tahun kemudian. Kang ga roo!

kolom - Riau Pos 9 Januari 2017
Tulisan ini sudah di baca 338 kali
sejak tanggal 09-01-2017

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat