drh. Chaidir, MM | Pesan dari Kampus | LIMA kali debat kandidat pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2016 (empat kali debat capres dan satu kali debat cawapres), semuanya diselenggarakan di kampus. Debat pertama diadakan di Universitas Hofstra, New York (26/9);  debat kedua di Universitas Washington (Washington University) di St Louis
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pesan dari Kampus

Oleh : drh.chaidir, MM

LIMA kali debat kandidat pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2016 (empat kali debat capres dan satu kali debat cawapres), semuanya diselenggarakan di kampus. Debat pertama diadakan di Universitas Hofstra, New York (26/9); debat kedua di Universitas Washington (Washington University) di St Louis, Missouri (9/10); debat ketiga di University of Nevada, Las Vegas; dan debat keempat diadakan di Universitas Colorado Boulder, Colorado.

Debat cawapres diselenggarakan hanya satu kali, tapi tetap di kampus, yakni di Longwood University, di Negara Bagian Virginia. Washington University, tempat penyelenggaraan debat kedua pilpres AS 2016 ini bahkan sudah lima kali menjadi tuan rumah bagi debat-debat capres Amerika Serikat.

Setuju atau tidak, peran kampus (kalangan akademisi dan mahasiswa) dianggap penting dalam menegakkan dan menjaga iklim demokrasi di AS (bahkan juga di negara-negara yang berdemokrasi di seluruh dunia). Tapi untuk diketahui, sampai dengan tahun 1972 usia paling muda yang memiliki hak pilih di AS adalah 21 tahun. Berkat protes mahasiswa, sejak itu usia pemilih diturunkan menjadi 18 tahun (padahal dalam era yang sama, demokrasi Pancasila di negeri kita sudah memberikan hak suara pada pemilih yang berusia pemilih17 tahun atau telah menikah).

Sebagai kawah candradimuka, center of excellent, kampus sering kali dianggap mempunyai kekuatan legitimasi moral rakyat, artinya kampus masih mampu menyuarakan tuntutan hati nurani rakyat. Bukan hanya kampus sebagai institusi, bahkan mahasiswa sering kali juga dianggap sebagai kelompok penekan yang suaranya sering kali perlu didengar. Paling tidak, sejumlah peristiwa nasional banyak melibatkan kalangan mahasiswa dan intelektual kampus.

Pemilih pemula, yang dikenal dengan istilah first time voters, secara universal dipahami terdiri atas pelajar, mahasiswa atau pemilih dengan rentang usia 17-21 tahun (angka populasinya yang sering disebut sekitar 20-30 persen dari total pemilih). Kelompok ini menjadi kelompok strategis dalam pemilihan umum di bagian mana pun planet ini sehingga berbagai cara digunakan untuk memikat hati mereka agar menggunakan hak pilihnya. Pendekatan ke pemilih pemula ini seringkali rumit, karena citra politik itu kotor dan kental dengan nuansa kepentingan. Upaya marketing politik yang dilakukan oleh partai maupun kandidat cenderung manipulative.

Sementara pada sisi lain pemilih pemula itu ibarat kertas putih yang belum diwarnai atau dilukisi. Pemilih pemula seringkali memiliki antusiasme tinggi, relatif lebih rasional sekaligus juga emosional, haus akan perubahan dan tipis kadar pragmatismenya, serta tidak berpikir panjang. Mereka masih murni, namun karena ketidaktahuan sikapnya sering labil dan keputusan pilihannya sering belum bulat. Kelompok pemilih pemula ini, oleh konsultan politik umumnya, yang mempersiapkan marketing politik, dipetakan sebagai swing voters (pemilih mengambang) yang sesungguhnya.

Stigma itulah kelihatannya yang ingin diluruskan oleh entitas supra dan infra struktur politik di AS sehingga mereka konsisten dengan mengadakan debat kandidat di kampus, di "sarang" kelompok manusia-manusia muda yang kritis itu. Sebagai swing voters, tinggi atau rendahnya partisipasi segmen ini seringkali memunculkan kejutan dan membuat kita terperangah. Yang paling hangat adalah tumbangnya capres Hillary Clinton di tangan capres Donald Trump dalam pilpres Amerika Serikat tanggal 8 November beberapa hari lalu.

Dalam hitung-hitungan lembaga survei, Hillary Clinton unggul dari Donal Trump. Sejak masa kampanye dimulai pada September lalu, setidaknya 20 lembaga survei melakukan total lebih dari 80 jajak pendapat (survei). Situs koran Inggris, The Guardian, memuat hasil jajak pendapat lima lembaga survei terkemuka, yakni: FiveThirtyEight mengunggulkan Hillary dengan peluang 70,9 persen menang; Reuters mengunggulkan Hillary 90 persen mengalahkan Donald Trump; harian terkemuka New York Times memprediksi 46 persen Hillary menang, sedangkan peluang Trump untuk menang 42,9 persen; BBC memperkirakan Hillary Clinton menang dengan 48 % melawan 44 % untuk Trump; dan Real Clear Politics yang menghimpun rata-rata survei termasuk dua kandidat non Demokrat-Republik (Gary Johnson dan Jill Stein) juga meramalkan Hillary Clinton menang dari Donald Trump, namun dengan selisih tipis 2,2 persen poin.

Dari hasil-hasil survei tersebut, hanya satu organisasi yang membuka peluang kemungkinan kemenangan Trump, yaitu Los Angeles Times bersama USC Tracking. "Jelas ada yang salah di sini," ujar Larry Sabato, seorang profesor politik dari Universitas Virginia, kepada AFP, Selasa (8/11) sebagai dikutip berbagai media. Hasil pilpres di luar prediksi sama sekali.

Padahal, sebagaimana dimuat Kabar24.com, kurang dari dua minggu sebelum hari-H pemilihan presiden akan digelar di AS, hasil survei Reuters menyebut calon dari Partai Demokrat Hillary Clinton unggul dari calon Partai Republik Donald Trump sebesar 15% di kalangan pemilih pemula. Keunggulan Hillary Clinton dalam meraih suara pemilih pemula, mirip dengan keunggulan Presiden Barack Obama atas calon dari Partai Republik Mitt Romney, empat tahun silam.

Larikah pemilih pemula AS ke Donald Trump? Beberapa sumber menyebut pemilih pemula tidak kemana-mana, mereka tidak ke Trump tidak juga hadir di TPS untuk Clinton. Ada pengamat juga yang menyebut, anggota electoral collage baik di Demokrat maupun di Republik terdiri dari tokoh-tokoh tua, dan tokoh-tokoh tua hanya diminati oleh pemilih tua yang lebih cenderung ke Partai Republik (Donald Trump). Pemilih pemula enggan menggunakan hak pilihnya.

Sayang sekali di negeri kita kampus seakan disterilkan dari agenda politik, atau tak siap dengan dinamika dialektika, padahal di kampus itulah lumbung calon-calon pemimpin di masa depan, mereka idealis, objektif dan kritis dalam menanggapi persoalan bangsanya. Mereka juga terbiasa sportif menerima kekalahan. Kalau orang-orang dari kampus tidak ikut serta memikirkan hal-hal yang menyangkut nasib bangsa, berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada orang lain yang belum tentu lebih cerdas atau lebih pandai. Partai dan para kandidat dalam berdialog di kampus juga membiasakan diri mengendalikan adrenalin yang muncrat ke ubun-ubun, sambil tetap menjaga tatakrama berkomunikasi.

kolom - Koran Riau 15 November 2016
Tulisan ini sudah di baca 348 kali
sejak tanggal 15-11-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat