drh. Chaidir, MM | Dramaturgi Wagubri | HIDUP bukan seperti sandiwara, tapi hidup itu sendiri adalah sandiwara. Begitu filsuf Amerika Kenneth Duva Burke (1897 - 1993) memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama. Bahwa drama adalah pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Dengan kata
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Dramaturgi Wagubri

Oleh : drh.chaidir, MM

HIDUP bukan seperti sandiwara, tapi hidup itu sendiri adalah sandiwara. Begitu filsuf Amerika Kenneth Duva Burke (1897 - 1993) memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama. Bahwa drama adalah pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Dengan kata lain, mengelaborasi dalil Burke, baranglali dapat disebut, drama adalah cara memberi makna.

Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan. Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke, 1978 dalam kursikayu.com).

Tertarik dengan teori dramatisme Burke, Erving Goffman (1922 - 1982), seorang sosiolog interaksionis dan penulis, memperdalam kajian dramatisme tersebut dan menyempurnakannya dalam bukunya yang kemudian terkenal sebagai salah satu sumbangan terbesar bagi teori ilmu sosial The Presentation of Self in Everyday Life (1959). Goffman yang mendalami fenomena interaksi simbolik mengemukakan kajian mendalam mengenai konsep Dramaturgi.

Buku tersebut menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Pertunjukan yang dipertontonkan di masyarakat adalah untuk memberi kesan yang baik dalam rangka pencapaian tujuan.

Dramaturgi adalah teori yang mengemukakan bahwa teater dan drama mempunyai makna yang sama dengan interaksi sosial dalam kehidupan manusia. Dramaturgi merupakan pendalaman dari konsep interaksi sosial, yang menandai ide-ide individu yang kemudian memicu perubahan sosial masyarakat menuju era kontemporer. Teori dramaturgi muncul sebagai reaksi atas konflik sosial dan rasial dalam masyarakat. Menurut Sri Suneki dan Haryono (Juli 2012), dramaturgi berada di antara interaksi sosial dan fenomenologi.

Tujuan dari presentasi dari diri (menurut Goffman) ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai dengan sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Dengan kata lain, aktor dapat dikatakan sebagai komunikator dalam sebuah model komunikasi yang mengusung sejumlah pesan untuk komunikan.

Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain (komunikan) mengikuti kemauan kita, maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang diinginkan.

Maka, ketika penunjukan dan pemilihan figur untuk pengisian jabatan wakil gubernur Riau yang lowong sudah sejak lama, pandang sajalah ini sebagai sebuah dramaturgi, sebuah dramatisasi sosial politik yang dimainkan dalam sebuah panggung politik. Masalahnya tidaklah begitu urgent, bahkan juga tidak terlalu penting sehingga sampai membuat daerah ini seakan berdiri di tubir. Tanpa maksud meremehkan, dalam perspektif UU nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 63 jelas menyebutkan, Kepala Daerah dapat dibantu oleh wakil kepala daerah. Kata "dapat dibantu" memberi konotasi, wakil kepala daerah adalah ibarat mentimun bungkuk, dimasukkan tak menambah hitungan, dibuang tak mengurangi.

Masalahnya, isu pengisian jabatan wagubri sudah terlanjur digoreng kian kemari ke hilir ke mudik sehingga membentuk opini seakan conditio sine qua non, sesuatu yang tidak boleh tidak harus dilaksanakan, gawat kalau tidak. Halaman demi halaman media konvensional dan media social banyak dipenuhi dengan kemasan berita kontroversi pemilihan wagubri, ruang-ruang diskusi banyak pula menghabiskan waktu untuk topik tersebut. Ada pula yang bersitegang urat leher adu argumentasi. Tak sedikit anggaran dihabiskan DPRD untuk pembahasan tata tertib pemilihan termasuk studi banding ke provinsi lain, untuk kemudian hasil tatibnya sangat menasional-normatif (nasional banget gitu lho...).

Draft klausul yang krusial telah dilewati dan pengesahannya oleh DPRD Riau berjalan dengan mulus. Tatib tersebut secara tegas mengatur bahwa wakil kepala daerah tak harus dari daerah tempatan. "Tatib khusus sudah kita sahkan (Kamis, 6/10), Wakil Gubernur Riau nantinya tidak mesti berasal dari Riau, tapi mesti mengerti dengan geografis, budaya dan paham akan Riau," sebut Ketua Tatib Khusus, Aherson (Riau Pos, 8/10). Rumusan itu jelas antiklimaks, tak peka terhadap aspirasi masyarakat yang berkembang di daerah. Tapi apa hendak dikata, kewenangan pembahasan ada di DPRD Riau. Sebenarnya, kalaulah rumusan finalnya seperti itu, DPRD Riau tak perlu menghabiskan waktu banyak dalam pembahasannya, satu hari saja cukup.

Dengan Tatib tersebut pemilihannya akan berjalan mulus. Siapapun usulan nama bakal calon wagubri yang telah diluncurkan ke Jakarta oleh Ketua DPD Partai Golkar Riau (dan belum "dibocorkan", sehingga terkesan misterius ibarat kucing dalam karung), sudah pasti klop dengan Tatib, tak diragukan. Sebelumnya memang sempat muncul kekhawatiran, bakal calon yang namanya sudah terlanjur diajukan, tidak klop dengan Tatib yang sedang dibahas di DPRD Riau. Apalagi pada awalnya ada pro-kontra antara klausul "tidak mesti berasal dari Riau vs mesti berasal dari Riau".

Apapun hasil dramaturgi pilgubri ini, figur impor atau bukan tak masalah. Pakai prinsip Deng Xiao Ping saja, tak perlu kucing itu berbulu putih atau hitam, yang penting dia mau dan mampu menangkap mencit, tidak "ilfil" lihat mencit.

kolom - Koran Riau 22 Nopember 2016
Tulisan ini sudah di baca 355 kali
sejak tanggal 22-11-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat