drh. Chaidir, MM | Lain Padang Lain Belalang | SAMA-SAMA hari Jumat, sama-sama berkonten kemarahan, sama-sama memanfaatkan jaringan media sosial sebagai media propaganda,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Lain Padang Lain Belalang

Oleh : drh.chaidir, MM

SAMA-SAMA hari Jumat, sama-sama berkonten kemarahan, sama-sama memanfaatkan jaringan media sosial sebagai media propaganda, "Hari Kemarahan" di beberapa negeri di Timur Tengah yang populer sebagai Jumat Kemarahan sejak revolusi di Mesir lima tahun silam, dengan "Hari Kemarahan" di Indonesia tiga hari lalu, ternyata beda. Serupa tapi tak sama. Serupanya, unjuk rasa hari kemarahan itu, di Jakarta, di Mesir, di Tepi Barat Jalur Gaza, atau di Baghdad, menjadi lautan manusia.

Tak samanya, terletak pada kemasan isu kemarahan itu sendiri (dan kemudian berpengaruh pada akibat dan output aksi). Hari Kemarahan di Timur Tengah merupakan klimaks dari kemarahan rakyat terhadap rezim pemerintahan yang korup dan tidak adil, sementara tagline hari kemarahan versi Indonesia adalah kemarahan terhadap Ahok yang dianggap telah menistakan agama. Berbeda dengan kemarahan yang damai Indonesia, kemarahan versi Timur Tengah menyebabkan jatuhnya puluhan korban jiwa di berbagai negara, dan hasil akhirnya adalah sebuah revolusi.

Pembaca tentu masih ingat serangkaian protes dan demonstrasi di seluruh Timur Tengah dan Afrika Utara yang dikenal luas dengan sebutan "The Arab Spring", atau "Musim Semi Arab", alias "Kebangkitan Arab". Protes hebat berawal dari Tunisia pada 18 Desember 2010 setelah pembakaran diri Mohamed Bouazizi dalam protes atas korupsi dan perawatan kesehatan di negerinya. Tragedi tersebut menimbulkan unjuk rasa massif di Tunisia, dan gelombang unjuk rasa ini diikuti dengan kerusuhan dan kemudian menjalar ke Aljazair, Yordania, Mesir, dan Yaman, kemudian ke negara-negara lain. Unjuk rasa terbesar dan paling terorganisir terjadi pada "hari kemarahan", biasanya hari Jumat setelah salat Jumat.

Unjuk rasa yang berujung revolusi tersebut telah mengakibatkan tergulingnya dua kepala negara, yaitu Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali, dan di Mesir, Presiden Hosni Mubarak mengundurkan diri pada 11 Februari 2011, setelah 18 hari protes massal dan mengakhiri masa kepemimpinannya selama 30 tahun. Dua tahun pasca revousi Mesir tersebut, pada Jumat (16/8/2013), tank-tank tempur kembali digelar di jalan-jalan utama Kairo, ibu kota Mesir, untuk mengantisipasi aksi sejuta pendukung presiden terguling Mohamed Moursi yang disebut "Jumatul Ghadhab" (Jumat kemarahan).

Demo besar-besaran di Tepi Barat Jalur Gaza untuk menentang invasi Israel pada Jumat (25/7/2014) menelan sembilan korban jiwa demonstran. Para demonstran menamakan hari Jumat tersebut sebagai "Jumat Kemarahan". Demonstrasi besar yang baru pertama kalinya pecah di Tepi Barat menjadi pertanda kebangkitan rakyat Palestina untuk melawan pendudukan Israel. Ribuan tentara Israel dikerahkan untuk menghadapi para demonstran Palestina di Baitul Maqdis dalam Jumat Kemarahan tersebut..

Pada 26 September 2016 lalu, Persatuan Ulama Internasional yang berbasis di Doha menyerukan "hari kemarahan" dunia pada hari Jumat (30/9) sebagai bentuk dukungan terhadap kota Suriah utara, Aleppo, yang mengalami serangan intens dari rezim Assad dan pasukan Rusia. Jumat kemarahan itu, yang dikenal dalam revolusi Mesir 2011 lima tahun silam, kini nampaknya menjadi trend di dunia Arab, bahkan menjalar ke Indonesia. Tapi Jumat kemarahan Indonesia sejauh ini berlangsung damai.

Begitulah, tak bisa dipaksakan sama dan sebangun. Bukankah orang tua-tua kita mewariskan peribahasa, "lain padang lain belalang"-nya? Dalam ungkapan lain disebut "lain lubuk, lain ikannya". Orang bule, tak mau kalah bilang, "So many countries, so many customs". Lain negeri lain pula adat resam atau peraturannya. Ada perbedaan budaya antar suku bangsa, agama, ras, kelompok, golongan; adat budaya setiap negara berbeda-beda satu sama lain. Dari awal bangunan kebangsaan kita adalah kebinekaan. Bangsa kita tidak homogen seperti bangsa darimana istilah Jumat Kemarahan itu berasal.

Hari kemarahan Indonesia pasti meninggalkan banyak pesan kendati tak mengubah sejarah, ataukah barangkali secara tak disadari kita hanya menyediakan pangggung untuk aktor politik yang berada di balik layar? Saling bully-membully di medsos bila berlebihan justru akan mendegradasi semangat kebinekaan kita, atau bahkan samar-samar mendegradasi pemahaman keagamaan awam dengan mengait-ngaitkan keikutsertaan dalam unjuk rasa dengan derajat keagamaan seseorang. Polarisasi itu membuat tak nyaman. Agaknya benar nasihat teman dari seberang selat, "Padang perahu di lautan, padang hati di pikiran".

kolom - Riau Pos 7 November 2016
Tulisan ini sudah di baca 869 kali
sejak tanggal 07-11-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat