drh. Chaidir, MM | La Decima Hitam Putih | PADA 2014 dua tahun lalu, pendukung klub sepakbola Real Madrid, Spanyol berpesta pora merayakan kemenangan tim kesayangannya atas Atletico Madrid 4-1 dalam final Liga Champion. Mereka berteriak
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

La Decima Hitam Putih

Oleh : drh.chaidir, MM

PADA 2014 dua tahun lalu, pendukung klub sepakbola Real Madrid, Spanyol berpesta pora merayakan kemenangan tim kesayangannya atas Atletico Madrid 4-1 dalam final Liga Champion. Mereka berteriak "La Decima". La Decima menggema dimana-mana menjadi frasa kota megapolitan Real Madrid. Yup, Real Madrid memang menjadi satu-satunya klub di jagad raya yang berhasil merebut piala Liga Champion untuk kesepuluh kalinya.

Nun jauh di timur, tak ada hubungannya sama sekali dengan sepakbola, di sebuah negeri yang berada di lintasan khatulistiwa, tepatnya di Riau yang terletak di tepi Selat Melaka, sebuah agenda musik "Riau Hitam Putih International" melakukan pagelaran "La Decima", sebuah pagelaran yang kesepuluh sejak diselenggarakan pertama kali tahun 2004 silam. Tentu La Decima Riau Hitam Putih Internasional tidak seheboh pesta La Decima Real Madrid yang dilakukan oleh boneknya Madrid, Madridistas.

Tapi agenda musik tradisi Riau Hitam Putih International yang diinisiasi oleh Malay Music Institute, Riau ini, mengirim banyak pesan kehidupan. Riau Hitam-Putih adalah gagasan kreatif dari sekelompok musisi-musisi muda yang tergabung dalam Malay Music Institute, yang masih mencintai musik tradisi. Namun mereka juga bukan orang-orang yang alergi terhadap genre musik modern, justru mereka adalah anak-anak muda yang memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap dunia musik. Mereka akomodatif terhadap intervensi musik modern. Mereka terobsesi, agenda musik tradisi Riau Hitam-putih Internasional ini akan menjadi wadah perbancuhan antara musik tradisi dan musik modern kontemporer.

Genre musik itu dipertemukan untuk saling menyapa, berdialog dan bergandengan tangan. Musik tradisi membuka ruang dan wawasan terhadap musik kekinian, dan musik kekinian pula menyadari, bunyi-bunyian yang dimainkan sekarang dalam berbagai aransemen, berasal dari bunyi-bunyian yang sejak dulu kala sudah dimainkan oleh nenek moyang kita. Dialog antar genre musik itu diharapkan akan menghasilkan sebuah kolaborasi musik yang mampu melintasi samudra dan melintasi zaman.

Kolaborasi musik tradisi dan musik modern yang digelar dalam bentuk Riau Hitam-Putih Internasional itu merupakan ikhtiar untuk menghadirkan kurator kelas dunia. Realitasnya, sulit bagi musik tradisi untuk bertandang ke manca negara. Kolabrasi "hitam-putih" ini diharapkan akan dapat dimanfaatkan oleh musisi-musisi kita untuk mengembangkan daya ciptanya sehingga suatu saat kelak mampu memberikan warna etnik terhadap karya-karya musik kelas dunia.

Kehidupan tidak penah bisa lari dari musik, atau lebih tepat barangkali, musik adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Sebagai cabang dari seni-budaya, seperti halnya puisi dan cabang seni lainnya, musik mampu menetralisir perilaku anomi dari masyarakat akibat gairah kebendaan yang berlebih-lebihan atau kehidupan masyarakat yang serba materialistik. Mengelaborasi Edward W. Said (1993) dalam Kekuasaan dan Kebudayaan (Cultural and Imperialism), pembangunan yang hanya bersifat material akan melahirkan agresifitas, sesuatu yang anomi, dan serba massive. Penetralisirnya adalah seni-budaya. Dengan kata lain, seni akan menjaga sopan santun dan akal budi.

"Musik adalah sebuah Bahasa, sebuah bentuk komunikasi. Musik dapat membangkitkan respon-respon emosional dan menggugah pikiran, musik pula dapat memberi pegertian nyata atau gagasan-gagasan berpikir", begitu kata Profesor I Made Bandem (sebagaimana dikutip Chaidir, Membaca Ombak, 2006 dari buku Ensiklopedia Musik Klasik karya Muhammad Syafik).

Dewasa ini, ketika para petinggi negeri parno alias paranoid menghadapi guncangan demi guncangan terhadap sendi kebinekaan bangsa akibat banalitas panggung politik mengemas lakon SARA secara amat berlebihan, agenda musik Riau Hitam-Putih Internasional memberi pesan yang jelas kepada dunia, bahwa musik bebas SARA. Musik tradisi yang memiliki identitas lokalitas kultural yang bisa membedakan satu bangsa dengan bangsa lainnya, justru bisa menjadi penyambung, menjadi jembatan, dan menjadi perekat dengan musik tradisi di negeri antah berantah di belahan manapun seberapa primitive atau seberapa modern sekalipun. Itulah kehebatan musik, menjadi identitas tak peduli batas. Musisinya bersaudara tak peduli SARA.

kolom - Riau Pos 28 Nopember 2016
Tulisan ini sudah di baca 260 kali
sejak tanggal 28-11-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat