drh. Chaidir, MM | Taman Kota | PEKANBARU kota kita tercinta, tahun ini merayakan harijadi ke-226. Tanpa terasa, Pekanbaru tak lagi boleh disebut remaja. Kalau pun mau dipaksakan, paling-paling juga disebut remaja telat atau remaja lupa umur. Tapi untuk masuk kategori sebuah kota yang mature atau dewasa, barangkali belum.

Maksu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Taman Kota

Oleh : drh.chaidir, MM

PEKANBARU kota kita tercinta, tahun ini merayakan harijadi ke-226. Tanpa terasa, Pekanbaru tak lagi boleh disebut remaja. Kalau pun mau dipaksakan, paling-paling juga disebut remaja telat atau remaja lupa umur. Tapi untuk masuk kategori sebuah kota yang mature atau dewasa, barangkali belum.

Maksudnya, Pekanbaru dewasa ini, kendati sudah berusia 226 tahun, masih ibarat gadis ABG, tak ada kesan jadul (jaman dulu). Tak ada bagian kota yang menjadi kota tua. Bangunan-bangunannya hampir semuanya kontemporer, bangunan ruko apalagi.

Kota ini ibarat baru babat alas tahun lalu, kini sedang mekar, berkecambah, menggeliat, bergerak cepat. Di seluruh penjuru kota kegiatan pembangunan tak pernah berhenti, yang tinggi dipertinggi, yang lebar diperlebar, yang bagus dipercantik. Semua seakan berkejar-kejaran dengan waktu. Apatah lagi pada 2012 nanti kota ini akan menjadi tuan rumah PON XVIII.

Dalam satu dasawarsa ini Pekanbaru demikian cepat pertumbuhan masyarakatnya, listrik dibangun listrik tak cukup, air PAM dibangun air tak cukup, jalan diperlebar jalan semakin sempit. Lihatlah jalan-jalan protokolnya, dulu lebar kini terasa semakin sempit. Penyebabnya jelas, percepatan pembangunan fasilitas tak seimbang dengan percepatan peningkatan jumlah kendaraan baik roda empat maupun roda dua. Padahal sudah ada transportasi umum SAUM, Trans Metro.

Pekanbaru dalam beberapa tahun terakhir ini selalu mendapatkan anugerah Adipura. Ini pengakuan formal terhadap Pekanbaru sebagai kota besar terbersih. Namun sesungguhnya ekspektasi masyarakat sebuah kota besar yang semakin meningkat dan heterogen status sosialnya, tak hanya berhenti pada Adipura. Kebutuhan dasar (basic needs) masyarakat urban di Pekanbaru tak lagi hanya masalah perut.

Lihatlah perilaku masyarakatnya. Pada malam akhir pekan, air mancur kecil di halaman Kantor Walikota, taman kecil di belakang perpustakaan Soeman Hs, arena MTQ, semuanya dipenuhi oleh warga kota. Artinya? Masyarakat memerlukan taman kota, bahkan sangat memerlukannya. Tak ada taman kota mereka tumpah di jalan raya. Para petinggi yang "berkenan" melakukan incognito pasti akan menangkap denyut kehidupan warganya.

Taman kota adalah kebutuhan masyarakat di sebuah kota besar. Taman kota adalah lapangan terbuka yang diperuntukkan bagi umum untuk keperluan rekreasi. Taman kota, adalah taman yang dapat dipergunakan oleh warga kota kapan saja.

Biasanya dilengkapi dengan fasilitas rekreasi sederhana, olah raga, air mancur, dan sebagainya. Sebuah kota yang memiliki peradaban ditandai dengan keberadaan taman kota yang tertata dan terpelihara. Taman yang bagus biasa menjadi land mark dari sebuah kota. Kita tidak usah bermimpi untuk menjadikan Pekanbaru sebagai Kota Taman Tropis seperti Singapura atau Kuala Lumpur. Tapi memulai memikirkannya adalah sebuah keniscayaan bagi seluruh stakeholder di kota ini.

Tapi tuan, jangan berkecil hati, ada pepatah, "Rome is not built in a day". Roma tidak dibangun dalam sehari. Dirgahayu Pekanbaru.***

kolom - Riau Pos - 21 Juni 2010
Tulisan ini sudah di baca 1462 kali
sejak tanggal 21-06-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat