drh. Chaidir, MM | Uniknya Pilpres Amerika | TIDAK ada berita dunia yang lebih sensasional dalam pekan terakhir ini kecuali kemenangan mengejutkan Donald Trump dalam pilpres Amerika Serikat 2016. Tidak diunggulkan dan bahkan tidak diharapkan menang, Trump justru mengalahkan kekasih dunia, Hillary Clinton. Betapa tidak. Donald Trump, taipan pro
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Uniknya Pilpres Amerika

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK ada berita dunia yang lebih sensasional dalam pekan terakhir ini kecuali kemenangan mengejutkan Donald Trump dalam pilpres Amerika Serikat 2016. Tidak diunggulkan dan bahkan tidak diharapkan menang, Trump justru mengalahkan kekasih dunia, Hillary Clinton. Betapa tidak. Donald Trump, taipan properti asal New York itu mematahkan seluruh prediksi dari media, pengamat, survei bahkan opini masyarakat dunia.

Sejak masa kampanye dimulai pada September lalu, setidaknya 20 lembaga survei melakukan total lebih dari 80 jajak pendapat. Situs koran Inggris, The Guardian, memuat hasil jajak pendapat lima lembaga survei terkemuka, yakni: FiveThirtyEight mengunggulkan Hillary dengan peluang 70,9 persen menang; Reuters mengunggulkan Hillary 90 persen mengalahkan Donald Trump; harian terkemuka New York Times memprediksi 46 persen Hillary menang, sedangkan peluang Trump untuk menang 42,9 persen; BBC memperkirakan Hillary Clinton menang dengan 48 % melawan 44 % untuk Trump; dan Real Clear Politics yang menghimpun rata-rata survei termasuk dua kandidat non Demokrat-Republik (Gary Johnson dan Jill Stein) juga meramalkan Hillary Clinton menang dari Donald Trump, namun dengan selisih tipis 2,2 persen poin.

Dari semuanya, hanya satu organisasi yang membuka peluang kemungkinan kemenangan Trump, yaitu Los Angeles Times bersama USC Tracking. "Jelas ada yang salah di sini," ujar Larry Sabato, seorang profesor politik dari Universitas Virginia, kepada AFP, Selasa (8/11) sebagai dikutip berbagai media. Bahkan sebuah harian nasional terkemuka di Jakarta - yang biasanya sangat akurat - pada 9 November, kecele memuat artikel di halaman pertama, sebuah ulasan seputar kemenangan Hillary Clinton yang bersejarah.

Dari total 538 electoral college yang ada, penghitungan akhir CNN menunjukkan Trump meraup 290 electoral vote melawan Hillary dengan 232 electoral vote. Sebanyak 30 negara bagian condong ke Trump dan hanya 20 negara bagian plus District of Columbia yang condong ke Hillary. Tapi sebenarnya, prediksi lembaga survei itu boleh disebut meleset amat, sebab Donald Trump gagal mendominasi suara rakyat. Donald Trump sebenarnya kalah dalam popular vote (suara rakyat) secara nasional. Hillary masih sedikit lebih unggul dari Trump dengan selisih hanya 225 ribu suara. Penghitungan CNN menunjukkan Hillary memperoleh 59.916.416 suara atau sekitar 47,7 persen. Sedangkan Trump memperoleh 59.690.923 suara atau sekitar 47,5 persen.

Pemilihan presiden tahun 2016 adalah pemilu kelima dalam sejarah Amerika Serikat yang pemenangnya gagal mendominasi suara rakyat (setelah tahun 1824, 1876, 1888, dan 2000). Dalam pilpres tahun 2000, Capres Al Gore unggul lebih dari 500 ribu suara. Tapi George W Bush terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat karena meraih 271 electoral college sementara Al Gore hanya 266 electoral.

Bagi kita, bukan soal kompetisis seru Donald Trump atau Hillary Clinton itu saja yang menarik, sistem pilpres AS yang unik dan rumit adalah sisi lain yang tak kalah menarik. Menurut mereka sistem itu demokratis, telah sesuai dengan kebutuhan sistem negara federal yang mereka anut, dan sistem itu sudah teruji beratus tahun. Menurut kita, rasanya sistem itu tidaklah sedemokratis yang kita bayangkan bila ukuran demokratisnya sama seperti pilpres di Indonesia. Di negeri kita, rakyat bisa memilih langsung presidennya one man one vote (satu orang satu suara), di AS tidak. Sistem pilpres di Negeri Paman Sam itu sesungguhnya merupakan sistem perwakilan. Kandidat presiden yang mendapatkan popular votes (suara rakyat) terbanyak, belum tentu memenangkan pilpres karena masih ada electoral votes (suara electoral) yang harus diperhitungkan. Itulah yang dialami Hillary Clinton, dan kekalahan itu diakuinya dengan sportif.

Hak pilih dalam pemilu di AS pada mulanya adalah barang yang sangat mewah bagi masyarakat. Pada awalnya tidak semua warga negara AS memiliki hak untuk ikut dalam pemilihan, apalagi dipilih untuk menduduki jabatan publik. Pada tahun 1776 sampai 1830 hanya orang-orang kaya dan memiliki harta melimpah dan mampu membayar pajak saja yang diperbolehkan mengikuti sistem pemilihan umum dan memberikan suaranya dalam pemilihan umum tersebut. Kaum wanita bahkan baru pada 1920 memiliki peluang untuk memberikan suaranya dalam pemilihan umum. Pada tahun 1965, orang-orang kulit hitam baik di utara maupun di selatan baru mendapatkan kebebasan penuh untuk memilih. Yang paling akhir terjadi adalah pada tahun 1972 dimana usia pemilih diturunkan dari 21 tahun menjadi 18 tahun. Hebatnya, latar belakang dari perubahan yang terakhir ini adalah akibat dari protes-protes yang disampaikan oleh para mahasiswa. Hidup mahasiswa.

kolom - Riau Pos 14 November 2016
Tulisan ini sudah di baca 617 kali
sejak tanggal 14-11-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat