drh. Chaidir, MM | Monumen Integritas | SEBUAH
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Monumen Integritas

Oleh : drh.chaidir, MM

SEBUAH "jemputan" rancak dilayangkan ke pondokku di Pandau, di pinggiran kota Pekanbaru, bersempena perhelatan peringatan Hari Antikorupsi Internasional (HAKI). Tak seperti lazimnya, sampul undangan yang berwarna-warni cerah itu sarat kredo. Ditulis dalam huruf kapital, agaknya untuk memberi aksentuasi. "BERSIH HATI, TEGAK INTEGRITAS, KERJA PROFESIONAL UNTUK INDONESIA TANGGUH". Ada pula, "AYO RIAU BERGERAK UNTUK INDONESIA TANGGUH".

Frasanya menarik dan terasa penuh muatan pesan. Untuk kredo pertama, ada komponen "bersih hati", "tegak integritas", ada "kerja profesional", dan ada pula tagline baru: "Indonesia tangguh" (biasanya, frasa yang umum kita dengar adalah Indonesia raya, Indonesia jaya, Indonesia hebat, Indonesia makmur, atau Indonesia maju). Untuk kredo kedua, bisa diberi konotasi, ayolah Riau, jangan diam saja, ayo kita bergegas bersama-sama bergerak untuk Indonesia tangguh.

Dalam senarai acara yang padat, terbaca ada dua agenda penting, yakni Rembuk Integritas Nasional dan Peringatan Hari Antikorupsi Internasional. Agenda kedua diisi dengan "Integrity Expo", Perayaan Anti Korupsi oleh Komunitas, Pergelaran Pentas Seni Budaya Nusantara, dan puncaknya adalah acara Peringatan Hari Antikorupsi Internasional sekaligus Peresmian Monumen Tunjuk Ajar Integritas di Pekanbaru. Tidak tanggung-tanggung, monumen ini diberitakan, rencananya akan diresmikan oleh Presiden Jokowi. Opo ora hebat?

Monumen Peringatan HAKI (ditetapkan oleh PBB setiap tanggal 9 Desember) tersebut diberi nama Monumen Tunjuk Ajar Integritas, sebuah monumen yang berdiri tegak membisu laksana mercusuar di tengah lautan yang mengingatkan pelaut. Sesuai dengan sifatnya, monumen tersebut tentu akan memiliki nilai sejarah penting bagi anak cucu kita kelak di kemudian hari. Memang, apalah artinya sebuah nama, kata Sokrates, tapi nama yang diberikan untuk monumen ini pasti bukan tanpa alasan. Kalau tak ada berada takkan burung tempua bersarang rendah.

Di situlah menariknya. Integritas dalam KBBI bermakna kejujuran. Dalam integritas terhimpun berbagai sifat pendukung yang bisa membuat orang menjadi berwibawa, terpercaya, memiliki marwah dan konsisten terhadap kebenaran, satu kata dan perbuatan. Dan korupsi merupakan indikasi kuat menjauhnya kejujuran, ketika kata dan perbuatan tak lagi seiring sejalan, ketika amanah tak tahu jalan kembali ke pangkal jalan. Tegasnya, korupsi disebabkan karena lemahnya integritas, ini persoalan integritas. Dan, Riau khususnya serta bangsa ini pada umumnya, kalau boleh disebut khatam, sudah khatam berkali-kali dengan persoalan tersebut.

Riau sebagai the home land of Melayu, sesungguhnya memiliki tunjuk ajar amat banyak tentang integritas, tentang keutamaan kejujuran, ketaatan, kesetiaan, keikhlasan, dan kebersihan hati. Orang tua-tua mengatakan, siapa jujur, hidupnya mujur. Orang Melayu berusaha senantiasa menanamkan sifat jujur kepada anak-anaknya sejak dini. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang jujur, ikhlas, lurus dan bersih hati dihormati dan disegani oleh masyarakat. Dalam ungkapan tunjuk ajar Melayu (Tenas Effendy, 2004:288), keutamaan kejujuran digambarkan tidak kurang dari 103 ungkapan dan 35 pantun. Misalnya, apa tanda melayu jati, lurus dan jujur sampai ke hati; apa tanda Melayu jati, hidupnya jujur sampai mati; apa tanda Melayu terbilang, jujurnya sampai ke sumsum tulang. Salah satu pantun dalam syair Melayu: Wahai Ananda buah hati bunda/hiduplah jujur jangan durhaka/jauhkan bohong haramkan dusta/supaya hidupmu tiada ternista.

Tenas juga menggambarkan keburukan orang-orang yang tidak jujur, tidak ikhlas, tidak taat dan khianat sebagai sikap celaka, yaitu orang-orang yang menggunting dalam lipatan, telunjuk lurus kelingking berkait, angguk tidak geleng ya, lidah bercabang, lain di mulut lain di hati, bermuka dua dan sebagainya.

Momentum peringatan HAKI diharapkan tidak hanya bersifat seremonial belaka tetapi bagaimana melibatkan masyarakat secara luas sehingga menghasilkan dampak pada penyadaran terhadap isu antikorupsi. Bagi Riau (para pemimpin, politisi dan masyarakatnya), peringatan HAKI harus bisa dijadikan momentum, bercermin diri, keteladanan dan perubahan lebih baik ke depan. Monumen integritas yang diresmikan itu penting, tapi membangun monumen integritas di hati masing-masing jauh lebih penting.

kolom - Riau Pos 5 Desember 2016
Tulisan ini sudah di baca 264 kali
sejak tanggal 05-12-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat