drh. Chaidir, MM | Lain di Bibir Lain di Hati | LIBUR tanggal merah hari ini dalam almanak bangsa Indonesia tertulis,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Lain di Bibir Lain di Hati

Oleh : drh.chaidir, MM

LIBUR tanggal merah hari ini dalam almanak bangsa Indonesia tertulis, "12 Desember: Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H". Maulid Nabi Muhammad SAW kadang disebut Maulid Nabi atau Maulud saja, adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah (sekitar tujuh abad setelah Nabi wafat). Ibn Katsir dalam kitab Tarikh menyebut: Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal. Dia merayakannya secara besar-besaran. Dia adalah seorang Sultan yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil.

Di Yogyakarta, terdapat upacara adat yang disebut sebagai Sekaten atau yang lebih dikenal dengan istilah Pasar Malam Perayaan Sekaten karena sebelum upacara Sekaten, diadakan kegiatan pasar malam terlebih dahulu selama satu bulan penuh. Tradisi ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak (abad ke-16), diselenggarakan setahun sekali pada bulan Maulud, bulan ke tiga dalam tahun Jawa, sebagai bentuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perhelatannya dari dulu sampai sekarang, berabad-abad kemudian, tetap mengambil lokasi di pelataran atau Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta.

Secara substansi, peringatan Maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad oleh Umat Islam, tidak hanya sebuah seremoni belaka. Salah satu nilai yang sangat penting dari peringatan Maulid Nabi dan sangat relevan dengan peringatan secara nasional HAKI (Hari Anti Korupsi Internasional) yang diadakan di Riau adalah memaknai keteladanan kepemimpinan yang ditunjukkan Nabi Muhammad. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sudah sangat terkenal, yakni amanah (jujur dan bertanggungjawab), sidik (lurus), tabliq (komunikatif) dan fatonah (cerdas). Keempat konsep keemimpinan tersebut telah diakui sukses secara gemilang karena memenuhi unsur menyeluruh, dapat diterima dan telah teruji. Wajar bila penulis barat Michael H. Hart dalam bukunya, "The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History" (Edisi Revisi, 1992), menempatkan Nabi Muhammad SAW dalam urutan pertama diantara seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia.

Berbagai krisis yang tengah kita hadapi sekarang ini, yakni krisis ekonomi, politik, integritas, moral, budaya, lingkungan dan sebagainya, berkorelasi erat dengan krisis persepsi kepemimpinan (Sidik Priadana, 2013). Budayawan Tenas Effendy (2000) dalam buku Tunjuk Ajar Ungkapan Adat Istiadat Melayu, menyebut, "Bila Pemimpin tak tahu diri, umat binasa rusaklah negeri." Ungkapan itu mengandung makna, bila pemimpin tak tahu diri, tidak tahu hak dan kewajibannya, tidak tahu tanggung jawab dan beban yg dipikulnya, tidak memiliki kemampuan, suka berbuat sewenang-wenang, maka binasalah rakyat dan rusaklah negeri.

Dalam era otonomi daerah sekarang, sukses atau tidaknya pembangunan di suatu daerah sangat bergantung pada kepemimpinan di daerah. Peran kepala daerah sangat dominan dalam menggerakkan sumber daya pembangunan di daerah. Kepala Daerah bisa memberi makna dan membangkit batang teras yang terendam. Bisa membuat yang jauh menjadi dekat, yang rumit menjadi mudah, yang asing menjadi akrab. Sebaliknya, sang kepala daerah juga bisa menjarah atau menjajah daerahnya sendiri kalau mereka tidak memiliki integritas.

Di sinilah pentingnya keteladanan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang Maulidnya kita peringati setiap tahun, dan tahun ini bersamaan dengan momentum peringatan HAKI. Kenyataannya (jujur sajalah), kepemimpinan Rasulullah, mudah dipahami tapi amat sulit diamalkan bahkan dalam negeri dengan penduduk pemeluk Islam terbesar di dunia seperti di negeri kita. Barangkali benar seperti ditulis Burns (1978): "Fenomena kepemimpinan adalah fenomena yang paling banyak dicermati dan paling jarang dimengerti." Hegel menambah kegalauan kita ketika menduga, apa yang kita kenal belum dimengerti secara logis. Hadeeeh..iya pulak ya.. Maka, ayolah kita memaknai lebih dalam lagi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW agar kita tidak tergelincir dan segera bergegas bergerak mewujudkan Indonesia tangguh seperti yang kita teriakkan itu. Jangan lain di bibir lain di hati.

kolom - Riau Pos 12 Desember 2016
Tulisan ini sudah di baca 309 kali
sejak tanggal 12-12-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat