drh. Chaidir, MM | Toleransi Hewan | DALIL bahwa manusia memiliki moral dan binatang tidak, agaknya perlu dipikir ulang oleh bangsa manusia. Profesor Marc Bekoff (2009), pakar ekologi di Universitas Colorado di Boulder Colorado, AS, menemukan sejumlah bukti menarik dalam penelitiannya yang dimuat dalam sebuah artikel,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Toleransi Hewan

Oleh : drh.chaidir, MM

DALIL bahwa manusia memiliki moral dan binatang tidak, agaknya perlu dipikir ulang oleh bangsa manusia. Profesor Marc Bekoff (2009), pakar ekologi di Universitas Colorado di Boulder Colorado, AS, menemukan sejumlah bukti menarik dalam penelitiannya yang dimuat dalam sebuah artikel, "Hewan Dapat Membedakan Salah dan Benar". Disadari, moral kebudayaan dalam kelompok hewan tertentu akan berbeda dari yang lain, juga dari manusia, tapi moral itu pasti ada. Buktinya, prinsip keadilan dan kesetaraan juga dihargai dalam kerajaan hewan.

Hewan menikmati kebersamaan sosial. Mereka punya waktu, mereka bisa bersantai, menikmati makanan. Ada banyak hal yang amat penting ketika manusia harus memahami dan menghormati bangsa hewan, tetapi kuncinya adalah "sanubari." Dengan sanubari, manusia dan hewan memiliki kemampuan merasakan; merasakan hal yang baik, merasakan sesuatu yang buruk, merasakan sakit, merasakan kesenangan, juga kesedihan. Begitulah pesan dari kerajaan hewan seperti ditulis Bekoff.

Jonathan Balcombe dalam Pleasurable Kingdom: Animals and the Nature of Feeling Good (2007) juga sependapat, semakin lama semakin jelas bahwa hewan memiliki kesadaran moral, atau pertimbangan moral tentang bagaimana mereka berkelakuan. Hal ini terutama terjadi pada hewan sosial, yang telah berevolusi untuk hidup dalam kelompok. Balcombe menyebut, hewan yang hidup dalam kelompok memiliki kesadaran moral dalam bentuk kompromi, memberi dan mengambil, atau akan diusir dari kelompok bila tidak mempertahankan hubungan baik dengan yang lain.

Studi ilmiah terbaru menunjukkan bahwa hewan memiliki kualitas hidup, melebihi stempel yang selama ini diberikan oleh manusia. Hewan mampu bersikap baik saat hidup berkelompok, Bila mereka hidup dalam kelompok dan memiliki komunitas, mereka bersikap baik satu sama lain. Mereka memiliki pergaulan. Sebagaimana bangsa manusia yang perlu berlaku sopan, saling menghormati, terkendali, bersikap ramah, dan berlaku baik antar sesama bila hidup dalam satu komunitas, hewan pun menunjukkan perilaku yang sama bahkan seperti disebut Balcombe, hewan memiliki tenggang rasa satu sama lain.

Berdasarkan hasil pengamatan yang panjang, tikus misalnya, secara spontan, tanpa hadiah apa pun, tanpa ada yang menyuruh, akan bertindak membantu temannya yang berada dalam kesulitan. Jika mereka terikat bersama, mereka akan saling bantu melepaskan. Simpanse dan kera juga menunjukkan perilaku luhur, jika mereka bekerja sama untuk mendapatkan sesuatu, mereka akan membagi makanan. Simpanse dan kera yang ditempatkan di kandang berbeda yang berdekatan, akan saling mengoper makanan melalui jeruji kandang, untuk memastikan temannya mendapat makanan juga.

Frans de Waal (2006), seorang primatolog dari Pusat Penelitian Daerah Yerkes yang berbasis di Amerika di Universitas Emory, melakukan penelitian jangka panjang pada seekor kera bernama Mozu. Dia mengungkapkan perilaku bajik pada hewan. Mozu seekor kera Jepang, dilahirkan dengan cacat fisik yang amat parah. Dia tidak memiliki tangan, dan tidak memiliki kaki. Jelas, seekor kera, tanpa tangan, tanpa kaki tidak memanjat, tidak memegang makanan. Hewan ini tidak akan hidup lama. Tapi Mozu hidup panjang umur, dan membesarkan lima anak, melebihi dari yang bisa dilakukan kebanyakan betina dalam masyarakat kera. Dia tidak mungkin melakukannya sendiri. Dia mengandalkan dan mendapat manfaat dari kebaikan komunitasnya, memberi dia makan, dan memberi bantuan kepadanya.

Dewasa ini masyarakat kita gaduh menghadapi sebuah gejala akut menurunnya toleransi antar sesama. Rasa saling bertenggang rasa sebagai sebuah bangsa yang terlahir sebagai sebuah bangsa majemuk yang berbeda-beda suku bangsa dan agama, memudar. Polarisasi dan fragmentasi demikian mudah terbentuk. Tenggang rasa dan sikap menghargai kebinekaan mudah diucapkan tapi impelementasinya sering terabaikan dalam perilaku hidup sehari-hari. Perlukah kita belajar dari toleransi hewan? Manusia kan bangsa pemikir.

kolom - Riau Pos 21 Nopember 2016
Tulisan ini sudah di baca 425 kali
sejak tanggal 21-11-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat